Bio Farma Berhasil Ciptakan Vaksin Bioflu

May 6, 2011 at 1:56 am (Bandung, Indonesia, Journal, Life & Health, Nusantara, Reportage) (, , , )

Bio Farma Berhasil Ciptakan Vaksin Bioflu

please feel free to click the link below>>

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/05/05/bio-farma-berhasil-ciptakan-vaksin-bioflu

thanks.

salam,

my>k

Advertisements

Permalink Leave a Comment

Bio Farma akan Tempatkan Staf di WHO dan Unicef

May 6, 2011 at 1:44 am (Bandung, Indonesia, Journal, Life & Health, Nusantara, Reportage) (, , , , , )

BANDUNG – Produsen vaksin nasional, PT Bio Farma (Persero) berupaya untuk menempatkan stafnya sebagai perwakilan di WHO dan UNICEF guna meningkatkan koordinasi riset maupun pengembangan vaksin yang dibutuhkan di dunia.

read more>>

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/bio-farma-akan-tempatkan-staf-di-who-dan-unicef/11295

Permalink Leave a Comment

Health Communication : The Combat Againts Cancer Cell / Perang Melawan Sel Kanker

November 9, 2008 at 7:51 pm (Journal) (, , , , , , )

Perang Melawan Sel Kanker

[Efektivitas Hubungan Interpersonal antara Dokter dan Pasien:

– dr. Herry dan Dina Matayas –

sebuah contoh kasus pentingnya Komunikasi Kesehatan]

[SR Maya K Soetoro D.| 2006-2007]

 

Selama setahun, benjolan di leher dengan akupunktur mengempis. Namun muncul lagi lebih banyak pada tahun berikutnya, saat Dina tidak lagi menjalani akupunktur.

 

Dina kemudian berkonsultasi dengan dr. Adi yang lalu menyarankannya untuk menjalani biopsi sehingga bisa segera diperiksa. Untuk menjalaninya, Dina disarankan Adi untuk menghubungi dr. Adjat, kakak kandung Adi yang spesialis bedah oncolog (subspesialisasi kanker).

 

“Apa saya kena kanker, ya?” tanya Dina kepada dr. Adjat saat menemui, usai menyatakan komplain. Menurut Dina, Adjat menjawabnya dengan reaksi rileks.

 

“Nggak. Belum tentu. Setiap orang memang mempunyai peluang untuk terserang kanker. Jadi, Dina tidak perlu khawatir,” tutur Adjat saat itu, “makanya, lebih baik kita melakukan biopsi supaya bisa tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Demikian Dina mencoba menirukan Adjat dalam menanggapi pertanyaannya.

 

Jawaban seperti itu diakui Dina, membuatnya merasa lebih nyaman. Bertambah pula keyakinan dalam dirinya untuk menjalani biopsi. Dina mengaku, semakin cepat ia melaksanakan saran dokter itu maka ia akan semakin tenang karena mengetahui secara pasti kondisi kesehatan tubuhnya. Ia menambahkan, ia tidak ingin membiarkan persoalan itu berlarut-larut.

 

Ketika bertemu dengan dokter, pasien akan memaparkan komplainnya (tanda-tanda) kepada dokter, yang nantinya akan memberikan berbagai informasi tentang tanda-tanda klinis tersebut. Kemudian dokter akan memeriksa, mencatat segala yang ditemukannya pada diri pasien dan memperkirakan berbagai kemungkinan diagnosis. Bersama pasien, dokter akan menyusun perawatan berikutnya atau tes laboratorium berikutnya bila diagnosis belum dapat dipastikan. Bila diagnosis telah disusun, maka dokter akan memberikan (“mengajarkan”) nasihat medis. Relasi pengajaran ini menempatkan dokter sebagai guru (Physician dalam Bahasa Inggris; berasal dari bahasa Latin yang berarti guru) –(situs Ensiklopedia Wiki).

 

Sesuai jadwal yang telah disepakati, Dina pun kemudian menjalani biopsi yakni, operasi pengangkatan benjolan. Nantinya, benjolan yang telah diangkat oleh dr. Adjat itu diperiksa oleh dokter khusus yang menangani analisis hasil biopsi.

 

Biopsi ialah pengambilan se-dikit tisu daripada sesuatu or-gan atau daripada bahagian yang berpenyakit untuk me-ngetahui sebab penyakit (rajah 9.1). Tisu tersebut boleh di-analisis secara kasar dan di-amati di bawah mikroskop un-tuk mendapatkan diagnosis te-pat. Tisu yang diperoleh dari-pada biopsi bukan sahaja dapat mengenal pasti penyebab pe-nyakit tetapi juga dapat mem-beritahu tahap keterukan penyakit, dan membantu dalam merawat sesetengah penyakit. Kelainan dan perubahan pada tisu tersebut dapat memberikan prognosis penyakit (situs Hukm.ukm.my).

 

Berarti, biopsi merupakan pengangkatan jaringan dari suatu organ atau penyakit untuk kemudian dianalisis sehingga diketahui diagnosis suatu kesehatan atau penyakit dalam tubuh pasien.

 

Beberapa hari kemudian, hasil analisis itu Dina ambil sendiri dan diserahkannya kepada Adi. Secara birokrasi kedokteran, hal ini tidak biasa diperbolehkan. Menurut Dina, inisiatifnya ini diperkenankan karena faktor kepercayaan yang terbangun atas dasar pertalian keluarga dimana Adi adalah kakak ipar Dina.

 

“Mungkin karena koneksi jadi diperbolehkan,” tutur Dina saat wawancaranya bersama saya.

 

Hasil analisis biopsi yang telah diambilnya itu kemudian ia serahkan kepada Adi. Surat analisis itu sebenarnya ditujukan kepada Adjat, dokter yang bertindak dalam pengangkatan benjolannya terdahulu. Namun seperti yang telah diuraikan sebelumnya, proses ini menjadi semakin mungkin dilakukan karena faktor pertalian keluarga tersebut. Dengan demikian, proses Dina mengetahui diagnosis kesehatannya pun menjadi lebih cepat.

 

Adi kemudian membuka arsip diagnosis itu dan seketika memberitahukan Dina hasil diagnosis yang hanya bisa dimaknai oleh para dokter itu: positive kanker. Namun demikian, Adi meminta Dina untuk segera menghubungi Adjat yang menanganinya secara langsung tersebut, agar segera mendapatkan kepastian tindak lanjut yang perlu diambil.

 

Pada keesokan harinya, Dina pun menemui Adjat dan berkata, “Saya kena kanker kata dr. Adi,” seraya menyerahkan arsip diagnosis tersebut.

 

Dr. Adjat menerima amplop arsip tersebut dan seraya membuka dan membacanya, ia juga memberikan diagnosis yang sama.

 

Menurut Dina, Adjat tidak menampakkan reaksi yang berlebihan untuk menenangkannya apalagi menakut-nakutinya. Adjat lebih bersikap profesional dengan mengambil sikap menerangkan perihal penyakit kanker secara garis besar.

 

Seperti halnya saat ia menerangkan kepada Dina perihal peluang kanker yang ada pada diri setiap manusia. Ia kemudian mengatakan, penyakit kanker sangat mungkin untuk disembuhkan. Saat itu, Dina merasa dokter tersebut mengajaknya secara bersama-sama menyembuhkannya.

 

Adjat juga menjelaskan, ia bukanlah dokter yang akan bertindak dalam proses pengobatan. Menurutnya, untuk pengobatan, ada dokter khusus yang akan menanganinya. Ia kemudian menyarankan Dina untuk menghubungi dr. Herry yang menurutnya, dokter yang paling tepat untuk Dina.

 

Seusai pertemuan dengan Adjat, Dina pun menemui Adi yang kebetulan membuka praktek di rumah orang tua Dina. Saat bertemu itu, Dina menceritakan hasil pertemuannya dengan Adjat.

 

Adi pun menyarankannya agar menghubungi dr. Herry. Menurut Adi kepada Dina saat itu, dr. Herry adalah dokter yang paling tepat untuk menangani Dina.

 

“Kalau begitu, kamu hubungi dr. Herry saja. Saya yakin, kamu bakal suka sama dia,” tutur Adi seperti yang diimitasikan Dina kepada saya. “dr. Herry cocok buat kamu,” lanjut Adi saat itu.

 

Menurut Dina kepada saya, ia tidak suka bertemu dengan dokter yang bertindak merawatnya yang bersifat dingin dan tertutup. Apalagi apabila ia bertemu dengan dokter yang terlalu cerewet dan banyak aturan sehingga berkesan otoriter.

Ternyata, rekomendasi dari Adjat berujung bukti nyata. Herry, menurut Dina, dokter dengan pribadi dan sikap profesional yang terbuka. Begitu bertemu, Herry langsung menyambutnya dengan hangat dan ramah. Saat itu, Herry sudah mengetahui perihal kedatangan Dina sehingga saat bertemu mereka seperti sudah mengenal satu sama lain.

 

“Selamat Siang, Dok. Saya Dina. Saya disarankan dr. Adjat untuk menemui Anda,” tutur Dina saat menemui Herry.

 

“Oh, ya. Dina. Ya. Saya sudah mendengar dari dr. Adi dan dr. Adjat,” demikian menurut Dina saat Herry menjawabnya. Saat itu menurut Dina, ia sudah mulai merasakan perasaan yang nyaman dan rileks.

 

Setelah mempersilahkan Dina untuk duduk seperti umumnya sikap para dokter terhadap para pasiennya, Herry kemudian membuka percakapan perihal kanker. Ia membukakan sifat penyakit kanker serta dengan cerdas, lincah, dan tenang, mengaitkannya dengan kondisi yang ada dalam tubuh pasiennya, Dina. Menurut pengakuan Dina, Herry secara spontan menggulirkan percakapan itu tanpa perlu menunggu pertanyaan darinya sebagai pasien.

 

Kondisi ini menyiratkan kepada kita, suatu kondisi hubungan interpersonal dengan komunikasi interpersonal lancar, baik, dan dalam kondisi (emosi) positif. Komunikasi antara dokter dan pasien dalam kasus ini terjadi secara spontan. Efektivitas dan efisiensi yang terjadi di dalamnya didukung oleh faktor kedekatan jarak hubungan yakni, latar belakang tali keluarga.

 

Hubungan interpersonal yang baik itu terbantu pula persepsi yang telah tertanam di kepala masing-masing persona. Calon pasien sudah pernah mendengar gambaran sosok sang dokter sebelumnya.

 

Dengan kalimat Adjat dan Adi yang senada sebelumnya, ‘Saya yakin, kamu bakal suka sama dia’ dan ‘dr. Herry cocok buat kamu’, secara psikologis, proses sensasi dan persepsi sudah mengarahkan Dina pada kerangka stimuli yang positif.

 

Pada saat bertemu, kedua proses itu terangkat dalam bentuk memori yang bangkit dan kembali memasuki tahap sensasi dan persepsi. Sedikitnya, persepsi calon pasien terhadap dokter tersebut sudah mempengaruhi cara pandangnya yang positif terhadap sang dokter.

 

Deskripsi verbal termasuk ke dalam faktor situasional yang mempengaruhi persepsi interpersonal. Kalimat berita yang disampaikan Adi itu mempunyai konotasi positif. Dalam teori Asch, terdapat kata-kata dalam kalimat yang merupakan central organizing trait yakni, kata-kata yang mengarahkan seluruh penilaian seseorang tentang seseorang lain. Teori ini melukiskan, bagaimana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang seseorang yang dimaksud (Rahmat, 2000: 83).

 

Selain itu, terdapat pula faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal. Faktor percaya dan sikap terbuka terlihat menonjol kuat di antara para pihak yang terlibat. Kedua faktor ini kemudian juga didukung oleh sikap supportive yang diberikan satu sama lain pihak terutama, dari dokter kepada pasiennya.

 

Seperti halnya Adjat, Herry membuka percakapan perihal kanker dengan ucapan-ucapan yang bersifat menenangkan pasien.

 

“Tidak apa-apa. Setiap orang punya peluang untuk terserang kanker. Ini persoalan apakah dan kapan virus itu aktif atau tidak sama sekali. Sekarang, mari kita obati saja. Tentu saja, selalu ada peluang untuk sembuh, tutur dr. Herry yang ditirukan Dina kepada saya.

 

Kalimat-kalimat yang diutarakan dokter itu dapat diindikasikan termasuk ke dalam respons konfirmasi yang meneguhkan hubungan interpersonal.

 

Secara detil, ucapan ‘Tidak apa-apa. Setiap orang punya peluang untuk terserang kanker. Ini persoalan apakah dan kapan virus itu aktif atau tidak sama sekali’ di atas merupakan bentuk konfirmasi perasaan positif (positive feeling) yakni, pengungkapan perasaan yang positif terhadap kondisi pasien. Dengan pilihan kalimat seperti ini, dokter terhindar dari respons negatif. Misalnya, terhindar dari ucapan yang menyerang pasien seperti, penyakit kanker yang diderita adalah akibat kesalahan pasien.

 

Sementara kalimat selanjutnya, ‘Sekarang, mari kita obati saja. Tentu saja, selalu ada peluang untuk sembuh’, merupakan bentuk konfirmasi respon suportif (supportive response) yakni, ucapan yang mengungkapkan pengertian, dukungan, atau memperkuat pasien dengan mengajaknya secara bersama-sama untuk mengobatinya.

 

Menurut Dina, pembicaraan berlangsung rileks sehingga sama sekali tidak menegangkan. Ia menjelaskan, Herry tidak beraut murung maupun dingin, melainkan cerah, tenang, dan hangat dengan senyuman yang kerap ada di wajahnya.

 

Kemudian, Herry tanpa ditanya terlebih dahulu mulai menerangkan metode penyembuhannya. Ia memaparkan, terdapat dua metode penyembuhan kanker yakni, radiasi dan chemotherapy. Ia menjelaskan secara detil perihal proses pengobatan yang akan dilalui dalam tiap metode yang dipilih, lengkap beserta efek samping yang akan terjadi.

 

Efek samping yang akan dialami dijelaskannya mulai dari efek permulaan (tahap pertama) hingga tahap lanjutan kala proses pengobatan belanjut.

 

Misalnya dalam metode chemotherapy, metode infusisasi cairan obat-obatan kimia ke dalam tubuh pasien.

Kemoterapi (chemotherapy) adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini hampir merujuk secara eksklusif kepada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker. Dalam penggunaaan non-onkologisnya, istilah ini dapat juga menunjuk ke antibiotik (kemoterapi antibakteri) –(situs Ensiklopedia Wiki).

 

Metode ini, dalam tahap awal, berarti mematikan sel-sel tubuh termasuk sel-sel darah merah dan darah putih dalam kapasitas besar. Oleh karenanya, efek yang mula-mula akan dirasakan pasien, menurunnya stamina tubuh dan akan pula disertai muntah-muntah.

 

Selain kondisi internal tubuh, Herry juga menerangkan efek yang akan terjadi secara ekstrem seperti, membuat kulit tampak gosong kehitaman dan kerontokan helai rambut hingga kebotakan. Ia menambahkan, ini efek-efek yang sangat mungkin terjadi mengingat cairan kimia yang diinfusisasikan (disuntikkan lewat selang) itu berkerja dengan cara membakar sel-sel tubuh tersebut.

 

Selain efek tersebut, pasien juga akan merasakan tubuh terbakar secara internal. Misalnya, ketika suhu tubuh dan temperatur suhu udara di luar tubuh tidak panas atau dalam keadaan normal, pasien chemotherapy berkemungkinan gerah, merasa suhu udara lebih panas dari keadaaan normal.

 

Bagi Dina, keterbukaan dokter seperti itu sangat berarti dan berharga untuknya dalam mempersiapkan mental sebelum menjalani proses penyembuhan kanker lewat chemotherapy.

 

Meskipun disodori dua pilihan metode penyembuhan, Dina memilih agar Herry menyarankan kepadanya metode terbaik yang harus dijalaninya.

 

Sesuai diagnosis kanker yang telah menyebar di seluruh kelenjar getah bening di tubuhnya, Herry pun menyarankan metode chemotherapy. Menurutnya, inilah metode yang paling efekttif dan efisien untuk menyembuhkannya. Herry menjelaskan, metode ini lebih tepat karena obat langsung disebarkan di dalam tubuh. Sementara metode radiasi dikhawatirkan tidak mampu menyebar merata di dalam tubuh karena hanya dilakukan semacam penyinaran pada bagian luar tubuh.

 

Seperti halnya dalam konteks komunikasi interpersonal, keterbukaan menjadi sikap yang sangat penting untuk dilakukan, selain percaya (trust) dan sikap suportif.

 

Walaupun, pada kenyataan kasus ini, pasien memilih agar dokter yang menentukan keputusan terbaik untuk kondisi kesehatannya. Pilihan yang disodorkan dokter ini mengindikasikan, dokter tersebut telah memenuhi fungsi memberikan pilihan kepada pasien sebelum pasien nantinya dipersilahkan untuk membuat keputusannya sendiri.

 

Deklarasi Hak-hak Pasien dari World Medical Association (WMA) menyatakan: Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri.

 

Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk menolak perawatan, walaupun penolakan tersebut dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.

 

Bukti adanya ijin dapat eksplisit atau emplisit. Ijin eksplisit diberikan secara lisan atau tertulis. Ijin implisit jika pasien mengindikasikan kemauannya untuk menjalani prosedur atau tindakan tertentu melalui perilakunya. Contohnya ijin untuk venipuncture (suntikan pada pembuluh vena) secara implisit diberikan melalui tindakan memberikan lengannya.

 

Untuk tindakan yang dapat menimbulkan resiko atau melibatkan ketidaknyamanan yang tidak ringan, lebih baik mendapat ijin eksplisit bukan ijin implisit.

 

Ada dua perkecualian syarat untuk mendapatkan ijin berdasarkan pemahaman oleh pasien yang kompeten yakni, keadaan dimana pasien memberikan secara sukarela hak pengambilan keputusan kepada dokter atau pihak ketiga dan keadaan dimana penyampaian informasi kepada pasien dapat menyakiti pasien.

 

Keadaan yang disebutkan pertama bisa terjadi karena kompleksitas masalah atau karena pasien percaya sepenuhnya kepada penilaian dokter. Pasien dapat saja mengatakan ”Lakukan apa yang menurut anda yang terbaik”.

 

Dokter tidak boleh terlalu berani bertindak karena mendapat permintaan seperti itu, namun harus tetap memberi pasien informasi dasar mengenai pilihan tindakan yang ada dan tetap menyemangati pasien untuk mengambil keputusan sendiri. Namun setelah diberitahu dan didorong pasien tetap menyerahkan keputusan kepada dokter, dokter harus bertindak berdasarkan kepentingan terbaik pasien.

 

Inilah yang terjadi dalam awal hubungan interpersonal dalam sampel kasus ini.

 

Dina menggunakan hak pasien untuk memperoleh informasi dari dokter dengan banyak bertanya. Kali ini, ia bertanya, “Kalau saran Dokter, pengobatan yang mana yang terbaik untuk saya?”

 

Dokter menjawab alternatif kedua yakni, chemotherapy seraya mengemukakan lebih detil alasannya.

 

Menurut pasien dalam wawancaranya dengan saya, ia memilih menyetujui dan mengikuti saran dokter karena ia sudah merasa percaya dan cocok dengan dokter yang akan merawatnya itu.

 

Kemudian dokter menjelaskan ulang semua diagnosis dan metode chemotherapy beserta efek-efeknya kepada pasien. Ia kembali menanyakan pilihan dan keputusan pasien. Dina kembali menjawab lebih mantap. “Ya. Saya pilih ikut kata dokter. Saya pikir juga, chemoteraphy lebih tepat, Dok,” tuturnya saat berbagi pengalamannya kepada saya seraya mengekspresikan keyakinan pada wajahnya.

 

Dina memberikan hak pengambilan keputusan secara sukarela kepada Herry mengenai pemilihan metode pengobatannya.

 

Setelah melewati proses itu, Dina masih sempat untuk mempertimbangkan pengobatan di luar negeri, Prancis. Dina yang berkerja di lembaga kebudayaan di bawah konsulat Prancis ini juga memiliki koneksi dengan seorang dokter spesialis kanker asal Prancis yang tak lain ayah dari kawan baiknya di sana.

 

Dibantu Herry, komunikasi perihal penyakit dan hasil diagnosisnya dilakukan bersama dokter di Prancis. Hasil pemeriksaan di Indonesia termasuk hasil biopsi dikirimkan ke Prancis lewat Herry. Kurang dari seminggu kemudian, jawaban dari Prancis diterima Herry.

 

Rupanya, isi diagnosis termasuk jenis obat-obatan yang akan diberikan di Prancis untuk proses chemotherapy Dina di Prancis sama dengan yang akan diperolehnya di Indonesia. Dengan ditambah juga pertimbangan kedekatan jarak (proximity) dengan keluarga, Dina akhirnya memilih menjalani pengobatan di Indonesia.

 

Setelah itu, Herry juga dengan terbuka mempersilahkan Dina untuk memutuskan sendiri pilihan waktu yang tertepat dan terbaik bagi Dina untuk memulai proses chemoptherapy. Menurut Dina, beruntunglah ia telah memperolah gambaran proses yang akan ia hadapi sehingga Dina sudah dapat memprediksikan lemahnya kondisi fisiknya nanti.

 

Dengan kerangka pengetahuan yang telah ia dapatkan dari Herry itulah, Dina yakin, ia tidak mungkin dapat menjalani pengobatan sambil tetap berkerja, selayaknya rawat jalan untuk penyakit lain. Berangkat dari perenungan ini, Dina kemudian mulai mengatur waktu dan jadwalnya.

 

Saat itu, kebetulan menjelang akhir tahun, kala program-program acara dan kegiatan budaya di kantor ia berkerja tersebut sudah segera berakhir untuk tahun itu. Untuk itu, Dina memutuskan, ia akan merampungkan sisa-sisa pekerjaannya di penghujung tahun itu sebelum nantinya meninggalkan pekerjaannya selama kira-kira enam bulan hingga setahun pengobatan. Selang kira-kira sebulan dari keputusannya untuk menjalani chemotherapy di Indonesia, Dina lalu memutuskan memulai proses pengobatannya pada Desember 2003.

 

Sebelum memulai chemotherapy, Dina diharuskan menjalani general medical check-up. Hasilnya sangat menentukan kadar kimia yang akan disuntikkan serta periode dan jumlah pelaksanaannya. Menurut informasi dokter, Dina mengatakan, tinggi dan berat badannya sangat menentukan kadar kimia yang akan diberikan dalam terapinya. Dalam kasus Dina, chemotherapy dilaksanakan setiap dua minggu sekali.

 

Orang menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kemabali. Proses pengolahan informasi dalam konteks komunikasi disebut komunikasi intrapersonal.

 

Dalam mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru (creativity), berpikir dilakukan untuk memahami realitas. Memahami realitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari realitas eksternal dan internal.

 

Anita Taylor seperti yang dikutip Rakhmat menyebutkan, thinking is an inferring process (berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan).

 

Menurut Rakhmat, dalam pengambilan keputusan selalu melibatkan proses berpikir. Sementara keputusan yang diambil akan mempengaruhi keputusan-keputusan berikutnya (hal. 70).

 

Karena keputusan merupakan hasil berpikir, maka keputusan merupakan hasil intelektual. Dalam menetapkannya, selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif. Meskipun pelaksanaannya boleh ditangguhkan, keputusan selalu melibatkan tindakan nyata.

 

Dalam sampel kasus ini, pengambilan keputusan untuk persetujuan pelaksanaan terapi pasien diserahkan dokter kepada pasien. Artinya, dokter memberi kuasa penuh kepada pasien untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Namun sebelum memasuki tahap ini, dokter telah terlebih dahulu memenuhi fungsi ekspektasi dan tuntutan peranannya yakni, memberikan informasi yang dibutuhkan pasien untuk bahan pemikiran pasien membuat keputusan.

 

Dalam Kode Etik Kedokteran Internasional ditegaskan: Dokter harus memberikan kepada pasiennya loyalitas penuh dan seluruh pengetahuan yang dimilikinya.

 

Seperti halnya pula yang termaktub dalam Panduan Etika Medis (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta:Bab Dokter dan Pasien): Persetujuan yang berdasarkan pengetahuan merupakan salah satu konsep inti etika kedokteran saat ini. Hak pasien untuk mengambil keputusan mengenai perawatan kesehatan mereka telah diabadikan dalam aturan hukum dan etika di seluruh dunia.

 

Deklarasi Hak-hak Pasien dari World Medical Association (WMA) menyatakan: Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri. Dokter harus memberi tahu pasien konsekuensi dari keputusan yang diambil. Pasien dewasa yang sehat mentalnya memiliki hak untuk memberi izin atau tidak memberi izin terhadap prosedur diagnosis maupun terapi. Pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusannya. Pasien harus paham dengan jelas apa tujuan dari suatu tes atau pengobatan, hasil apa yang akan diperoleh, dan apa dampaknya jika menunda keputusan. Kondisi yang diperlukan agar tercapai persetujuan yang benar adalah komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien.

 

Dalam Panduan Etika Medis secara khusus juga ditegaskan persoalan ‘komunikasi dan persetujuan’ antara dokter dan pasien. Tertulis: Saat ini komunikasi memerlukan sesuatu yang lebih dari dokter karena dokter harus memberikan semua informasi yang diperlukan pasien dalam pengambilan keputusan. Ini termasuk menerangkan diagnosis medis, prognosis, dan regimen terapi yang kompleks dengan bahasa sederhana agar pasien paham mengenai pilihan-pilihan terapi yang ada, termasuk keuntungan dan kerugian dari masing-masing terapi, menjawab semua pertanyaan yang mungkin diajukan, serta memahami apapun keputusan pasien serta alasannya. Keterampilan komunikasi yang baik tidak dimiliki begitu saja namun harus dibangun dan dijaga dengan usaha yang disadari penuh dan di-review secara periodik.

 

Jika dokter berhasil mengkomunikasikan semua informasi yang diperlukan oleh pasien dan jika pasien tersebut ingin mengetahui diagnosis, prognosis, dan pilihan terapi yang dijalani, maka kemudian pasien akan berada dalam posisi dapat membuat keputusan berdasarkan pemahamannya tentang bagaimana menindaklanjutinya.

 

Dengan demikian, semakin tegaslah pentingnya komunikasi yang berlangsung dengan baik antara dokter dan pasien karena akan mempengaruhi kondisi pasien. Mulai dari perolehan informasi untuk pemahaman (kerangka kognitif) hingga pengambilan sikap dan keputusan (desicion making) oleh pasien.

 

Ilmu komunikasi menjadi salah satu ilmu sosial yang penting dikuasai oleh paramedik, selain misalnya, ilmu psikologi dan/ atau hibrida kedua cabang ilmu tersebut: psikologi komunikasi.

 

Institut of Medicine (IOM), sebuah institusi di dalam National Academie of Science, mendesak pemerintah federal AS untuk memasukkan mata-mata kuliah ilmu sosial dan ilmu perilaku dalam pendidikan kedokteran. Alasan mereka, dokter zaman sekarang harus mampu memeriksa pasiennya dari kacamata ilmu-ilmu tersebut yang dipandang sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Enam hal yang perlu diutamakan dalam pendidikan non-medis bagi para dokter: Pengaruh hubungan badan-jiwa terhadap kesehatan dan penyakit; Perilaku pasien; Peran dan perilaku dokter; Hubungan dokter-pasien; Masalah-masalah sosial dan budaya dalam pelayanan dan kesehatan; Kebijakan dan ekonomi kesehatan (Himpsijaya.org: Medan, 27/09/04).

 

Pada akhirnya………, hubungan dokter dan pasien dalam sudut pandang ilmu komunikasi dapat dikategorikan dalam hubungan interpersonal. Dalam konteks psikologi komunikasi, dokter dan pasien sesungguhnya sedang menjalani fungsi peran masing-masing dalam suatu skenario yang sudah menjadi konvensi suatu masyarakat. Oleh karena itu, hubungan dokter dan pasien dapat dikategorikan dalam Model Peranan.

 

Dalam Model Peranan (Rahmat.Psikologi Komunikasi.2000:122), setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan ‘naskah’ yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspektasi peranan (role expectation) dan tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan peranan (role skill), dan terhindari konflik peranan dan kerancuan peranan.

 

Ekspektasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok.

 

Tuntutan peranan adalah desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya. Desakan sosial dapat berwujud sebagai sanksi sosial dan dikenakan bila individu menyimpang dari peranannya.

Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu; kadang-kadang disebut juga kompetensi sosial (social competence). Di sini sering dibedakan antara keterampilan kognitif dan ketrampilan tindakan.

 

Keterampilan kognitif menunjukkan kemampuan individu untuk mempersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya-ekspektasi peranan. Keterampilan tindakan menunjukkan kemampuan melaksanakan peranan sesuai dengan harapan-harapan ini. Dalam kerangka kompetensi sosial, keterampilan peranan juga tampak pada kemampuan ‘menangkap’ umpan balik dari orang lain sehingga dapat menyesuaikan pelaksanaan peranan sesuai dengan harapan orang lain. Hubungan interpersonal amat bergantung pada kompetensi sosial ini.

 

Dalam situs ensiklopedia wiki disebutkan, pusat dari praktek kedokteran adalah hubungan relasi antara pasien dan dokter yang dibangun ketika seseorang mencari dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang dideritanya.

 

Ditegaskan pula, kualitas relasi pasien dan dokter sangat penting bagi kedua pihak. Saling menghormati, kepercayaan, pertukaran pendapat mengenai penyakit dan kehidupan, ketersediaan waktu yang cukup, mempertajam ketepatan diagnosis, memperkaya wawasan pasien tentang penyakit yang dideritanya dan hak otonomi pasien merupakan sikap dan kondisi yang menentukan hubungan bernilai positif di antara kedua belah pihak. Bahkan tidak hanya relasi dokter dan pasien, namun juga dengan sesama pasien dan antarparamedik di suatu lingkungan profesi tersebut seperti perawat dan para pekerja lembaga sosial.

 

Sikap dan kondisi tersebut dalam sudut pandang sistem komunikasi interpersonal dapat diketegorikan ke dalam role expectation dan role demands dari Model Peranan.

 

Menurut sumber yang sama, kecakapan klinis merupakan hal selanjutnya. Kecakapan klinis berarti sebuah evaluasi medis yang lengkap terdiri dari sebuah riwayat kesehatan yang mencakup komplain utama pasien; riwayat kronologis tanda-tanda dan klasifikasinya; aktivitas pasien saat ini termasuk hobi; riwayat pengobatan pasien; riwayat kesehatan pasien sebelumnya; tinjauan sistem tubuh pasien menurut pasien; sejarah sosial termasuk status perkawinan dan kebiasaan (habit); dan sejarah keluarga terutama yang berkaitan dengan penyakit genetik.

 

Selain riwayat kesehatan adalah pemeriksaan fisik dimana dokter berusaha mencari tanda yang dapat mendukung proses pembuatan diagnosisnya. Kecakapan klinis juga berarti menjalankan evaluasi hasil laboratorium atau citra medis, analisis data dan penentuan diagnosis, serta perencanaan perawatan atau pengobatan.

Fungsi-fungsi tersebut dalam sudut pandang sistem komunikasi interpersonal dapat dikategorikan ke dalam keterampilan peranan (role skill) dari Model Peranan.

 

Pada November 2004, Dina menuntaskan terapinya. Ia bahkan mendapatkan potongan satu kali chemotherapy karena menurut Herry, virus dan sel kankernya telah berhasil dimatikan.

 

Hingga kini, Dina telah sembuh total. Dengan konsep diri positif yang selama ini ia akui menjadi bagian dari sifatnya, ia berhasil melampaui masa terapi dan krisis dalam perjuangannya melawan kanker.

 

Bagi Dina, kesembuhan seseorang dalam melawan kanker, terletak pada kedua belah pihak. Baik dokter maupun pasien.

 

Herry, ia akui adalah dokter yang sangat baik, sabar, penuh pengertian, dan penuh penyemangat. Sifat dan karakter dokter itu lalu ia tambahkan dengan kekuatan dan semangat untuk sembuh yang ia pacu dalam dirinya sendiri. Semua hal itu, baginya, menjadi bentuk kerjasama di antara keduanya, laiknya sebuah tim.

 

Seperti ungkapan semangat dari Herry kepada Dina ketika waktu untuk memulai terapi sudah disepakati. Dengan bersemangat Herry berkata, “Saya yakin! Dina pasti akan sembuh. Dina orang yang sangat yakin, percaya diri, dan optimis. Itu bagus. Kita akan berkerjasama, Dina. Kita adalah tim!”****

Permalink Leave a Comment