Kings of Convenience Liputan Konser (4) : Limited Press Conference in a Lunch with KOC

September 24, 2008 at 3:21 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , )

Hari II

Senin, 20 Maret 2006

Ranca Bentang. Sebuah rumah di sisi kiri Hotel Malya.

Acara Makan Siang bersama K.O.C. Acara makan siang (ramah tamah) yang dihadiri oleh kalangan sangat terbatas. Kalangan panitia yakni dari FFWD dan teman-teman terdekat mereka.

Pers yang diundang hanya dari STV dan Radio Oz. Namun ternyata hadir pula dari media Ripple Magazine. Sebuah media yang baik secara saham maupun redaksi masih dikelola oleh lingkungan yang sama.

**

Sebelum menghadiri acara makan siang, Eirik dan Erlend menyempatkan diri berjalan-jalan. Berputar-putar di kota Bandung. Ditemani oleh panitia bersangkutan. Erlend dikabarkan sangat gila dan menikmati perjalanan itu.

**

Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan KOC tiba juga di rumah itu. Mereka sudah menyelesaikan proses check out-nya. Kami yang sudah menanti di beranda belakang, bersamanya saling menyapa.

Erlend datang lebih dahulu. Sementara Eirik bersama manajernya, menyusulnya dari arah masuk yang berbeda.

Erlend kemudian diberi sekantong bingkisan. Isinya tak lain adalah t-shirt distro Monik. Distro yang dikelola masih oleh lingkungan yang sama. Ia asyik melihat-lihat.

Eirik seperti biasa, senyam-senyum melihat temannya membuka-buka kado itu. Suasananya begitu santai. Yang lain tampak mengobrol satu sama lain. Justru tiba-tiba, Eirik sudah berada di samping saya. Saat itu, ia mengobrol dengan Erlend dan juga manajernya.

Tiba-tiba Eirik terkesan dengan bunyi mendengung yang terdengar olehnya di rumah itu. Dari arah lembah yang berdampingan dengan tempat kami. Suara hewan itu berdengung nyaring sepanjang waktu. Eirik kemudian menanyakan suara apakah itu. Setelah diberi tahu bahwa itu suara riang. Hewan sejenis serangga. Kecil. Hampir seperti lebah. Barulah ia tersenyum lebar. Kedua lesung pipitnya muncul bersamaan. Semalam ia pikir, itu suara mesin.

Last night, I thought it was a sound of machine,” (Semalam, saya pikir itu suara mesin) ujarnya. Ia telah mendengarnya semalaman saat menginap di Hotel Malya, Bandung.

Tak lama kemudian, Eirik dan saya sudah mulai membuka percakapan.

Eirik mengatakan bahwa ia senang bisa berputar-putar di kota Bandung. Ia terkagum-kagum dengan begitu banyaknya pohon di Kota Bandung. Terutama warna hijaunya yang menurutnya aneh. Tak seperti warna hijau yang biasa ia lihat. Unik.

In Bandung, there’s so much trees. And the green colour of the leaves of the trees is so strange. So different. It is unusual green. I like it. It’s a green kind that I’m not use to see,” (Di Bandung, ada begitu banyak pohon. Dan warna hijau daunnya begitu aneh. Begitu berbeda. Bukan hijau yang biasanya. Saya suka. Bukan jenis hijau yang biasa saya lihat) ujar Eirik berkomentar.

Eirik juga berpendapat bahwa tidak ada banyak dan tidak ada cukup luas trotoar di Bandung. Sehingga tidak bisa dengan berjalan-jalan untuk melihat kota. Melainkan dengan berkendara.

There is not enough trotoar in Bandung. We can not walking around. But we driving around,” (Di Bandung, tidak ada banyak dan cukup luas trotoar. Jadi tidak mungkin berjalan-jalan kaki. Kami harus berkendara) ujarnya.

Namun, sungguh amat disayangkan. Obrolan yang mulai terbangun manis itu harus dipotong dahulu. Makan siang telah siap. Teman-teman mulai turut mempersilahkan saya ikut serta.

Saat makan siang, posisi saya tidak menguntungkan. Yang berkumpul sangat banyak. Di meja makan duduk duo favorit itu. Namun, kursi lainnya sudah pula cukup terisi. Akhirnya saya harus sedikit bersabar untuk bisa bergabung lebih dekat dengan keduanya itu.

Akhirnya, selepas mengambil air mineral, saya mulai bergabung di meja makan yang sudah agak kosong.

Rupanya, Eirik dan Erlend sedang terheran-heran dengan begitu banyaknya anak-anak yang tidur dan mengamen di jalanan. Begitu banyak gelandangan. Pemandangan yang mengherankan. Setelah dijelaskan kondisi umum dan penyebabnya antara lain kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi, mereka sangat menunjukkan simpatinya.

Siang yang begitu cerah lagi sejuk. Namun, sayangnya, kembali obrolan kami harus terputus. Karena keduanya harus melakukan wawancara dengan pihak lain.

Saya mulai memasang telinga baik-baik. Namun obrolannya memang tidak seserius itu. Mereka lebih banyak bercanda. Terutama Erlend.

Beberapa hal dapat disarikan dari obrolan itu. KOC mengaku lebih senang tampil di Indonesia (Jakarta dan Bandung) dibandingkan Singapura. Karena penonton di Singapura terlalu sopan (kalem). Tidak seperti di Indonesia, semua ikut menyanyi dan menari.

In Singapore, they are too polite. Just sit and clapping. But in Indonesia, everyone knows the songs and sing togother, too. That’s great,” (Di Singapura, mereka terlalu kalem. Haya duduk dan bertepuk tangan. Tapi di Indonesia, semuanya tahu lagu-lagu kami. Menyanyi bersama pula. Ini hebat) tutur Eirik.

Mereka juga mengaku tidak khawatir dengan berita isu-isu teroris di Indonesia. “Sometimes. So many strange things. It’s so many in news,” (Kadangkala, ada banyak hal aneh. Begitu banyak yang demikian di berita) ujar Eirik.

Mengapa dan apa yang paling berkesan tampil di Indonesia juga menjadi pertanyaan. Erlend dengan nada bercanda menjawab, “Because we want to. Because everyone sings together. And we paid.” (Karena kami mau. Karena semuanya menyanyi bersama. Dan kami dibayar pula). Langsung disambung tawa mereka yang hadir.

Alasan kebiasaan mereka berdua di atas panggung untuk berdiskusi pun dibawa gurau. “Sometimes, I want to go the toilet, you know,”(Terkadang saya ingin ke toilet) jawab Erlend cuek. Belum lagi reda tawa yang hadir di situ. Ia pun menambahkan, “Well, or it is also could be what song next is.” (Atau bisa juga menanyakan, lagu apa yang akan dibawakan)

Paling tidak ini menjelaskan mereka yang bertanya-tanya. Penampilan mereka berdua di atas panggung memang lebih dari kompak. Ada yang menduga homo. Tapi barangkali yang lebih tepat: Satu Hati.

Ketika dua orang sudah satu, pastinya akan saling memikirkan satu sama lain. Berunding adalah salah satu cirinya. Keterpautan batin dan sinergitas energi yang kuat. Kedua hal itu sangat dominan menggambarkan penampilan Kings of Convenience di Bandung malam itu.

Cayman Island. Eirik mengakui dengan raut wajah memerah dan tetap dengan senyum simpulnya. “It was a story about a trip with my girl friend,” (Ini cerita tentang kekasih saya dulu) tutur Eirik. “It was my first song,” (Ini lagu pertama saya) tambahnya.

It was my second first song,” (Ini lagu awal saya yang kedua) ujar Erlend. Lagi-lagi Erlend mengundang gelak tawa. Sementara Eirik hanya menoleh kepada Erlend. Tanpa berkomentar apapun.

Well, I make the guitar, you know?” (Yaa.., saya yang membuat ragam gitarnya) tutur Erlend lagi.

Kesimpulannya, obrolan untuk TV swasta lokal Bandung itu benar-benar penuh canda dan ledekan. Cukup bagus untuk menimbulkan kesan santai dan akrab bagi sang artis apabila disaksikan pemirsanya.

*

Ia sesungguhnya tampak sudah bosan dengan sekian pertanyaan, wawancara, dan foto-fotoan yang dilakukan di rumah itu. Kabarnya, Erlend agak sulit ditemui media. Ia juga kerap disebut pundungan –dalam Bahasa Sunda. Artinya, gampang ngambek.

Erlend tampak mulai menghindari beranda belakang, tempat semua orang berkumpul. Ia masuk dan mengambil segelas air minum. Saat ia mengamati kebun belakang di sisi berlawanan dengan beranda sebelumnya, saya mulai menghampirinya.

Meskipun ada sedikit ragu, saya juga yakin untuk mendekatinya. Perlahan saya menyapanya. Kemudian, saya biarkan ia mengetahui bahwa maksud saya juga masih seputar wawancara dan media.

Raut mukanya kemudian kembali kaget. Barangkali ia berpikir, seperti tiada kesudahannya. Namun, alangkah tidak disangkanya ia justru mengajak saya untuk berbincang sambil melihat-lihat kebun belakang.

Kami berdua kemudian menyusuri jalan setapak menurun. Disana kami bisa melihat pepohonan yang lebih rimbun. Ada makam keluarga yang dikagumi Erlend. Lalu semak pohon bambu yang sangat hijau batang-batangnya. Yang ia tak pernah lihat sebelumnya.

I like this. This bamboo. This is great. I never see this,” (Saya suka ini. Bambu ini. Ini hebat. Saya tak pernah lihat ini) ujarnya.

**

Erlend tidak dapat menyebutkan secara pasti. Sebuah nama atau genre tertentu untuk jenis musik yang diciptakannya. Ia berharap, seandainya saja ia bisa menemukan nama yang baik untuk itu. Nama yang cocok.

Bagi Erlend, sejak kecil, menyanyi dan mencipta lagu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh telah ia idam-idamkan. Namun ia tidak pernah berkata, ia berharap akan menjadi sesuatu atau seseorang tertentu.

Akan tetapi, yang sebetul-betulnya ia ingin lakukan adalah memiliki pekerjaan yang bisa sangat ia nikmati dalam melakukannya. Sesuatu pekerjaan yang menyenangkan.

Tampaknya ia membiarkan segala sesuatunya mengalir secara alami. Termasuk dalam prosesnya. Dalam perjalanannya mencapai semua ini.

Sebelum berumur 16 tahun, saya belum benar-benar memainkan instrumen. Saya tidak pernah belajar. Begitulah. Saya tidak pernah belajar musik. Saya bermain dengan kawan-kawan. Kami belajar satu sama lain. Seperti sedikit-sedikit begini. Sedikit-sedikit begitu. Akhirnya.., demikian,” tuturnya.

Dalam mengatasi dan melewati masa-masa sulit , Erlend memiliki pendapatnya sendiri.

Poin yang sangat utama dalam mencipta lagu adalah bahwa kamu membuat lagu tentang sesuatu di masa yang sulit,” katanya.

Tentang sesuatu yang sedih, misalnya. Adalah hal yang sangat mengagumkan kalau kamu bisa memutar sesuatu yang sedih menjadi sesuatu yang indah,” lanjutnya.

Itulah alasan utama dalam membuat lagu,” tegasnya.

Kemudian, ia berbagi sedikit ilustrasi pengalaman psikologis yang dialaminya. Seperti dalam konsernya di Bandung.

Contohnya, saya mengalami sesuatu yang sedih pada Februari 2000. Lalu, di tahun 2006, saya memainkan lagu itu di Bandung,” tuturnya mulai berkisah.

Dan semua orang tahu lagunya. Dan semuanya bernyanyi bersama sepanjang waktu itu. Dan kamu bisa kembali ke masa yang kamu tuliskan itu,” ungkapnya dengan sedikit terbata-bata. Serius dalam mengungkapkan pikirannya. Ada kehati-hatian di dalamnya.

Dan rasanya.., hal itu membuatmu merasa begitu optimis. Ini berarti, kamu bisa mengatur pikiranmu dan itu berlipatganda,” ujarnya yakin. Ada keteduhan dalam sorot matanya.

Erlend diam-diam menyimpan memori dalam tentang ibunya. Baginya, ibunya yang paling mendukungnya. Ialah yang membantunya melewati masa-masa sulit.

Ibuku. Ya, orang yang saya pernah ceritakan, seorang pelukis. Ialah seseorang yang selalu mendukung saya,” tuturnya. Kali ini nada bicaranya melembut.

Banyak orang.., saya pikir.., setiap orang bertemu dengan banyak pergolakan saat mereka ingin menjadi sesuatu. Ibuku, ia telah mendukungku semampu yang ia bisa,” ujarnya kembali hati-hati.

Setelah beberapa detik berpikir atas pertanyaan terakhir saya. Menutup obrolan, Erlend pun menjawab dengan nada pasti. Erlend punya pesan kepada seluruh dunia, tentang makna seorang ibu.

Bagi saya, ibu adalah seseorang yang membuatmu merasa lebih aman. Saya rasa, ialah orang yang paling bisa kamu percaya.”

TAMAT

**

salam,.

my>k

Advertisements

Permalink Leave a Comment

Kings of Convenience Liputan Konser [Reportage for GATRA magz] Dua Hari bersama Eirik Boe & Erlend Oye, Dua Hari Berbagi Riang & Haru

September 24, 2008 at 2:51 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , , , , , , , , )

Dua Hari bersama Eirik Boe & Erlend Oye,

Dua Hari Berbagi Riang & Haru

Pertunjukannya di Bandung, begitu dikagumi. Kings of Convenience bertahta di hati para pengagum. Ialah Eirik,pengagum alam, dan Erlend, pengagum figur ibu.

Pesta bagi Fanatik Duo Raja: Kings of Convenience

Menjelang pukul 6 sore, antrian calon penonton begitu panjang. Akan tetapi, mereka tidak bisa mudah memasuki area. Para penjaga melakukan penjagaan ketat. Memeriksa barang bawaan termasuk peraturan yang meresahkan audiens. Tidak boleh membawa kamera.

Para calon penonton terlihat resah. Gusar. “Kok lama banget, sih?” Begitu kira-kira keluhan Anne (23) di tengah antrian.

Alhasil, Cherry Bombshell, band pembuka I, tampil satu jam setelah jadwal berlaku. Seharusnya jam 18.00 menjadi jam 19.00 WIB.

Tak kurang dari 7 lagu dibawakan band bervokalis mungil ini. Termasuk nomor andalan Langkah Peri yang mendapat sambutan meriah.

Sekitar 45 menit berlalu, layar kembali tertutup. Audiens kembali dibuat menunggu.

Di sela-sela itu, sebuah pengumuman terdengar. Meminta audiens untuk berdiri pada saat band selanjutnya tampil. Agar suasana lebih hidup. Namun audiens tidak menanggapi selain tak bergerak. Satu dua sahutan menolak terdengar.

Akhirnya, setelah 15 menit lamanya tidak ada perkembangan, layar kembali dibuka. Kali ini, giliran Pure Saturday, band pembuka II.

Setengah jam lamanya, band ini tak pernah berubah mengesankan penggemarnya karena permainan akustiknya yang kental. Nomor lawas seperti Kosong selalu menggairahkan penonton. Tak ketinggalan Silence yang muncul sebagai tembang penutup.

Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 20.30 WIB. Beberapa penonton tampak keluar sejenak untuk sekedar menghisap rokok atau ke kamar kecil. Maklum, di dalam gedung, panitia memberlakukan larangan merokok.

Meskipun harus menanti tak kurang dari setengah jam, penonton tidak rewel. Mereka tetap duduk tenang di tempat masing-masing.

Sementara malam itu, gedung memang sangat padat. Para penonton betul-betul berhimpitan satu sama lain. Tak satupun berdiri. Tentu saja. Kalau berdiri, pastilah akan mengganggu pemandangan yang di belakangnya.

Seperti inilah karakter penonton di Bandung. Paling tidak, dalam acara-acara musik indie seperti ini.

Sejak musik pembuka disuguhkan, audiens tetap tenang duduk. Tidak pada setiap nomor lagu usai dimainkan mereka bertepuktangan meriah. Seperti pada saat kedua band pembuka tersebut tampil. Tidak sedikit audiens terkadang tidak bertepuktangan sama sekali. Ada anggapan, audiens di Bandung adalah penikmat dan pemerhati sejati. Mereka bertepuktangan bila menginginkan. Bukan sekadar formalitas.

Tentu saja sangat berbeda dengan yang terjadi pada giliran Kings of Convenience (KOC). Setiap nomor lagu diberi sambutan hebat. Sebagian besar nomor lagu turut dinyanyikan bersama. Iring-iringan histeria audiens benar-benar mewakili sambutan mereka terhadap penampilan duo ini.

Penampilan Kings of Convenience

Demikianlah tatkala waktu mulai beranjak menuju 21.00 WIB. Layar kembali dibuka. KOC memasuki panggung. Eirik Glambek Bøe (30) disusul Erlend Øye (30). Disambut sangat meriah penonton. Senyum menghiasi kedua wajah mereka. Keduanya langsung meraih gitar akustik masing-masing.

Tanpa basa-basi, duo ini langsung memasuki persembahan pertama mereka. Serentak audiens mengatupkan mulut mereka rapat-rapat. Mulai menyimak penampilan yang sudah dinanti-nantikan.

Nomor pertama untuk malam itu adalah Until You Understand. Single dari single CD yang bertajuk Playing Live in a Room (2000). Audiens masih begitu kalem menyimak idolanya sungguh-sungguh tampil langsung di depan mata. Begitu seterusnya hingga nomor ke-2, Love Is No Big Truth. Yang sebelumnya diselingi tepukan tangan meriah.

Seusainya, terdengar sapaan yang tak terduga. “Kumaha damang?” sapa Eirik. Seraya tersenyum, ia sempat melempar arah pandangnya ke bawah. Teriakan, tepukan tangan, dan siulan muncul menjawabnya. Duo itupun saling melempar pandang. Kedua lesung pipit Eirik masih mengapit senyumannya.

How do you say ‘Yes’?” (Bagaimana untuk bilang ‘Yes’?), lanjut Eirik. Audiens kompak menjawab, “Ya!”

Dicoba ikuti Eirik. Tentu saja dengan aksen british (keinggrisan). Masih disambut meriah penonton.

Melengkapi Eirik, Erlend menanyakan antonimnya. And how do you say ‘No’?” (Dan bagaimana untuk bilang ‘No’?). Jawabannya sudah pasti ‘tidak’. Kali ini, suara audiens tidak terdengar serempak. Setelahnya, Eirik justru mengartikannya lain. Ne.., ujar Eirik.

Terdengar tidak menyerupai sama sekali. Tidak seperti antonimnya. Bahkan diulanginya beberapa kali. Barangkali karena pengucapan penonton tidak terdengar jelas. Terdengar tawa sedikit-sedikit. Barangkali keduanya sama-sama tidak mengerti.

Erlend justru mengucapkan kata lain. Kali ini agak aneh di telinga audiens. Mereka menunggu beberapa saat setelah Erlend mengulanginya. Ciaa.., ujar Erlend. Kurang lebih seperti itulah apabila dituliskan dalam ejaan Bahasa Indonesia.

Do you know what it means? (Tahu apa artinya?) tanya Erlend ke audiens. Ia bertanya sambil mengangkat-angkat kedua belah lengannya seraya memanjangkan bunyi pada suku kata kedua. Ciaa.. Terdengar sesekali gelak tawa di antara audiens. Sementara Eirik dan Erlend sudah senyam-senyum di atas panggung atas ulah jenakanya sendiri.

In our language, it means yes and no in the same time,” (Dalam bahasa kami, artinya ya dan tidak pada waktu bersamaan) tutur Erlend. Membolak-balikkan telapak tangannya. Berlawanan arah. Seakan berusaha menunjukkan kontradiksi (hal kontradiktif). Sementara audiens tengah tenggelam antara gelak tawa, siulan, dan sederet bentuk sorak sorai kecil lainnya. Mengexpresikan respon mereka atas polah jenaka Erlend.

Barangkali ada padanannya. Dalam Bahasa Prancis dikenal comme ci comme ca. Dalam Bahasa Inggris dikenal a kinda/ something like that. Dalam Bahasa Indonesia dikenal nggak juga/ ya, begitulah/ ya, gitu deh.

Di antara gelak tawa itu, Eirik dan Erlend kerap saling melempar pandang. Eirik kemudian mulai mendentingkan dawai-dawai gitarnya. Merangkaikan nada memasuki melodi intro nomor ke-3 malam itu. Penonton kontan menyambut luar biasa.

Sepertinya mereka sudah bisa menebak lagu apa yang akan dibawakan selanjutnya, Cayman Island. Andalan berikutnya dari album terakhir (Riot on An Empty Street) (2004).

Nomor ini tampak mulai menghangatkan suasana. Audiens yang ikut menyanyi lebih berani dan banyak. Agaknya liriknya juga lebih dikuasai audiens.

Setelah disambut meriah, duo ‘raja’ ini langsung membuat medley ke lagu I Don’t Know What I Can Save You From. Sebuah nomor yang muncul dalam album pertama (Kings of Convenience) (2000) dan album ke-2 (Quiet is The New Loud) (2001).

Audiens pun langsung turut menyanyikannya. Pada bridge, audiens tak tahan untuk bertepuktangan mengagumi melodi apik Eirik. Ketika memasuki bridge ke-2, audiens turut memberi ketukan lewat tepukan tangannya. Hingga menuju closing.

Thank you,” ujar Eirik dengan suara yang rendah seraya hanya tersenyum. Penampilannya yang cederung kalem dan hanya melempar senyum justru tampak mengundang kegemasan penonton. Terutama the ladies.. Gelak tawa dan siulan menyertai.

Selanjutnya, nomor yang muncul hampir semuanya datang dari album terakhir KOC. Seperti Winning A Battle, Losing The War dan Gold In The Air Of Summer.

Dalam Gold In The Air of Summer, dentingan tajam piano Erlend membuat penonton terpaku. Seluruh audiens seakan-akan kian tersihir pesona melankolik KOC. Musik yang rasanya muncul dari hati mereka berdua. Menyentuh hati hadirin pula.

Sementara di media area, fotografer yang masih belum boleh memotret hingga nomor ke-11 nanti, tampak turut tersihir.

Pada awalnya, tidak ada yang boleh berada terlalu dekat dengan bibir panggung. Namun, kian lama, semua orang seakan kian terserap ke arah panggung. Selain karena bersiap-siap memotret pula.

Dentingan piano pada nomor ke-7 mulai dimainkan. Kali ini duo juga melakukan medley. Dari album ke-2, KOC memainkan Singing Softly To Me dan The Girl From Back Then berturut-turut. Pada nomor ini penonton sangat riuh. Semakin tergila-gila menyambut.

Erlend mengajak penonton menari. Bergoyang di sana dan di sini. Erlend tampak lebih atraktif dibandingkan Eirik. Ia senang bergerak-gerak. Ia menari dengan gaya yang sangat smooth (lembut). Mengikuti irama dan ketukan lagu.

Seperti ketika kali lain, ketika ia sesekali meletakkan gitarnya pada dudukannya. Saat itu, ia pun menjentik-jentikkan jari-jemari kedua tangannya. Membentuk ketukan. Berjalan ke muka panggung, ke arah penonton. Tersenyum dan tetap memain-mainkan kedua lengan jenjangnya ke sana ke mari.

Ia juga sempat kembali ke piano dan mendentingkan nada-nada tajam nan membawa pendengar untuk semakin larut dan tersentuh.

Sementara Eirik tekun dengan dawaian gitarnya. Di bridge mendekati closing, lagi-lagi Erlend mengajak penonton ikut serta dalam kegilaannya. Ia meminta audiens untuk mengikuti bunyi ‘U’ yang dipanjangkan untuk mengiringi closing lagu ini. Audiens rupanya mengikuti anjurannya. Di sela-selanya, tawa geli audiens dan senyum puas Erlend dan Eirik menghiasi.

Stay Out Of Trouble pun sesuai untuk melanjutkan romantisme ini. Pada nomor ini, audiens serempak mengisi dengan siulan. Menggantikan detil nada yang menjadi ciri khas lagu ini. Yang dalam versi rekamannya secara variatif diisi oleh gesekan cello yang menyayat dan betotan (tarikan) bass yang naik turun. Siulan membuat lagu ini terdengar lebih ceria. Lebih ringan nuansanya.

Lucunya, pada saat interval nada dinaikkan setengah, sesiulan itu mulai simpang siur. Mulai agak sulit diikuti. Namun, toh, audiens tidak menyerah. Mereka yang masih bisa mengikuti nada dasarnya tetap mengiringi hingga usai. Sepanjang lagu ini, keduanya berduet gitar dengan apik. Harmoni penuh. Sinergis energi yang kuat satu sama lainnya.

Suasana melankolik kian menyelimuti manakala Homesick menyambungnya. Pada saat intro mulai dimainkan, audiens sudah histeria. Kemudian seakan dengan begitu khidmat, turut menyanyikannya. Menghayati. Larut dalam suasana. Mengharukan.

Dilanjutkan dengan Know How. Dalam nomor ini, beat (ketukan) terasa lebih kuat. Meskipun melodi yang muncul tetap lembut. Suara audiens pun terdengar sangat merdu melantunkan senandung bersambung lirik. “O..o..oh../ What is there to know?/ Ooh../ All this is what it is/ O..o..oh../ You and me alone/ Sheer simplicity.”


Toxic Girl. Sebuah nomor cantik dari album pertama justru dilanjutkan dengan The Boat Behind. Sebuah nomor single terhitung baru yang belum dirilis. Sementara itu, penonton dan pers mulai mengacungkan kamera. Mengabadikan KOC.

Sebelum melanjutkan ke lagu berikutnya, Erlend justru merasa lapar. Ia pun dengan santainya membuka sebungkus cokelat snickers. Ia kunyah-kunyah seraya duduk dan memangku gitarnya. Memandang Eirik yang di sisi kiri panggung. Sementara Eirik hanya diam berdiri menatap rekannya itu. Tetap dengan senyum yang terjaga di bibirnya. Tetap dengan gitar yang menggantung di bahunya. Gelak tawa penonton kerap terdengar.


Kadang-kadang, sebelum melanjutkan pada lagu selanjutnya, Erlend mendekati Eirik. Mereka berbincang. Tak terdengar. Gerak mulutnya pun nyaris tak terlihat.

Seperti saat mereka akan memasuki nomor ke-13 ini. Kali ini, duo berbincang cukup lama. Dengan expresi yang tak bisa ditebak. Namun cukup mengundang beberapa siulan jahil dari arah audiens. Namun keduanya tak terpengaruh. Mereka tetap berbincang. Hingga akhirnya, Eirik tampil tunggal menyanyikan Garota de Ipanema. Girl from Ipanema versi Bahasa Portugis. Mengundang sambutan meriah para penonton.

Erlend yang tak bisa tinggal diam. Kali ini ia kembali mengundang gelak tawa penonton. Dengan lagak bak pemain terompet piawai. Ia mengambangkan kedua lengannya di depan dadanya. Sebuah imajinasi seolah-olah ia sedang memainkan tuts-tuts terompet. Sementara seuntaian suara terompet mengiringi lagu ini. Suara itu hasil rekayasa olah suaranya. Bibir, lidah, seluruh rongga mulut dan perutnya mencipta bunyi terompet yang amat menyerupai aslinya. Kembali, Erlend yang gila lagi jenaka polahnya.


Dilanjutkan dengan
Misread. Satu lagi nomor terfavorit yang membuat audiens terdengar hapal luar kepala sepanjang syairnya. Dilanjutkan dengan Little Kids dari album ke-2.

Ia mengayun-ayunkan microfon lewat untaian kabelnya. Perlahan dan lembut mengikuti irama. Mengajak audiens menikmati musiknya. Membuat mereka juga histeris.

Akhirnya tibalah di nomor terakhir. Ketika Erlend berkata, Here we go. The last song from us.” (Baiklah,. Ini lagu terakhir dari kami.”) Segera disongsong nada kecewa dari penonton.

Di nomor bakal penutup ini, Erlend kembali meletakkan gitar akustiknya. Sebelumnya Erlend berkata, It’s so great to be here. To have everyone’s singing together. As it’s so great the time when we’re have a fun time and meet friends from school. And sing together. And dance together,..” (Sungguh menyenangkan berada di sini. Semua orang bernyanyi. Sebahagia saat kita dalam masa yang menyenangkan. Dan bertemu teman sekolah. Dan bernyanyi bersama. Menari bersama,..” tutur Erlend.

Seraya Eirik mulai mendentingkan intro lagu selanjutnya, Erlend melanjutkan. So, I’d rather dance with you than play music for you.” (Jadi, lebih baik saya berdansa denganmu daripada bermain musik untukmu). Serentak audiens menyadari lagu pamungkas yang akan dibawakan. I’d Rather Dance with You. Lagi, hits dari album terakhir KOC.

Ia berjalan ke arah penonton mengikuti ketukan irama lagu. Dengan gerakannya yang lembut seakan langkah demi langkahnya mengalun.

Pada kesempatan itu, hap! Seorang gadis mungil, gemuk nan manis diajaknya naik ke atas panggung. Menari bersama. Berhadapan begitu dekat. Sejenak audiens bersorak-sorai riuh. Antara terpukau dan cemburu. Erlend dan gadis yang tersenyum lebar dan menari-nari kecil itu tetap mengikuti irama.

Demikianlah dan keduanya kembali ke tampatnya semula. Erlend kemudian seraya masih menari-nari di tempat, kini turut pula menyanyi bersama Eirik. Memukau hadirin.

Saat seperti itu, Erlend kerap mengangkat-angkat lengannya. Menggerak-gerakkan tangannya ke arah dalam seraya memandang audiens. Barangkali berusaha mengajak penonton untuk turut serta menari.

Erlend dengan bahasa isyarat itu menghantarkan beberapa gadis belia yang duduk di depan untuk nekad berlarian ke atas panggung. Keamanan sejenak dibuat lebih siaga.

Mereka berdua membiarkan hal itu terjadi. Tetap tenang dan sempurna menuntaskan tembang pamungkas itu. Hingga satu-persatu dileraikan dan diantarkan turun kembali oleh para petugas keamanan.

Hingga usai dan keduanya berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada hadirin. Disambut riuh rendah tepukan, sorak sorai, dan sesiulan yang seperti tiada akan ada habisnya.

Audiens rupanya tidak tinggal diam. “We want more! We want more! .. Begitu terus mereka teriakkan. Meminta penampilan ekstra. Selang beberapa menit kemudian. Antara ragu dan harapan di sisi penonton, Erlend dan Eirik kembali muncul dari balik panggung. Saat yang begitu membahagiakan bagi audiens. Tidak disangka jua.


Brave New World. Lagu dari album pertama kemudian dipilih KOC. Kali ini, audiens semakin mendekati panggung.

Malam itu, di Bandung, seakan KOC betul-betul ingin memuaskan harapan segenap hadirin. KOC menambah satu penampilan lagi. Kali ini mereka tidak akan menyanyi maupun mendentingkan gitar ataupun pianonya. Melainkan, menari bersama diiringi I Don’t Know What I Can Save You From (Royksopp Remix). Sebuah nomor yang masuk ke dalam debut single-cd (Failure) serta dalam debut DJ-album KOC (Versus), album ke-3, yang ditelurkan pada tahun yang sama yakni, 2001.

Eirik dan Erlend lalu bergantian menari di tepian kanan-kiri panggung. Menjumpai lebih dekat penggemarnya. Bahkan mereka berdua dan audiens saling memotret. Erlend meminjam kamera seorang panitia di balik panggung. Balik memotret audiens.


Begitu lagu usai. Duo berpamitan dan meninggalkan area panggung. Tepukan dan tatapan mata penonton masih tersisa. Masih mematut pada panggung yang kini kosong. Tanpa sang duo raja: Kings Of Convenience.

salam,.

my>k

Permalink 1 Comment