Depth Reporting | Feature I | Seni Video dalam Pemetaan: Kaleidoskop Kecil Event, Bandung, 2001-2006

January 27, 2007 at 5:47 pm (Journal, VideoArt)

Seni Video dalam Pemetaan,

Kaleidoskop Kecil 2001-2006

Ragam video art merebak lewat beragam perhelatan kesenian. Baik dalam acara sekali semalam hingga festival berhari-hari. Dalam skala lokal hingga internasional. Komunitas dan senimannya bertunasan. Negeri ini pun masih subur menumbuhkan benih-benih baru. 

***  

Sebuah layar putih telah terbentangkan di panggung Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Menembakkan gambar-gambar bergerak. Dua lelaki berpakaian serba putih muncul dari arah berlawanan: kiri dan kanan panggung. Mereka saling bertatapan nanar. Berdiri di sisinya masing-masing. 

Beberapa puluh menit sebelumnya, mereka melakukan performance art yang selaras dengan citraan pada layar. Menggambarkan aktivitas dan visual yang ditemukan dalam suatu perjalanan seorang pemain akoredeon dari Jakarta menuju Bandung. Di tengah-tengah panggung, seseorang yang diceritakan itu memainkan akordeon. Memusikalisasi citraan bergerak. 

Ketiga media berbeda itu menyatu menjadi sebuah pertunjukan. Sebuah kolaborasi permainan akordeon oleh Pascal Contet asal Prancis dengan interactive video art karya seniman video muda asal Bandung, Prilla Tania dan Ariani Darmawan dari VideoBabes, pada pertunjukan bertajuk Meet Mister Greet (17/11), digagas oleh CCF Bandung. Program ini juga digelar di Galeri Cemara, Jakarta (19/11). 

Pemandangan seperti itu sudah tidak jarang ditemui dalam perhelatan kesenian terkini. Di mana seni visual terinstalasikan dengan bentuk seni lain. Selain itu, masih ada ragam perhelatan yang mengetengahkan video art (seni video) sebagai karya yang dipamerkan di negeri ini, terutama di kota-kota yang menjadi barometer kesenian dalam negeri. Sebut saja, Jakarta, Jogjakarta, dan Bandung. 

Komunitas yang merawat kerja senimannya pun bertumbuhan. Di Bandung, pada tahun 2004 berdirilah dua komunitas video yakni, VideoLAB dan Videobabes. Selain itu, ada juga Bandung Centre for New Media Arts (BCfNMA) yang berdiri setahun sebelumnya. Selain komunitas, institusi kebudayaan asing seperti Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) dan Goethe Institut juga turut menyemarakkan wacana seni video. Mulai dari penyelenggaraan program reguler semacam video screening (penayangan video) beserta diskusinya, festival, workshop, hingga kompilasi karya.  

Dalam tahun 2006 saja, tercatat belasan aktivitas pameran seni video diselenggarakan di Bandung, dan puluhan lainnya tersebar di kota-kota lain. Di awal tahun, telah terselenggara Video After School Project oleh Cerahati Artworks bersama BCfNMA dan Universitas Widyatama 

Sementara itu, VideoLab secara rutin menggelar program bulanannya, Cinematic Lab, Program penayangan karya video di ruang terbuka dimana mereka mengambil tempat proyeksi di tembok kreativitas pada outlet distro 347, Jalan Trunojoyo, Bandung. Strategi ini memang diniatkan untuk menjaring publik yang sedang terjebak macet saat melintasi jalan yang kerap dipadati lalu lalang kendaraan tersebut. Meskipun pada praktiknya, jalan yang dimaksud sudah tidak sepadat itu lagi. 

Pada hari selanjutnya, karya-karya tersebut disuguhkan dalam forum diskusi Bedah Video dan Kopi Sore. Momen ini mengambil tempat di kafe-kafe, seperti di beberapa kali pelaksanaannya di Potluck Cafe. Meskipun ketiadaannya lokasi tetap, semacam basecamp setelah ruang inisiatif If Venue terpaksa harus tutup, alasan lain pengambilan lokasi ini, untuk mendekatkan akses terhadap publik.  

Semua didasarkan atas keinginan mengekspresikan diri, memberi ruang bertemu bagi sesama penyuka video dan yang berkarya dengan video, serta memberi kesempatan bagi publik untuk mengapresiasi (Pikiran Rakyat, 3/8). 

VideoLAB mencoba konsisten dengan niatnya dengan menggelar program-program tersebut hampir setiap bulan di sepanjang tahun ini. Seperti pada bulan April, saat mereka mempertemukan karya-karya dua mahasiswi dari dua kota. Mereka adalah Andi Bini Fitriani (Bini) dari ITB dan Siska Rahadiyanti (Cyka) dari ISI, Jogjakarta. 

Pada bulan selanjutnya, giliran dua seniman video dari dua kota dan komunitas. Mereka adalah Paul Agusta (Komunitas Utan Kayu, Jakarta) dan Ariani Darmawan (VideoBabes, Bandung). 

Di bulan Juni, VideoLAB melakukan kerjasama dengan komunitas ruangrupa, Jakarta, dengan menayangkan kompilasi karya video berjudul Lupita’s Collection yang dikurasi oleh Rene Hayashi, Eder Castillo, dan Mike Rodriguez dari Mexico. Di waktu yang sama, juga ditayangkan kompilasi FemLink yang berisi karya-karya perempuan dari berbagai negara termasuk Prilla Tania, seniman video dan performance art asal Bandung yang sempat ikut mendirikan VideoLAB sebelum akhirnya membentuk Videobabes bersama Ariani Darmawan. 

Program Cinematic Lab yang diniatkan sebagai program gabungan (kejasama) bulanan itu, pada bulan Juli lalu, mempertemukan karya-karya dari Dodi Mustafa (Domus) dari ITB dan Muhammad Yudi Suhairi (Gorky) dari UNIKOM. Kali ini dengan kesamaan tambahan. Keduanya merangkap kerja sebagai desainer grafis. 

Sebelum akhirnya berhasil memboyong Tintin Wulia, seniman video asal Bali yang kini berdomisili di Australia ke dalam Bedah Video dan Kopi Sore (17/11) di lokasi baru Potluck Cafe, Videolab membuat sebuah kompilasi video berjudul Bandung Time Line 2001-2006.  

Kompilasi 24 karya seni video yang lahir di Kota Bandung dari tahun 2001 hingga 2006 ini uniknya memilih 9 perempuan dan 15 laki-laki yang karya videonya belum pernah dipamerkan dalam program-program mereka sebelumnya.

Menurut Andry Mochammad (Andry Moch), salah satu pendirinya, pilihan ini untuk memberikan kesempatan bagi seniman video yang belum pernah ditampilkan oleh VideoLAB untuk memperkenalkan karyanya kepada publik. Selain ditayangkan di Embargo Cafe, Bandung (23/9), kompilasi itu juga ditayangkan di Aksara Bookstore, Jakarta Selatan (30/9). 

Kerja seperti ini merupakan bagian penting dari denyut nadi kehidupan komunitas. Selain sebagai ajang pertemuan dan perkenalan antarartis, juga membukakan akses penyebaran karya atau distribusi.

Seperti pendapat Jaka Satiawan yang karyanya, 2 Media, turut serta dalam kompilasi ini. “Sebuah kehormatan gue bisa diajak ikutan kompilasi ini dan tentunya membantu distribusi, sehingga karya gue dilihat lebih banyak orang,” tutur Jaka. “Gue pengen bilang, komunitas dan event seperti itu sebenarnya merangsang dan menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan belajar, terutama gue,” lanjutnya.  Selain Jaka, kompilasi ini juga diikuti oleh Adi Dharma ,Steve A. Gottlieb, A. Wisnumurti, Dave Syauta, Frino Bariarcianur, Firman Maulana, Yuriza Kenobhi, Riva Ramandha, Giovanni Pramudito, Achmad Krisgatha, Osman Laurs, Suharmoko, dan Toan Sindhu. Sementara generasi perempuan diwakili oleh Pujisiswanti, Mizuho Matsunaga, Victoria Catón, Rani Ravenina, Febi Beby Rose, Martina Dila Abulia, Diah Hapsari, Ira Mutiara Rahmadini, Tisa Granicia, dan Irine Stephanie. Herra Pahlasari, penggagas kompilasi ini mengatakan, ini adalah kompilasi perwakilan pekerja video dari generasi ke generasi dan karyanya yang hadir di Bandung pada tahun 2001-2006. Menurutnya, kompilasi ini akan membantu penelitian atas video itu sendiri serta pembedaan antarpekerja video berdasarkan tipe, teknik editing, gagasan, konsep, dan lain-lain. Mengutip artikel di Kompas (5/11), Krisnamurti menuliskan, proyek yang diinisiatifkan VideoLAB sebagai pendataan ini patut diacungi jempol, sebagaimana juga sejawatnya di Yogyakarta, Video Battle. Ini berguna tidak saja untuk memetakan, tetapi juga membaca lebih kritis budaya visual kita hari ini. Peta budaya visual di mana seni video termasuk di dalamnya dapat diukur dan dideteksi dari ragam acara semacam ini. Tentu saja aktivitas semacam ini membuka peluang berkomunikasi, berinteraksi antar sesama penggiat. Video Battle juga membuat kompilasi yang ditayangkan di Screen Box, Jakarta. Dandelion Song dan Beautifall, karya Muhammad Akbar, turur serta dalam kompilasi ini. Tak ketinggalan karya video musik Superhebred dari band A Stone A asal Bandung. Geliat seni video lewat perhelatannya semakin terasa di penghujung tahun 2006, baik yang berlangsung di Bandung maupun tempat-tempat lainnya. Setelah kompilasi rilisan VideoLAB itu, di Semarang berlangsung pula kegiatan serupa yakni, acara VIDIOT: Festival Video Art Belanda – Indonesia (17-19/11), digagas Lembaga Kebudayaan Belanda Widya Mitra, komunitas Kronik Filmedia, dan Rumah Seni Yaitu di kota setempat. Selain VideoLAB, dari Bandung terlibat pula Never Seen Vision dan Cerahati dalam acara pameran dan diskusi video termasuk instalasi dan musik ini. Turut pula berpartisipasi ruangrupa (Jakarta), Video Battle (Jogjakarta), dan Montevideo (Belanda).  Seni video sebenarnya mulai mendekati wilayah seni rupa di Indonesia pada akhir dekade 80-an. Namun saat itu, belum terjadi anemo dan respon besar-besaran seperti yang terjadi dalam dekade ini. Dalam kurasinya untuk OK Video (2003), Agung Hujatnikajennong menyebutkan, bahkan hingga awal dekade 90-an, lokakarya seni video yang melibatkan seniman-seniman luar negeri di Indonesia kurang mendapatkan perhatian. Pameran-pameran seni rupa yang berlangsung juga jarang membahas keberadaan medium video secara keseluruhan. Mari kita kembali ke lima tahun sebelum saat ini. Ketika tahun 2001, tercatat sebuah pameran bertajuk Wayang Machine karya Krisna Murti di Galeri Barak, Bandung. Tentunya pameran ini sebuah kelanjutan dari yang telah dirintisnya sejak tahun 1993 saat ia pertama kali menggelar pameran karya videonya yang berjudul 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai. Penyelenggaraan acara dalam wacana seni video di Indonesia yang melibatkan seniman mancanegara pun telah dirintis semenjak tahun 2002. Saat itu, lahirlah sebuah festival bernama The Bandung Film, Video and New Media Arts Festival (BAVF~NAF). Digagas oleh Krisna Murti yang kemudian dicatat sebagai pelopor seni video di negeri ini, festival itu diupayakannya sebagai respon terhadap seni video yang akhirnya mulai marak pada tahun itu. Krisna sempat meretrospeksi dalam artikel yang ditulisnya dalam Kompas, saat itu anemo publik belumlah sebesar yang terjadi pada saat ini. Katanya, “Pada kurun waktu ketika diadakan festival seni media internasional pertama di Bandung (bavf~NAF # 1, 2002) denyut nadinya masih sulit terlacak.” Tercatat puluhan karya video datang bukan hanya dari seniman lokal namun juga dari Belanda, Finlandia, Amerika serikat, Spanyol, Kuba, Inggris, dan Jepang. Saat itu, Krisna menyebutkan, “Forum itu tidak saja untuk mengukur sejauh mana seni media baru menjadi bahasa baru di Indonesia, tetapi lebih untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa teknologi di Indonesia tak hanya berarti barang konsumsi,” (Kompas, 21/8/02). Krisna mengatakan, festival itu mengetengahkan video baik dalam kanal tunggal, performance, maupun multimedia. “Video harus dilihat dalam wacana media baru biar tidak terbatas seperti another film,” lanjutnya kepada saya. Di Jakarta, sebenarnya ada festival bertajuk Animation and Special FX (AFX) di tahun tersebut. Meskipun tidak disebut sebagai festival seni video. Dimana Jaka bersama karya 2 Media itu meraih juara pertama. Festival yang baginya paling berkesan sampai saat kini itu, dikatakannya mampu membuat ia lebih terdorong untuk berkarya.  Selang beberapa bulan, tepatnya jatuh pada tahun 2003, lahirlah sebuah festival seni video bertaraf internasional yang digagas ruangrupa (Jakarta), sebuah organisasi nirlaba seniman di Jakarta. Festival ini mengikutsertakan tak kurang dari 60 karya dari berbagai negara seperti, Cina, India, Jerman, Australia, Denmark, Amerika Serikat, Finlandia, dan lain-lain.  Tema yang diangkat dalam festival dwi-tahunan itu mencakup tema-tema yang kerap diangkat seniman videonya, sesuai hasil riset yang dua tahun sebelumnya mereka jalani. Ruangrupa menemukan, selain tubuh-identitas, seniman video saat itu kerap mengangkat isu yang berkaitan dengan kebudayaan massa, ruang pribadi-ruang publik, dan politik. Pilihan bersikap mereka yang terjadi di antara perdebatan yang tetap ada tentang klasifikasi karya seni video membuat ruangrupa dinilai berani membuat terobosan langkah dan sikap yang jelas. Agung menyebutkan, di tengah perdebatan yang kompleks tentang kategorisasi dan perbedaan sifat-sifat seni media baru, pameran OK Video mengambil sikap yang jelas dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan dan konteks sosial-historis yang melingkupi wacana video art di Indonesia (Kurasi OK Video, 2003). Perkembangan seni visual di Indonesia tak lepas mempengaruhi keberadaan seni video. Selama ini, Krisna melihat, ruangrupa sangat percaya diri akan peradaban yang berkembang di dunia. Adalah kebanggaan tersendiri apabila seniman, mulai dari Afrika Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, kini dapat berpameran di Jakarta (Sinar Harapan, 2/7/03). Ade Darmawan, perancang festival, dalam pengantar kurasi menyebutkan, karya-karya yang ditampilkan akan memperlihatkan keberagaman pencapaian gagasan serta teknis dari medium video, terutama yang berhubungan dengan persoalan kebudayaan kontemporer. Selain itu, menjadi telaah praksis dan teoritis dalam melihat kolaborasinya antara seni dan teknologi.  Kegiatan ini juga diniatkan sebagai forum yang menstimulus dan memediasi interaksi antara seniman dan karyanya antarkota dan negara lewat pertemuan, kerja kolaborasi, workshop, dan presentasi karya. Wilayah ini dibukakan secara luas kepada publik manapun sekaligus memperkenalkan video sebagai medium ekspresi seni. Sebuah upaya mengajak publik melihat ulang budaya tontonan setelah sebelumnya terbangun oleh media televisi. Ade juga menegaskan, ruangrupa percaya akan pentingnya penyelenggaraan event ini, mengingat seni rupa adalah sebuah praktek budaya dan lebih jauh lagi, sebuah strategi kebudayaan. Festival dan ragam aktivitas sejenisnya tak pernah terlepas dari artists iniative groups (untuk menyebut komunitas dan kantung-kantung budayanya).  Seperti terurai di atas, jelas aktivitas seperti itu lahir dari mereka, kelompok yang sebenarnya tidak terikat secara struktural dengan lembaga-lembaga suprastruktur itu. Ini menjadi pembeda sekaligus penanda kecenderungan generasi muda saat ini dalam berkarya dan menggulirkan karya dan pemikirannya di tengah publik. Krisna pernah menyebutkan, secara sosiologis, artists initiative group merupakan fenomena infrastruktur seni setelah periode pasca-booming seni tahun 90-an yang diikuti krisis ekonomi berkepanjangan. Para pekerja generasi ini tidak pernah menikmati gelembung kemakmuran seperti generasi seniman sebelumnya yang kenyataannya berhasil membangun galeri atau museum pribadi yang mewah di berbagai kota, seperti Bandung, Yogyakarta, Magelang, hingga Klungkung di Bali. Ia menambahkan, dengan segala keterbatasannya, generasi mereka adalah para pekerja yang penuh percaya diri untuk meng-kurasi dan menyelenggarakan pamerannya sendiri, membangun ruang seni (art space) secara swadaya, membuat dan mendistribusikan informasi dan buletin (newsletter) dalam cetak low budget maupun situs web secara gotong royong hingga menjalin jaringan antarkomunitas dan institusi penyandang dana di mancanegara. Barangkali OK Video adalah sebuah contoh geliat generasi ini yang mampu membalik mitos kebanggaan go internasional bagi seniman Indonesia yang diundang dalam sebuah bienale di luar negeri. Mereka justru sebaliknya: mengundang seniman mancanegara ke festival video internasional di Tanah Air(Kompas, 1/3/05).  Penyelenggaraan aktivitas dalam ranah video juga diupayakan oleh beberapa pusat kebudayaan asing. Seperti yang pernah dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung maupun Jakarta pada tahun 2004, lewat pameran video mode bertajuk Au de la du mode (Lebih dari Sekadar Busana). Konsepnya, memamerkan karya seni busana lewat medium video. Tidak seperti halnya pada peragaan busana konvesional yang menggunakan medium pertunjukan di atas catwalk. Desainer busana kali ini berkolaborasi dengan seniman video untuk menghadirkan karya di manapun tanpa kendala jarak dan waktu lagi lewat kepingan DVD, merekam busana, ruang, peristiwa, dan melibatkan sudut pandang seniman video dalam bahasa citraan bergerak. Tidak lama berselang, pada bulan April, para cikal bakal VideoLAB saat itu mengadakan Beyond Panopticon di BEC, sebuah pusat pertokoan barang elektronik yang baru saja dibuka. Dari situ tercatat, tak kurang dari 60 kaum muda di Bandung berkerja dengan video. “Dari sisa kepanitiaan inilah, VideoLAB terbentuk,” tutur Andry.  Masih dalam tahun yang sama, menyusullah pameran Mediabaru@egroups di Galeri Lontar, Jakarta. Acara ini hasil kolaborasi komunitas dari Bandung (Jejaring, VideoLAB, Wayang Cyber), Jakarta (ruangrupa, Kasatmata, Komunitas Sinematografi IKJ), Jogjakarta (Ruang Mes 56), dan Bali (Minikino).  Agung sempat menilai, kegiatan ini seolah semakin menegaskan keberadaan genre ‘seni media baru’ (new media art) di Indonesia, menyusul maraknya beberapa event serupa yang berlangsung silih berganti sepanjang tahun 2002-2004 di beberapa kota di pelosok Jawa dan Bali (Kompas, 16/5/04). Kembali ke kota Bandung, Goethe Video Art 2004 digelar BCfNMA dimana ini merupakan program pemutaran nominasi karya video asal Jerman untuk Penghargaan Video Art Marl 2000-2002. Dalam acara tamu ini, BCfNMA menayangkan pula karya-karya video dari senimannya di Bandung, Jakarta, dan Bali. Di akhir tahun, BCfNMA mengadakan kegiatan bertajuk Video Mbeling. Konsepnya, memindahkan makna dalam bahasa puisi mbeling ke dalam narasi visual. Acara ini diikuti di antaranya oleh Andry Moch, Prilla Tania, dan Dodi Mustafa.  Pada pertengahan tahun 2005, di ITB digelar pameran Video Sculpture di Jerman Sejak 1963. Acara ini seakan berusaha memetakan seni video dari sejak dekade kelahirannya di 60-an hingga ragam generasi beserta kecenderungan karya  yang ditemui.  Pada tahun 2005, kegiatan komunitas inisiatif artis semakin kencang bergulir. Di Bandung, sebelum akhirnya tahun ditutup dengan acara video ASEF’s The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang digelar atas kerjasama ASEF’s, Common Room dan CCF, di Jakarta, ruangrupa baru saja merampungkan festival OK Video yang kedua: OK. Video SUB/VERSION Jakarta Video Festival 2005, di Galeri Nasional Jakarta. Dalam usia perjalanan yang masih relatif muda, seni video telah memperlihatkan gairah dan gejolaknya dari segelintir contoh yang disebutkan. Kini kembali ke tahun 2006, di kala penghujung. OK Video di bulan November yang lalu melakukan lawatan internasional ke negeri jiran. Dengan tajuk OK Video: Kuala Lumpur, Jakarta Video Festival in Kuala Lumpur, Malaysia, festival kali ini membuat seleksi karya dari dua periode yang telah dilaluinya. Bertempat di Galleriiizu Kuala Lumpur, terpilihlah 25 artis asal Indonesia dari 29 terpilih yang berarti terseleksi dari 90 peserta dalam kedua periode itu. 

Sementara itu, di Bandung, baru saja diselenggarakan Bandung Video Music Festival (26/12). Diikuti oleh 26 peserta dan menyeleksi 9 di antaranya sebagai yang terbaik. Rencananya, kesembilan karya itu akan dimasukkan ke dalam kompilasi. Namun, persoalan distribusi dan kelanjutannya itu, diakui Adi saat ditanyai tempo hari, belum mencapai kata sepakat. “Perlu dibicarakan lagi dengan pembuat videonya,” tutur Adi, Ketua Panitia.

Gorky, yang sempat ikut dalam program Cinematic Lab menunjukkan konsistensinya pada video dengan mengikutsertakan karya video The Milo feat. Love and Affair untuk lagu Sianida. Mendapatkan Juara III, ia merasa acara seperti ini dapat mendorong orang untuk lebih produktif berkarya. Lagi-lagi, anemo terhadap perkembangan suatu wacana datang dari publik di Bandung, termasuk seni video. Yang terlihat, gerakan video dan media baru pun dirintis di Bandung, seperti halnya pada performance art maupun puisi mbeling. Krisna pernah memberikan pandangan, perkembangan wacana seni video di indonesia umumnya masih belum marak. Barangkali karena faktor alat dan ekonomi. Tapi lucunya penggunaan kamera digital, telepon seluler, internet dan games untuk keperluan hiburan dan praktis setiap tahun meningkat. Di bandung banyak seniman muda bekerja dengan video, banyak institusi dan komunitasnya bahkan festival. Tapi sepertinya kontinuitasnya belum terjaga. Seniman muda yang mestinya menjadi penopang pervideoan seperti terjadi di korea, jepang bahkan thailand, realitasnya masih mengerjakannya sebagai pekerjaan sambilan di samping sebagai perupa. Ada institusi yang keren keren tetapi kurang menelurkan pikiran-pikiran yang mencerahkan di tengah meriahnya praktek media baru sebagai gaya hidup. Semestinya ini kesempatan bagi mereka untuk mempunyai posisi budaya yang menentukan di tengah konsumerisme budaya di saat ini (blog VideoLAB, 23/10/05). Persoalannya, kerap ada stigma bahwa kontinuitasnya takkan bertahan. Contoh paling dekat, perfilman indie (Aksara, 2000). Konteksnya, komunitas dan ruang-ruang alternatifnya. Isu ini juga pernah diangkat dalam sebuah pertemuan santai di antara penggiat komunitas seni video di Bandung tempo hari, Juli, di Selasar Sunaryo, Bandung. Dimas Jayasrana, penggiat di ruangrupa (Jakarta) pernah menyebutkan, yang terpenting adalah penguatan jejaring, komunikasi terbuka antarjejaring. Misalnya, dengan bertukar pengalaman atas persoalan dan kendala yang dihadapi. Bisa jadi, menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Dengan komunikasi terbuka, memungkinkan mencari pemecahan secara bersama-sama. Dimas menambahkan, yang tak kalah penting untuk disadari adalah niat yang dibangun saat membangun suatu komunitas. Artinya, perlu dipertanyakan dan dikaji ide, tujuan, dan kesiapan mental yang ada saat bermaksud mewujudkannya. Persoalan yang seringkali ia temukan, habisnya energi di tengah perjalanan. Menurutnya, sesuatu tidak bisa harus dicapai dalam waktu dekat kecuali sudah siap mental dan energi. Ada keinginan kuat untuk eksperimen dalam komunitas. Mereka datang dari berbagai disiplin seni dan ilmu. Suatu waktu akan terjadi bentuk seni baru minimal bahasa artistik baru,” tutur Krisna saat ditanya pandangannya tentang komunitas seni video yang bermunculan, terutama yang ada di Bandung. “Teruslah eksperimen, membuka diri , jangan cepet letoy, buktikan mereka adalah generasi produk jaman yang jelas (identitas) bukan korban jaman,” lanjutnya memberi saran dan dorongan motivasi. Sementara itu di Jakarta, ruangrupa saat ini sudah mulai berkerja untuk penyelenggaraan OK Video periode III di tahun 2007 mendatang. Dalam forum elektroniknya, ruangrupa mengabarkan rencana konsepnya. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali mendatang, mereka akan fokus pada kemungkinan intervensi karya video di tempat publik. Baik yang sudah memiliki perlengkapan penayangan maupun yang belum. Seperti, jalan, gedung, halte busway, stasiun kereta, ruang tunggu apotik, rumah sakit, mal, kafe, restoran, toko elektronik, website, tv station, tv wall, dan lain-lain. Ide ini agaknya selaras dengan apa yang Krisna ingin sampaikan kepada ruangrupa. “Seharusnya ada lagi 200 festival serupa, jadi lebih beragam dan bersaing. Ukuran seninya juga akan lebih bervariasi. Saya pernah sarankan lewat Kompas, seharusnya di OK Video mendatang jangan lagi di gedung galeri tapi di ruang publik : mall, café, jalanan, taman, di tempat dugem, disco, WC umum, di warnet-warnet,” katanya, “di mana saja orang banyak kumpul. Jangan menjaring orang (peminat) seni aja. Aksi langsung ke publik,” sarannya kemudian saat ditanya pandangannya tentang festival tersebut. Yang pasti, ruangrupa menyatakan, mereka tidak akan melibatkan kurator dengan kurasi tertentu, tetapi mereka akan melibatkan seniman, komunitas, individual dan organisasi seni dan non seni dalam berkolaborasi menyusun program bersama. Masih di kota yang sama, sebuah komunitas bernama Hello Motion juga akan menggelar kembali festival videonya, Hello;Fest IV, di tahun 2007. Festival ini berbeda dengan yang lainnya karena menggunakan fasilitas dan media internet (web) sebagai medium pameran dan interaksi karya. Lewat blog mereka, Hello Motion mengatakan, mereka menggunakan konsep festival sepanjang masa. Seakan-akan festival ini dilaksanakan setiap waktu dan setiap saat. Salah satu cara untuk merealisasikan konsep ini adalah dengan mempertontonkan melalui internet. Jika karya tersebut dapat mencapai syarat-syarat tertentu, maka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Hello;Fest Awards, Hello;Fest Roadshow, Hello;Fest Screen dan program lainnya. Tagline-nya: Festival Motion Picture Arts sepanjang masa, setiap hari terasa di Hello;Fest!   Kembali ke Bandung, VideoLAB tetap mencoba menjaga kontinutasnya dalam menjalankan program-program mereka. Muhammad Akbar yang juga penggiat VideoLAB mengatakan, komunitasnya sedang kembali menggodok program bulanan Cinematic Lab untuk tahun 2007. Rencananya, mereka akan menayangkan karya-karya video musik untuk edisi awal tahun, Januari. Sebuah saran sempat datang untuk VideoLAB. Dwi Suharmoko yang karyanya ikut dalam kompilasi Bandung Time Line 2001-2006 dan OK Video 2003 dan 2006, berharap agar VideoLAB mencoba menyelenggarakan festival bertaraf internasional. 

Sementara Krisna Murti punya pandangannya sendiri terhadap kegiatan seperti itu.

“Bagus. Komunikasi dan sosialisasi ini akan produktif dan mencerahkan. Tapi jangan cuman duduk, mengkonsumsi tontonan, begitu sampe rumah, ya, bikin karya yang dahsyat, begitu seterusnya, ditayangkan, dibahas,” tuturnya. “Itulah kebudayaan yang hidup, seniman kreatif, masyarakat jadi sehat!” lanjutnya optimis. ***

my>k

Permalink Leave a Comment