Health Communication : The Combat Againts Cancer Cell / Perang Melawan Sel Kanker

November 9, 2008 at 7:51 pm (Journal) (, , , , , , )

Perang Melawan Sel Kanker

[Efektivitas Hubungan Interpersonal antara Dokter dan Pasien:

- dr. Herry dan Dina Matayas -

sebuah contoh kasus pentingnya Komunikasi Kesehatan]

[SR Maya K Soetoro D.| 2006-2007]

 

Selama setahun, benjolan di leher dengan akupunktur mengempis. Namun muncul lagi lebih banyak pada tahun berikutnya, saat Dina tidak lagi menjalani akupunktur.

 

Dina kemudian berkonsultasi dengan dr. Adi yang lalu menyarankannya untuk menjalani biopsi sehingga bisa segera diperiksa. Untuk menjalaninya, Dina disarankan Adi untuk menghubungi dr. Adjat, kakak kandung Adi yang spesialis bedah oncolog (subspesialisasi kanker).

 

“Apa saya kena kanker, ya?” tanya Dina kepada dr. Adjat saat menemui, usai menyatakan komplain. Menurut Dina, Adjat menjawabnya dengan reaksi rileks.

 

“Nggak. Belum tentu. Setiap orang memang mempunyai peluang untuk terserang kanker. Jadi, Dina tidak perlu khawatir,” tutur Adjat saat itu, “makanya, lebih baik kita melakukan biopsi supaya bisa tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Demikian Dina mencoba menirukan Adjat dalam menanggapi pertanyaannya.

 

Jawaban seperti itu diakui Dina, membuatnya merasa lebih nyaman. Bertambah pula keyakinan dalam dirinya untuk menjalani biopsi. Dina mengaku, semakin cepat ia melaksanakan saran dokter itu maka ia akan semakin tenang karena mengetahui secara pasti kondisi kesehatan tubuhnya. Ia menambahkan, ia tidak ingin membiarkan persoalan itu berlarut-larut.

 

Ketika bertemu dengan dokter, pasien akan memaparkan komplainnya (tanda-tanda) kepada dokter, yang nantinya akan memberikan berbagai informasi tentang tanda-tanda klinis tersebut. Kemudian dokter akan memeriksa, mencatat segala yang ditemukannya pada diri pasien dan memperkirakan berbagai kemungkinan diagnosis. Bersama pasien, dokter akan menyusun perawatan berikutnya atau tes laboratorium berikutnya bila diagnosis belum dapat dipastikan. Bila diagnosis telah disusun, maka dokter akan memberikan (“mengajarkan”) nasihat medis. Relasi pengajaran ini menempatkan dokter sebagai guru (Physician dalam Bahasa Inggris; berasal dari bahasa Latin yang berarti guru) –(situs Ensiklopedia Wiki).

 

Sesuai jadwal yang telah disepakati, Dina pun kemudian menjalani biopsi yakni, operasi pengangkatan benjolan. Nantinya, benjolan yang telah diangkat oleh dr. Adjat itu diperiksa oleh dokter khusus yang menangani analisis hasil biopsi.

 

Biopsi ialah pengambilan se-dikit tisu daripada sesuatu or-gan atau daripada bahagian yang berpenyakit untuk me-ngetahui sebab penyakit (rajah 9.1). Tisu tersebut boleh di-analisis secara kasar dan di-amati di bawah mikroskop un-tuk mendapatkan diagnosis te-pat. Tisu yang diperoleh dari-pada biopsi bukan sahaja dapat mengenal pasti penyebab pe-nyakit tetapi juga dapat mem-beritahu tahap keterukan penyakit, dan membantu dalam merawat sesetengah penyakit. Kelainan dan perubahan pada tisu tersebut dapat memberikan prognosis penyakit (situs Hukm.ukm.my).

 

Berarti, biopsi merupakan pengangkatan jaringan dari suatu organ atau penyakit untuk kemudian dianalisis sehingga diketahui diagnosis suatu kesehatan atau penyakit dalam tubuh pasien.

 

Beberapa hari kemudian, hasil analisis itu Dina ambil sendiri dan diserahkannya kepada Adi. Secara birokrasi kedokteran, hal ini tidak biasa diperbolehkan. Menurut Dina, inisiatifnya ini diperkenankan karena faktor kepercayaan yang terbangun atas dasar pertalian keluarga dimana Adi adalah kakak ipar Dina.

 

“Mungkin karena koneksi jadi diperbolehkan,” tutur Dina saat wawancaranya bersama saya.

 

Hasil analisis biopsi yang telah diambilnya itu kemudian ia serahkan kepada Adi. Surat analisis itu sebenarnya ditujukan kepada Adjat, dokter yang bertindak dalam pengangkatan benjolannya terdahulu. Namun seperti yang telah diuraikan sebelumnya, proses ini menjadi semakin mungkin dilakukan karena faktor pertalian keluarga tersebut. Dengan demikian, proses Dina mengetahui diagnosis kesehatannya pun menjadi lebih cepat.

 

Adi kemudian membuka arsip diagnosis itu dan seketika memberitahukan Dina hasil diagnosis yang hanya bisa dimaknai oleh para dokter itu: positive kanker. Namun demikian, Adi meminta Dina untuk segera menghubungi Adjat yang menanganinya secara langsung tersebut, agar segera mendapatkan kepastian tindak lanjut yang perlu diambil.

 

Pada keesokan harinya, Dina pun menemui Adjat dan berkata, “Saya kena kanker kata dr. Adi,” seraya menyerahkan arsip diagnosis tersebut.

 

Dr. Adjat menerima amplop arsip tersebut dan seraya membuka dan membacanya, ia juga memberikan diagnosis yang sama.

 

Menurut Dina, Adjat tidak menampakkan reaksi yang berlebihan untuk menenangkannya apalagi menakut-nakutinya. Adjat lebih bersikap profesional dengan mengambil sikap menerangkan perihal penyakit kanker secara garis besar.

 

Seperti halnya saat ia menerangkan kepada Dina perihal peluang kanker yang ada pada diri setiap manusia. Ia kemudian mengatakan, penyakit kanker sangat mungkin untuk disembuhkan. Saat itu, Dina merasa dokter tersebut mengajaknya secara bersama-sama menyembuhkannya.

 

Adjat juga menjelaskan, ia bukanlah dokter yang akan bertindak dalam proses pengobatan. Menurutnya, untuk pengobatan, ada dokter khusus yang akan menanganinya. Ia kemudian menyarankan Dina untuk menghubungi dr. Herry yang menurutnya, dokter yang paling tepat untuk Dina.

 

Seusai pertemuan dengan Adjat, Dina pun menemui Adi yang kebetulan membuka praktek di rumah orang tua Dina. Saat bertemu itu, Dina menceritakan hasil pertemuannya dengan Adjat.

 

Adi pun menyarankannya agar menghubungi dr. Herry. Menurut Adi kepada Dina saat itu, dr. Herry adalah dokter yang paling tepat untuk menangani Dina.

 

“Kalau begitu, kamu hubungi dr. Herry saja. Saya yakin, kamu bakal suka sama dia,” tutur Adi seperti yang diimitasikan Dina kepada saya. “dr. Herry cocok buat kamu,” lanjut Adi saat itu.

 

Menurut Dina kepada saya, ia tidak suka bertemu dengan dokter yang bertindak merawatnya yang bersifat dingin dan tertutup. Apalagi apabila ia bertemu dengan dokter yang terlalu cerewet dan banyak aturan sehingga berkesan otoriter.

Ternyata, rekomendasi dari Adjat berujung bukti nyata. Herry, menurut Dina, dokter dengan pribadi dan sikap profesional yang terbuka. Begitu bertemu, Herry langsung menyambutnya dengan hangat dan ramah. Saat itu, Herry sudah mengetahui perihal kedatangan Dina sehingga saat bertemu mereka seperti sudah mengenal satu sama lain.

 

“Selamat Siang, Dok. Saya Dina. Saya disarankan dr. Adjat untuk menemui Anda,” tutur Dina saat menemui Herry.

 

“Oh, ya. Dina. Ya. Saya sudah mendengar dari dr. Adi dan dr. Adjat,” demikian menurut Dina saat Herry menjawabnya. Saat itu menurut Dina, ia sudah mulai merasakan perasaan yang nyaman dan rileks.

 

Setelah mempersilahkan Dina untuk duduk seperti umumnya sikap para dokter terhadap para pasiennya, Herry kemudian membuka percakapan perihal kanker. Ia membukakan sifat penyakit kanker serta dengan cerdas, lincah, dan tenang, mengaitkannya dengan kondisi yang ada dalam tubuh pasiennya, Dina. Menurut pengakuan Dina, Herry secara spontan menggulirkan percakapan itu tanpa perlu menunggu pertanyaan darinya sebagai pasien.

 

Kondisi ini menyiratkan kepada kita, suatu kondisi hubungan interpersonal dengan komunikasi interpersonal lancar, baik, dan dalam kondisi (emosi) positif. Komunikasi antara dokter dan pasien dalam kasus ini terjadi secara spontan. Efektivitas dan efisiensi yang terjadi di dalamnya didukung oleh faktor kedekatan jarak hubungan yakni, latar belakang tali keluarga.

 

Hubungan interpersonal yang baik itu terbantu pula persepsi yang telah tertanam di kepala masing-masing persona. Calon pasien sudah pernah mendengar gambaran sosok sang dokter sebelumnya.

 

Dengan kalimat Adjat dan Adi yang senada sebelumnya, ‘Saya yakin, kamu bakal suka sama dia’ dan ‘dr. Herry cocok buat kamu’, secara psikologis, proses sensasi dan persepsi sudah mengarahkan Dina pada kerangka stimuli yang positif.

 

Pada saat bertemu, kedua proses itu terangkat dalam bentuk memori yang bangkit dan kembali memasuki tahap sensasi dan persepsi. Sedikitnya, persepsi calon pasien terhadap dokter tersebut sudah mempengaruhi cara pandangnya yang positif terhadap sang dokter.

 

Deskripsi verbal termasuk ke dalam faktor situasional yang mempengaruhi persepsi interpersonal. Kalimat berita yang disampaikan Adi itu mempunyai konotasi positif. Dalam teori Asch, terdapat kata-kata dalam kalimat yang merupakan central organizing trait yakni, kata-kata yang mengarahkan seluruh penilaian seseorang tentang seseorang lain. Teori ini melukiskan, bagaimana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang seseorang yang dimaksud (Rahmat, 2000: 83).

 

Selain itu, terdapat pula faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal. Faktor percaya dan sikap terbuka terlihat menonjol kuat di antara para pihak yang terlibat. Kedua faktor ini kemudian juga didukung oleh sikap supportive yang diberikan satu sama lain pihak terutama, dari dokter kepada pasiennya.

 

Seperti halnya Adjat, Herry membuka percakapan perihal kanker dengan ucapan-ucapan yang bersifat menenangkan pasien.

 

“Tidak apa-apa. Setiap orang punya peluang untuk terserang kanker. Ini persoalan apakah dan kapan virus itu aktif atau tidak sama sekali. Sekarang, mari kita obati saja. Tentu saja, selalu ada peluang untuk sembuh, tutur dr. Herry yang ditirukan Dina kepada saya.

 

Kalimat-kalimat yang diutarakan dokter itu dapat diindikasikan termasuk ke dalam respons konfirmasi yang meneguhkan hubungan interpersonal.

 

Secara detil, ucapan ‘Tidak apa-apa. Setiap orang punya peluang untuk terserang kanker. Ini persoalan apakah dan kapan virus itu aktif atau tidak sama sekali’ di atas merupakan bentuk konfirmasi perasaan positif (positive feeling) yakni, pengungkapan perasaan yang positif terhadap kondisi pasien. Dengan pilihan kalimat seperti ini, dokter terhindar dari respons negatif. Misalnya, terhindar dari ucapan yang menyerang pasien seperti, penyakit kanker yang diderita adalah akibat kesalahan pasien.

 

Sementara kalimat selanjutnya, ‘Sekarang, mari kita obati saja. Tentu saja, selalu ada peluang untuk sembuh’, merupakan bentuk konfirmasi respon suportif (supportive response) yakni, ucapan yang mengungkapkan pengertian, dukungan, atau memperkuat pasien dengan mengajaknya secara bersama-sama untuk mengobatinya.

 

Menurut Dina, pembicaraan berlangsung rileks sehingga sama sekali tidak menegangkan. Ia menjelaskan, Herry tidak beraut murung maupun dingin, melainkan cerah, tenang, dan hangat dengan senyuman yang kerap ada di wajahnya.

 

Kemudian, Herry tanpa ditanya terlebih dahulu mulai menerangkan metode penyembuhannya. Ia memaparkan, terdapat dua metode penyembuhan kanker yakni, radiasi dan chemotherapy. Ia menjelaskan secara detil perihal proses pengobatan yang akan dilalui dalam tiap metode yang dipilih, lengkap beserta efek samping yang akan terjadi.

 

Efek samping yang akan dialami dijelaskannya mulai dari efek permulaan (tahap pertama) hingga tahap lanjutan kala proses pengobatan belanjut.

 

Misalnya dalam metode chemotherapy, metode infusisasi cairan obat-obatan kimia ke dalam tubuh pasien.

Kemoterapi (chemotherapy) adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini hampir merujuk secara eksklusif kepada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker. Dalam penggunaaan non-onkologisnya, istilah ini dapat juga menunjuk ke antibiotik (kemoterapi antibakteri) –(situs Ensiklopedia Wiki).

 

Metode ini, dalam tahap awal, berarti mematikan sel-sel tubuh termasuk sel-sel darah merah dan darah putih dalam kapasitas besar. Oleh karenanya, efek yang mula-mula akan dirasakan pasien, menurunnya stamina tubuh dan akan pula disertai muntah-muntah.

 

Selain kondisi internal tubuh, Herry juga menerangkan efek yang akan terjadi secara ekstrem seperti, membuat kulit tampak gosong kehitaman dan kerontokan helai rambut hingga kebotakan. Ia menambahkan, ini efek-efek yang sangat mungkin terjadi mengingat cairan kimia yang diinfusisasikan (disuntikkan lewat selang) itu berkerja dengan cara membakar sel-sel tubuh tersebut.

 

Selain efek tersebut, pasien juga akan merasakan tubuh terbakar secara internal. Misalnya, ketika suhu tubuh dan temperatur suhu udara di luar tubuh tidak panas atau dalam keadaan normal, pasien chemotherapy berkemungkinan gerah, merasa suhu udara lebih panas dari keadaaan normal.

 

Bagi Dina, keterbukaan dokter seperti itu sangat berarti dan berharga untuknya dalam mempersiapkan mental sebelum menjalani proses penyembuhan kanker lewat chemotherapy.

 

Meskipun disodori dua pilihan metode penyembuhan, Dina memilih agar Herry menyarankan kepadanya metode terbaik yang harus dijalaninya.

 

Sesuai diagnosis kanker yang telah menyebar di seluruh kelenjar getah bening di tubuhnya, Herry pun menyarankan metode chemotherapy. Menurutnya, inilah metode yang paling efekttif dan efisien untuk menyembuhkannya. Herry menjelaskan, metode ini lebih tepat karena obat langsung disebarkan di dalam tubuh. Sementara metode radiasi dikhawatirkan tidak mampu menyebar merata di dalam tubuh karena hanya dilakukan semacam penyinaran pada bagian luar tubuh.

 

Seperti halnya dalam konteks komunikasi interpersonal, keterbukaan menjadi sikap yang sangat penting untuk dilakukan, selain percaya (trust) dan sikap suportif.

 

Walaupun, pada kenyataan kasus ini, pasien memilih agar dokter yang menentukan keputusan terbaik untuk kondisi kesehatannya. Pilihan yang disodorkan dokter ini mengindikasikan, dokter tersebut telah memenuhi fungsi memberikan pilihan kepada pasien sebelum pasien nantinya dipersilahkan untuk membuat keputusannya sendiri.

 

Deklarasi Hak-hak Pasien dari World Medical Association (WMA) menyatakan: Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri.

 

Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk menolak perawatan, walaupun penolakan tersebut dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.

 

Bukti adanya ijin dapat eksplisit atau emplisit. Ijin eksplisit diberikan secara lisan atau tertulis. Ijin implisit jika pasien mengindikasikan kemauannya untuk menjalani prosedur atau tindakan tertentu melalui perilakunya. Contohnya ijin untuk venipuncture (suntikan pada pembuluh vena) secara implisit diberikan melalui tindakan memberikan lengannya.

 

Untuk tindakan yang dapat menimbulkan resiko atau melibatkan ketidaknyamanan yang tidak ringan, lebih baik mendapat ijin eksplisit bukan ijin implisit.

 

Ada dua perkecualian syarat untuk mendapatkan ijin berdasarkan pemahaman oleh pasien yang kompeten yakni, keadaan dimana pasien memberikan secara sukarela hak pengambilan keputusan kepada dokter atau pihak ketiga dan keadaan dimana penyampaian informasi kepada pasien dapat menyakiti pasien.

 

Keadaan yang disebutkan pertama bisa terjadi karena kompleksitas masalah atau karena pasien percaya sepenuhnya kepada penilaian dokter. Pasien dapat saja mengatakan ”Lakukan apa yang menurut anda yang terbaik”.

 

Dokter tidak boleh terlalu berani bertindak karena mendapat permintaan seperti itu, namun harus tetap memberi pasien informasi dasar mengenai pilihan tindakan yang ada dan tetap menyemangati pasien untuk mengambil keputusan sendiri. Namun setelah diberitahu dan didorong pasien tetap menyerahkan keputusan kepada dokter, dokter harus bertindak berdasarkan kepentingan terbaik pasien.

 

Inilah yang terjadi dalam awal hubungan interpersonal dalam sampel kasus ini.

 

Dina menggunakan hak pasien untuk memperoleh informasi dari dokter dengan banyak bertanya. Kali ini, ia bertanya, “Kalau saran Dokter, pengobatan yang mana yang terbaik untuk saya?”

 

Dokter menjawab alternatif kedua yakni, chemotherapy seraya mengemukakan lebih detil alasannya.

 

Menurut pasien dalam wawancaranya dengan saya, ia memilih menyetujui dan mengikuti saran dokter karena ia sudah merasa percaya dan cocok dengan dokter yang akan merawatnya itu.

 

Kemudian dokter menjelaskan ulang semua diagnosis dan metode chemotherapy beserta efek-efeknya kepada pasien. Ia kembali menanyakan pilihan dan keputusan pasien. Dina kembali menjawab lebih mantap. “Ya. Saya pilih ikut kata dokter. Saya pikir juga, chemoteraphy lebih tepat, Dok,” tuturnya saat berbagi pengalamannya kepada saya seraya mengekspresikan keyakinan pada wajahnya.

 

Dina memberikan hak pengambilan keputusan secara sukarela kepada Herry mengenai pemilihan metode pengobatannya.

 

Setelah melewati proses itu, Dina masih sempat untuk mempertimbangkan pengobatan di luar negeri, Prancis. Dina yang berkerja di lembaga kebudayaan di bawah konsulat Prancis ini juga memiliki koneksi dengan seorang dokter spesialis kanker asal Prancis yang tak lain ayah dari kawan baiknya di sana.

 

Dibantu Herry, komunikasi perihal penyakit dan hasil diagnosisnya dilakukan bersama dokter di Prancis. Hasil pemeriksaan di Indonesia termasuk hasil biopsi dikirimkan ke Prancis lewat Herry. Kurang dari seminggu kemudian, jawaban dari Prancis diterima Herry.

 

Rupanya, isi diagnosis termasuk jenis obat-obatan yang akan diberikan di Prancis untuk proses chemotherapy Dina di Prancis sama dengan yang akan diperolehnya di Indonesia. Dengan ditambah juga pertimbangan kedekatan jarak (proximity) dengan keluarga, Dina akhirnya memilih menjalani pengobatan di Indonesia.

 

Setelah itu, Herry juga dengan terbuka mempersilahkan Dina untuk memutuskan sendiri pilihan waktu yang tertepat dan terbaik bagi Dina untuk memulai proses chemoptherapy. Menurut Dina, beruntunglah ia telah memperolah gambaran proses yang akan ia hadapi sehingga Dina sudah dapat memprediksikan lemahnya kondisi fisiknya nanti.

 

Dengan kerangka pengetahuan yang telah ia dapatkan dari Herry itulah, Dina yakin, ia tidak mungkin dapat menjalani pengobatan sambil tetap berkerja, selayaknya rawat jalan untuk penyakit lain. Berangkat dari perenungan ini, Dina kemudian mulai mengatur waktu dan jadwalnya.

 

Saat itu, kebetulan menjelang akhir tahun, kala program-program acara dan kegiatan budaya di kantor ia berkerja tersebut sudah segera berakhir untuk tahun itu. Untuk itu, Dina memutuskan, ia akan merampungkan sisa-sisa pekerjaannya di penghujung tahun itu sebelum nantinya meninggalkan pekerjaannya selama kira-kira enam bulan hingga setahun pengobatan. Selang kira-kira sebulan dari keputusannya untuk menjalani chemotherapy di Indonesia, Dina lalu memutuskan memulai proses pengobatannya pada Desember 2003.

 

Sebelum memulai chemotherapy, Dina diharuskan menjalani general medical check-up. Hasilnya sangat menentukan kadar kimia yang akan disuntikkan serta periode dan jumlah pelaksanaannya. Menurut informasi dokter, Dina mengatakan, tinggi dan berat badannya sangat menentukan kadar kimia yang akan diberikan dalam terapinya. Dalam kasus Dina, chemotherapy dilaksanakan setiap dua minggu sekali.

 

Orang menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kemabali. Proses pengolahan informasi dalam konteks komunikasi disebut komunikasi intrapersonal.

 

Dalam mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru (creativity), berpikir dilakukan untuk memahami realitas. Memahami realitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari realitas eksternal dan internal.

 

Anita Taylor seperti yang dikutip Rakhmat menyebutkan, thinking is an inferring process (berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan).

 

Menurut Rakhmat, dalam pengambilan keputusan selalu melibatkan proses berpikir. Sementara keputusan yang diambil akan mempengaruhi keputusan-keputusan berikutnya (hal. 70).

 

Karena keputusan merupakan hasil berpikir, maka keputusan merupakan hasil intelektual. Dalam menetapkannya, selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif. Meskipun pelaksanaannya boleh ditangguhkan, keputusan selalu melibatkan tindakan nyata.

 

Dalam sampel kasus ini, pengambilan keputusan untuk persetujuan pelaksanaan terapi pasien diserahkan dokter kepada pasien. Artinya, dokter memberi kuasa penuh kepada pasien untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Namun sebelum memasuki tahap ini, dokter telah terlebih dahulu memenuhi fungsi ekspektasi dan tuntutan peranannya yakni, memberikan informasi yang dibutuhkan pasien untuk bahan pemikiran pasien membuat keputusan.

 

Dalam Kode Etik Kedokteran Internasional ditegaskan: Dokter harus memberikan kepada pasiennya loyalitas penuh dan seluruh pengetahuan yang dimilikinya.

 

Seperti halnya pula yang termaktub dalam Panduan Etika Medis (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta:Bab Dokter dan Pasien): Persetujuan yang berdasarkan pengetahuan merupakan salah satu konsep inti etika kedokteran saat ini. Hak pasien untuk mengambil keputusan mengenai perawatan kesehatan mereka telah diabadikan dalam aturan hukum dan etika di seluruh dunia.

 

Deklarasi Hak-hak Pasien dari World Medical Association (WMA) menyatakan: Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri. Dokter harus memberi tahu pasien konsekuensi dari keputusan yang diambil. Pasien dewasa yang sehat mentalnya memiliki hak untuk memberi izin atau tidak memberi izin terhadap prosedur diagnosis maupun terapi. Pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusannya. Pasien harus paham dengan jelas apa tujuan dari suatu tes atau pengobatan, hasil apa yang akan diperoleh, dan apa dampaknya jika menunda keputusan. Kondisi yang diperlukan agar tercapai persetujuan yang benar adalah komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien.

 

Dalam Panduan Etika Medis secara khusus juga ditegaskan persoalan ‘komunikasi dan persetujuan’ antara dokter dan pasien. Tertulis: Saat ini komunikasi memerlukan sesuatu yang lebih dari dokter karena dokter harus memberikan semua informasi yang diperlukan pasien dalam pengambilan keputusan. Ini termasuk menerangkan diagnosis medis, prognosis, dan regimen terapi yang kompleks dengan bahasa sederhana agar pasien paham mengenai pilihan-pilihan terapi yang ada, termasuk keuntungan dan kerugian dari masing-masing terapi, menjawab semua pertanyaan yang mungkin diajukan, serta memahami apapun keputusan pasien serta alasannya. Keterampilan komunikasi yang baik tidak dimiliki begitu saja namun harus dibangun dan dijaga dengan usaha yang disadari penuh dan di-review secara periodik.

 

Jika dokter berhasil mengkomunikasikan semua informasi yang diperlukan oleh pasien dan jika pasien tersebut ingin mengetahui diagnosis, prognosis, dan pilihan terapi yang dijalani, maka kemudian pasien akan berada dalam posisi dapat membuat keputusan berdasarkan pemahamannya tentang bagaimana menindaklanjutinya.

 

Dengan demikian, semakin tegaslah pentingnya komunikasi yang berlangsung dengan baik antara dokter dan pasien karena akan mempengaruhi kondisi pasien. Mulai dari perolehan informasi untuk pemahaman (kerangka kognitif) hingga pengambilan sikap dan keputusan (desicion making) oleh pasien.

 

Ilmu komunikasi menjadi salah satu ilmu sosial yang penting dikuasai oleh paramedik, selain misalnya, ilmu psikologi dan/ atau hibrida kedua cabang ilmu tersebut: psikologi komunikasi.

 

Institut of Medicine (IOM), sebuah institusi di dalam National Academie of Science, mendesak pemerintah federal AS untuk memasukkan mata-mata kuliah ilmu sosial dan ilmu perilaku dalam pendidikan kedokteran. Alasan mereka, dokter zaman sekarang harus mampu memeriksa pasiennya dari kacamata ilmu-ilmu tersebut yang dipandang sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Enam hal yang perlu diutamakan dalam pendidikan non-medis bagi para dokter: Pengaruh hubungan badan-jiwa terhadap kesehatan dan penyakit; Perilaku pasien; Peran dan perilaku dokter; Hubungan dokter-pasien; Masalah-masalah sosial dan budaya dalam pelayanan dan kesehatan; Kebijakan dan ekonomi kesehatan (Himpsijaya.org: Medan, 27/09/04).

 

Pada akhirnya………, hubungan dokter dan pasien dalam sudut pandang ilmu komunikasi dapat dikategorikan dalam hubungan interpersonal. Dalam konteks psikologi komunikasi, dokter dan pasien sesungguhnya sedang menjalani fungsi peran masing-masing dalam suatu skenario yang sudah menjadi konvensi suatu masyarakat. Oleh karena itu, hubungan dokter dan pasien dapat dikategorikan dalam Model Peranan.

 

Dalam Model Peranan (Rahmat.Psikologi Komunikasi.2000:122), setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan ‘naskah’ yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspektasi peranan (role expectation) dan tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan peranan (role skill), dan terhindari konflik peranan dan kerancuan peranan.

 

Ekspektasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok.

 

Tuntutan peranan adalah desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya. Desakan sosial dapat berwujud sebagai sanksi sosial dan dikenakan bila individu menyimpang dari peranannya.

Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu; kadang-kadang disebut juga kompetensi sosial (social competence). Di sini sering dibedakan antara keterampilan kognitif dan ketrampilan tindakan.

 

Keterampilan kognitif menunjukkan kemampuan individu untuk mempersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya-ekspektasi peranan. Keterampilan tindakan menunjukkan kemampuan melaksanakan peranan sesuai dengan harapan-harapan ini. Dalam kerangka kompetensi sosial, keterampilan peranan juga tampak pada kemampuan ‘menangkap’ umpan balik dari orang lain sehingga dapat menyesuaikan pelaksanaan peranan sesuai dengan harapan orang lain. Hubungan interpersonal amat bergantung pada kompetensi sosial ini.

 

Dalam situs ensiklopedia wiki disebutkan, pusat dari praktek kedokteran adalah hubungan relasi antara pasien dan dokter yang dibangun ketika seseorang mencari dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang dideritanya.

 

Ditegaskan pula, kualitas relasi pasien dan dokter sangat penting bagi kedua pihak. Saling menghormati, kepercayaan, pertukaran pendapat mengenai penyakit dan kehidupan, ketersediaan waktu yang cukup, mempertajam ketepatan diagnosis, memperkaya wawasan pasien tentang penyakit yang dideritanya dan hak otonomi pasien merupakan sikap dan kondisi yang menentukan hubungan bernilai positif di antara kedua belah pihak. Bahkan tidak hanya relasi dokter dan pasien, namun juga dengan sesama pasien dan antarparamedik di suatu lingkungan profesi tersebut seperti perawat dan para pekerja lembaga sosial.

 

Sikap dan kondisi tersebut dalam sudut pandang sistem komunikasi interpersonal dapat diketegorikan ke dalam role expectation dan role demands dari Model Peranan.

 

Menurut sumber yang sama, kecakapan klinis merupakan hal selanjutnya. Kecakapan klinis berarti sebuah evaluasi medis yang lengkap terdiri dari sebuah riwayat kesehatan yang mencakup komplain utama pasien; riwayat kronologis tanda-tanda dan klasifikasinya; aktivitas pasien saat ini termasuk hobi; riwayat pengobatan pasien; riwayat kesehatan pasien sebelumnya; tinjauan sistem tubuh pasien menurut pasien; sejarah sosial termasuk status perkawinan dan kebiasaan (habit); dan sejarah keluarga terutama yang berkaitan dengan penyakit genetik.

 

Selain riwayat kesehatan adalah pemeriksaan fisik dimana dokter berusaha mencari tanda yang dapat mendukung proses pembuatan diagnosisnya. Kecakapan klinis juga berarti menjalankan evaluasi hasil laboratorium atau citra medis, analisis data dan penentuan diagnosis, serta perencanaan perawatan atau pengobatan.

Fungsi-fungsi tersebut dalam sudut pandang sistem komunikasi interpersonal dapat dikategorikan ke dalam keterampilan peranan (role skill) dari Model Peranan.

 

Pada November 2004, Dina menuntaskan terapinya. Ia bahkan mendapatkan potongan satu kali chemotherapy karena menurut Herry, virus dan sel kankernya telah berhasil dimatikan.

 

Hingga kini, Dina telah sembuh total. Dengan konsep diri positif yang selama ini ia akui menjadi bagian dari sifatnya, ia berhasil melampaui masa terapi dan krisis dalam perjuangannya melawan kanker.

 

Bagi Dina, kesembuhan seseorang dalam melawan kanker, terletak pada kedua belah pihak. Baik dokter maupun pasien.

 

Herry, ia akui adalah dokter yang sangat baik, sabar, penuh pengertian, dan penuh penyemangat. Sifat dan karakter dokter itu lalu ia tambahkan dengan kekuatan dan semangat untuk sembuh yang ia pacu dalam dirinya sendiri. Semua hal itu, baginya, menjadi bentuk kerjasama di antara keduanya, laiknya sebuah tim.

 

Seperti ungkapan semangat dari Herry kepada Dina ketika waktu untuk memulai terapi sudah disepakati. Dengan bersemangat Herry berkata, “Saya yakin! Dina pasti akan sembuh. Dina orang yang sangat yakin, percaya diri, dan optimis. Itu bagus. Kita akan berkerjasama, Dina. Kita adalah tim!”****

Permalink Leave a Comment

Audience in Commentaire for KOC in Concert (full)

September 24, 2008 at 4:06 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , )

Lampiran II

Transkrip opini audiens

Beben (26) (mahasiswa FSRD ITB/ seniman)

Puas. Karena memang KOC bagus.

Sound-nya bagus.

Untuk orang Bandung, tiketnya lumayan mahal.

Tidak sengaja dapat tiket. Gara-gara terlalu mahal. Tiba-tiba dapat. Temennya kasih.

Kalo ia tidak mendapatkan ID secara Cuma-Cuma, ia tidak akan bela-belain membelinya. Karena terlalu mahal.

Angga (24) (Arsitek)

Keren. Pertunjukannya over all keren.

Kepenuhan. Pengap. Panas abis. Seharusnya lebih besar. Bandung sudah saatnya punya ruangan yang akustiknya bagus.

Karena panitia sudah memperingatkan agar penonton tidak banyak Soundnya jernih.

Peraturan panitia bahwa penonton tidak boleh bicara terlalu keras. Menolong sound keluar lebih jernih.

Namun ruangan Dago Tea House kurang bagus untuk akustik.

Kalau mereka bicara agak pelan sedikit tidak terdengar jelas. Meskipun mereka bicara dengan bahasa Inggris. Kadang tertangkap kadang tidak.

Barangkali Bandung sudah saatnya memiliki gedung pertunjukan yang besar. Namun tidak sebesar Gedung Sabuga. Karena Sabuga kurang sesuai juga. Serta gedung yang dirancang khusus untuk format musik akustik seperti ini.

Ia fans dan suka musik seperti itu.

Harga tiket diharapkan bervariasi sesuai dengan tempat duduknya. Jangan dipukul rata.

Untuk sebuh KOC, harga tiket cukup. Tapi tetap tidak adil dan rasanya kemahalan bila dipukul rata bagi yang duduk di depan maupun di belakang.

Karena sudah bekerja, ia jabanin juga membeli tiket.

Karin (20) (pelajar)

OK. Rugi banget kalau gak nonton.

Harga tiket sebanding dengan penampilannya.

Seperti mendengar langsung dari CD.

Vina (22) (penyiar radio Oz)

Puas banget. Tidak sia-sia membayar 250 ribu. Sialan kenapa harus bayar. Orang-orang bisa juga gratisan.

Agak sedikit mahal. Tapi fine.

Nge-fans.

Speaker banget. Ia duduk tepat di samping speaker.

Ternyata orang lucu. Justru lucu. Mereka bisa main musik seperti itu, tapi orangnya lucu. Imut. Begitu muda. Dan gila.

Mereka berdua sudah kelamaan bergaul bareng sehingga tampaknya saling melengkapi. Begitu match di atas panggung.

***

salam,.

my>k

Permalink Leave a Comment

Exclusive Interview with Erlend Oye (I mean.., Exclusive)

September 24, 2008 at 3:29 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , )

an Exclusive Interview with Erlend Oye, by Maya Soetoro Dwidjo

Lampiran I

Obrolan terekam bersama Erlend Oye: Exklusif

Shortly, what do you call your music? The genre.

(Secara singkat, apa jenis musikmu?)

I don’t know. It’s hard to find it. I would wish I could find a good name for it.

When you are in childhood, what was your dream to be?

(Saat kamu kanak-kanak, apa cita-citamu?)

I think, to sing and to make song was definitely what I wanted to do but I never said that I wanted to be. But what I always want to do is to have a job that I’m enjoy it to do. That was a fun job.

When did you started to play music? How do you learn or study about music?

(Kapan kamu mulai bermusik? Bagaimana kamu mempelajarinya?)

I don’t really play an instrument before I was 16th.

I never studied. That’s the thing. I never studied music.

I played with my friends. We learn each other. Like a little bit there. A little bit there. Finnaly..(thus).

Along of your journey, have you ever found some difficult moment? If so, how do you handle it?

(Selama perjalananmu, pernahkah kamu menemukan masa-masa sulit? Bila ya, bagaimana kamu mengatasinya?)

Well, the whole very much point for making a song is that you are making a song about at difficult moment. About something sad for example. It is such an amazing thing that you can turn something sad into something beautiful. That is the main reason for making music, you know..?

I experience something sad in February 2000, for example. And then, in 2006, I played this song in Bandung. And everyone knows about this. And everyone sings along to this moment. And you can go back to this moment that you write about. And it seems it makes you so optimistic. It means that, you know, you can set your mind to do something and it multiplies.

Along of your journey, who’s the person that really support you?

(Sejauh ini, siapakah orang yang paling mendukungmu?)

My mom. Yes, the one I’ve told she is a panter. She’s the one who is always supported me. Well a lot of people.., I think, everyone meet a lot of resistance when they want to become. My mom has supported as she could possibly be.

For all around the world. In your opinion. Make a definition or meaning of a Mom or Mother?

(Katakan pada dunia. Dalam opinimu, apa definisi atau makna seorang ibu?)

For me, Mom is the person that makes you feel the more save. I guess the person that you can trust the most.

[Click. Off. Gone.]

[Tamat]

***

salam,.

my>k

Permalink Leave a Comment

Kings of Convenience Liputan Konser (4) : Limited Press Conference in a Lunch with KOC

September 24, 2008 at 3:21 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , )

Hari II

Senin, 20 Maret 2006

Ranca Bentang. Sebuah rumah di sisi kiri Hotel Malya.

Acara Makan Siang bersama K.O.C. Acara makan siang (ramah tamah) yang dihadiri oleh kalangan sangat terbatas. Kalangan panitia yakni dari FFWD dan teman-teman terdekat mereka.

Pers yang diundang hanya dari STV dan Radio Oz. Namun ternyata hadir pula dari media Ripple Magazine. Sebuah media yang baik secara saham maupun redaksi masih dikelola oleh lingkungan yang sama.

**

Sebelum menghadiri acara makan siang, Eirik dan Erlend menyempatkan diri berjalan-jalan. Berputar-putar di kota Bandung. Ditemani oleh panitia bersangkutan. Erlend dikabarkan sangat gila dan menikmati perjalanan itu.

**

Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan KOC tiba juga di rumah itu. Mereka sudah menyelesaikan proses check out-nya. Kami yang sudah menanti di beranda belakang, bersamanya saling menyapa.

Erlend datang lebih dahulu. Sementara Eirik bersama manajernya, menyusulnya dari arah masuk yang berbeda.

Erlend kemudian diberi sekantong bingkisan. Isinya tak lain adalah t-shirt distro Monik. Distro yang dikelola masih oleh lingkungan yang sama. Ia asyik melihat-lihat.

Eirik seperti biasa, senyam-senyum melihat temannya membuka-buka kado itu. Suasananya begitu santai. Yang lain tampak mengobrol satu sama lain. Justru tiba-tiba, Eirik sudah berada di samping saya. Saat itu, ia mengobrol dengan Erlend dan juga manajernya.

Tiba-tiba Eirik terkesan dengan bunyi mendengung yang terdengar olehnya di rumah itu. Dari arah lembah yang berdampingan dengan tempat kami. Suara hewan itu berdengung nyaring sepanjang waktu. Eirik kemudian menanyakan suara apakah itu. Setelah diberi tahu bahwa itu suara riang. Hewan sejenis serangga. Kecil. Hampir seperti lebah. Barulah ia tersenyum lebar. Kedua lesung pipitnya muncul bersamaan. Semalam ia pikir, itu suara mesin.

Last night, I thought it was a sound of machine,” (Semalam, saya pikir itu suara mesin) ujarnya. Ia telah mendengarnya semalaman saat menginap di Hotel Malya, Bandung.

Tak lama kemudian, Eirik dan saya sudah mulai membuka percakapan.

Eirik mengatakan bahwa ia senang bisa berputar-putar di kota Bandung. Ia terkagum-kagum dengan begitu banyaknya pohon di Kota Bandung. Terutama warna hijaunya yang menurutnya aneh. Tak seperti warna hijau yang biasa ia lihat. Unik.

In Bandung, there’s so much trees. And the green colour of the leaves of the trees is so strange. So different. It is unusual green. I like it. It’s a green kind that I’m not use to see,” (Di Bandung, ada begitu banyak pohon. Dan warna hijau daunnya begitu aneh. Begitu berbeda. Bukan hijau yang biasanya. Saya suka. Bukan jenis hijau yang biasa saya lihat) ujar Eirik berkomentar.

Eirik juga berpendapat bahwa tidak ada banyak dan tidak ada cukup luas trotoar di Bandung. Sehingga tidak bisa dengan berjalan-jalan untuk melihat kota. Melainkan dengan berkendara.

There is not enough trotoar in Bandung. We can not walking around. But we driving around,” (Di Bandung, tidak ada banyak dan cukup luas trotoar. Jadi tidak mungkin berjalan-jalan kaki. Kami harus berkendara) ujarnya.

Namun, sungguh amat disayangkan. Obrolan yang mulai terbangun manis itu harus dipotong dahulu. Makan siang telah siap. Teman-teman mulai turut mempersilahkan saya ikut serta.

Saat makan siang, posisi saya tidak menguntungkan. Yang berkumpul sangat banyak. Di meja makan duduk duo favorit itu. Namun, kursi lainnya sudah pula cukup terisi. Akhirnya saya harus sedikit bersabar untuk bisa bergabung lebih dekat dengan keduanya itu.

Akhirnya, selepas mengambil air mineral, saya mulai bergabung di meja makan yang sudah agak kosong.

Rupanya, Eirik dan Erlend sedang terheran-heran dengan begitu banyaknya anak-anak yang tidur dan mengamen di jalanan. Begitu banyak gelandangan. Pemandangan yang mengherankan. Setelah dijelaskan kondisi umum dan penyebabnya antara lain kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi, mereka sangat menunjukkan simpatinya.

Siang yang begitu cerah lagi sejuk. Namun, sayangnya, kembali obrolan kami harus terputus. Karena keduanya harus melakukan wawancara dengan pihak lain.

Saya mulai memasang telinga baik-baik. Namun obrolannya memang tidak seserius itu. Mereka lebih banyak bercanda. Terutama Erlend.

Beberapa hal dapat disarikan dari obrolan itu. KOC mengaku lebih senang tampil di Indonesia (Jakarta dan Bandung) dibandingkan Singapura. Karena penonton di Singapura terlalu sopan (kalem). Tidak seperti di Indonesia, semua ikut menyanyi dan menari.

In Singapore, they are too polite. Just sit and clapping. But in Indonesia, everyone knows the songs and sing togother, too. That’s great,” (Di Singapura, mereka terlalu kalem. Haya duduk dan bertepuk tangan. Tapi di Indonesia, semuanya tahu lagu-lagu kami. Menyanyi bersama pula. Ini hebat) tutur Eirik.

Mereka juga mengaku tidak khawatir dengan berita isu-isu teroris di Indonesia. “Sometimes. So many strange things. It’s so many in news,” (Kadangkala, ada banyak hal aneh. Begitu banyak yang demikian di berita) ujar Eirik.

Mengapa dan apa yang paling berkesan tampil di Indonesia juga menjadi pertanyaan. Erlend dengan nada bercanda menjawab, “Because we want to. Because everyone sings together. And we paid.” (Karena kami mau. Karena semuanya menyanyi bersama. Dan kami dibayar pula). Langsung disambung tawa mereka yang hadir.

Alasan kebiasaan mereka berdua di atas panggung untuk berdiskusi pun dibawa gurau. “Sometimes, I want to go the toilet, you know,”(Terkadang saya ingin ke toilet) jawab Erlend cuek. Belum lagi reda tawa yang hadir di situ. Ia pun menambahkan, “Well, or it is also could be what song next is.” (Atau bisa juga menanyakan, lagu apa yang akan dibawakan)

Paling tidak ini menjelaskan mereka yang bertanya-tanya. Penampilan mereka berdua di atas panggung memang lebih dari kompak. Ada yang menduga homo. Tapi barangkali yang lebih tepat: Satu Hati.

Ketika dua orang sudah satu, pastinya akan saling memikirkan satu sama lain. Berunding adalah salah satu cirinya. Keterpautan batin dan sinergitas energi yang kuat. Kedua hal itu sangat dominan menggambarkan penampilan Kings of Convenience di Bandung malam itu.

Cayman Island. Eirik mengakui dengan raut wajah memerah dan tetap dengan senyum simpulnya. “It was a story about a trip with my girl friend,” (Ini cerita tentang kekasih saya dulu) tutur Eirik. “It was my first song,” (Ini lagu pertama saya) tambahnya.

It was my second first song,” (Ini lagu awal saya yang kedua) ujar Erlend. Lagi-lagi Erlend mengundang gelak tawa. Sementara Eirik hanya menoleh kepada Erlend. Tanpa berkomentar apapun.

Well, I make the guitar, you know?” (Yaa.., saya yang membuat ragam gitarnya) tutur Erlend lagi.

Kesimpulannya, obrolan untuk TV swasta lokal Bandung itu benar-benar penuh canda dan ledekan. Cukup bagus untuk menimbulkan kesan santai dan akrab bagi sang artis apabila disaksikan pemirsanya.

*

Ia sesungguhnya tampak sudah bosan dengan sekian pertanyaan, wawancara, dan foto-fotoan yang dilakukan di rumah itu. Kabarnya, Erlend agak sulit ditemui media. Ia juga kerap disebut pundungan –dalam Bahasa Sunda. Artinya, gampang ngambek.

Erlend tampak mulai menghindari beranda belakang, tempat semua orang berkumpul. Ia masuk dan mengambil segelas air minum. Saat ia mengamati kebun belakang di sisi berlawanan dengan beranda sebelumnya, saya mulai menghampirinya.

Meskipun ada sedikit ragu, saya juga yakin untuk mendekatinya. Perlahan saya menyapanya. Kemudian, saya biarkan ia mengetahui bahwa maksud saya juga masih seputar wawancara dan media.

Raut mukanya kemudian kembali kaget. Barangkali ia berpikir, seperti tiada kesudahannya. Namun, alangkah tidak disangkanya ia justru mengajak saya untuk berbincang sambil melihat-lihat kebun belakang.

Kami berdua kemudian menyusuri jalan setapak menurun. Disana kami bisa melihat pepohonan yang lebih rimbun. Ada makam keluarga yang dikagumi Erlend. Lalu semak pohon bambu yang sangat hijau batang-batangnya. Yang ia tak pernah lihat sebelumnya.

I like this. This bamboo. This is great. I never see this,” (Saya suka ini. Bambu ini. Ini hebat. Saya tak pernah lihat ini) ujarnya.

**

Erlend tidak dapat menyebutkan secara pasti. Sebuah nama atau genre tertentu untuk jenis musik yang diciptakannya. Ia berharap, seandainya saja ia bisa menemukan nama yang baik untuk itu. Nama yang cocok.

Bagi Erlend, sejak kecil, menyanyi dan mencipta lagu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh telah ia idam-idamkan. Namun ia tidak pernah berkata, ia berharap akan menjadi sesuatu atau seseorang tertentu.

Akan tetapi, yang sebetul-betulnya ia ingin lakukan adalah memiliki pekerjaan yang bisa sangat ia nikmati dalam melakukannya. Sesuatu pekerjaan yang menyenangkan.

Tampaknya ia membiarkan segala sesuatunya mengalir secara alami. Termasuk dalam prosesnya. Dalam perjalanannya mencapai semua ini.

Sebelum berumur 16 tahun, saya belum benar-benar memainkan instrumen. Saya tidak pernah belajar. Begitulah. Saya tidak pernah belajar musik. Saya bermain dengan kawan-kawan. Kami belajar satu sama lain. Seperti sedikit-sedikit begini. Sedikit-sedikit begitu. Akhirnya.., demikian,” tuturnya.

Dalam mengatasi dan melewati masa-masa sulit , Erlend memiliki pendapatnya sendiri.

Poin yang sangat utama dalam mencipta lagu adalah bahwa kamu membuat lagu tentang sesuatu di masa yang sulit,” katanya.

Tentang sesuatu yang sedih, misalnya. Adalah hal yang sangat mengagumkan kalau kamu bisa memutar sesuatu yang sedih menjadi sesuatu yang indah,” lanjutnya.

Itulah alasan utama dalam membuat lagu,” tegasnya.

Kemudian, ia berbagi sedikit ilustrasi pengalaman psikologis yang dialaminya. Seperti dalam konsernya di Bandung.

Contohnya, saya mengalami sesuatu yang sedih pada Februari 2000. Lalu, di tahun 2006, saya memainkan lagu itu di Bandung,” tuturnya mulai berkisah.

Dan semua orang tahu lagunya. Dan semuanya bernyanyi bersama sepanjang waktu itu. Dan kamu bisa kembali ke masa yang kamu tuliskan itu,” ungkapnya dengan sedikit terbata-bata. Serius dalam mengungkapkan pikirannya. Ada kehati-hatian di dalamnya.

Dan rasanya.., hal itu membuatmu merasa begitu optimis. Ini berarti, kamu bisa mengatur pikiranmu dan itu berlipatganda,” ujarnya yakin. Ada keteduhan dalam sorot matanya.

Erlend diam-diam menyimpan memori dalam tentang ibunya. Baginya, ibunya yang paling mendukungnya. Ialah yang membantunya melewati masa-masa sulit.

Ibuku. Ya, orang yang saya pernah ceritakan, seorang pelukis. Ialah seseorang yang selalu mendukung saya,” tuturnya. Kali ini nada bicaranya melembut.

Banyak orang.., saya pikir.., setiap orang bertemu dengan banyak pergolakan saat mereka ingin menjadi sesuatu. Ibuku, ia telah mendukungku semampu yang ia bisa,” ujarnya kembali hati-hati.

Setelah beberapa detik berpikir atas pertanyaan terakhir saya. Menutup obrolan, Erlend pun menjawab dengan nada pasti. Erlend punya pesan kepada seluruh dunia, tentang makna seorang ibu.

Bagi saya, ibu adalah seseorang yang membuatmu merasa lebih aman. Saya rasa, ialah orang yang paling bisa kamu percaya.”

TAMAT

**

salam,.

my>k

Permalink Leave a Comment

Kings of Convenience Liputan Konser (3) : KOC After Party

September 24, 2008 at 3:07 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , , , , )

After Party

Traffic Light. Jalan Braga.

Seusai pertunjukan. Bersama DJ Erlend Oye dan Party-enjoyer Eirik.

Seusai pertunjukan, pesta bersama KOC masih akan tetap berlangsung. Selanjutnya adalah di Traffic Light (TRL). A bar and lounge. Sebuah bar yang berlokasi di kawasan Braga.

Di bar yang berada di lantai dua sebuah gedung kuno ini, KOC berkumpul bersama the partygoers (penggila pesta). Mereka yang di sana adalah lingkungan sendiri.

Fast Forward (FFWD) selaku penyelenggara di Bandung memang terkenal selalu mengadakan after party di TRL. Sebuah pesta kecil. Sebuah moment usai penampilan di mana siapapun bisa ikut bergabung. Termasuk kali ini bersama KOC.

Di TRL, Erlend bahkan tampil sebagai DJ selama tak kurang dari satu jam. Enjoy the Silence milik Depeche Mode dan There’s a Light that Never Goes Off dari The Smiths adalah dua remix di antaranya yang ditampilkan. Menjelang Erlend menutup penampilannya sebagai DJ, Bizzare Love Triangle yang sangat populer dari Frente juga turut menggairahkan penggila disko.

After Party ini adalah penampilan ekstra dan cuma-cuma dari KOC. Sekaligus memberi kesempatan bagi penggemar yang tidak sempat menikmati penampilan panggung mereka sebelumnya. Seperti yang dilakukan Tisa dan teman-temannya. Mereka menyengajakan datang ke TRL untuk bertemu langsung dengan duo Norwey ini.

Mereka menyempatkan berfoto bersama. Juga turun ke lantai disko bersama.

Menurut mereka, tiket yang dijual memang terlalu mahal. Seandainya Rp 150.000 – Rp 200.000, kemungkinan besar mereka masih sanggup. Maklum, kantong mahasiswa pada umumnya memang pas-pasan.

Tentu saja, penampilan Erlend ini sangat jauh berbeda dengan KOC beberapa jam sebelumnya. Namun bagi penggemar berat KOC. Tentu takkan heran melihat hal ini. Sebelum melahirkan album indie pop KOC yang ke-2 (Riot on an Empty Street) Erlend justru selama tiga tahun lebih dikenal sebagai DJ di Eropa.

Sedangkan KOC, disebut-sebut sebagai Simon & The Garfunkel versi dekade ini. Musik KOC seringkali dikaitkan dengan duo lawas yang populer pada dua dekade silam. Seperti komentar Eric, pengasuh milis kritik musik, Deathrockstar. “Saya suka KOC karena saya suka Simon & the Garfunkel,” ujarnya di TRL pada saya.

*

Eirik tampak lebih suka minum bir dan duduk. Sementara Erlend, langsung menuju turn table seraya minum coke. Pesta kembali dimulai.

Kesempatan seperti ini memang menarik. Sambutannya juga tak kalah heboh saat Erlend maju ke turn-table untuk ber-DJ. Sementara Eirik yang pada awalnya hanya duduk-duduk saja kemudian pun turut turun ke lantai disko.

Di TRL, mereka cenderung tidak banyak mengobrol. Hanya meladeni para gadis yang sibuk ingin berfoto bersama. Sebelumnya, Eirik dan Erlend memang turun ke lantai dansa. Bersama yang lainnya. Mereka yang ada di sana sangat menyambut dan menerima kehadiran KOC sebagai sesama pengunjung bar. Mereka bersama-sama ada di lantai dansa. Sebagian lainnya, secara normal, ada yang duduk di bar. Ada pula yang duduk-duduk di sofa menyaksikan.

Namun keduanya tetap menjadi pusat perhatian. Rasanya, ke mana pun mereka melangkah. Apapun yang dilakukannya, selalu akan ada yang mengamatinya.

Eirik menyudahi diskonya sebelum Erlend selesai ber-DJ. Sementara tak lama kemudian, Erlend pun selesai dengan turn table itu. Genap sudah satu jam Erlend memimpin disko di TRL. Terhitung dari jam 01.00 s.d. 02.00 WIB. Selanjutnya, Erlend menyantap nasi goreng yang sudah dipesankan manajernya. Tak lama kemudian mereka berdua beserta manajer beranjak dari TRL. Para pengunjung pun mulai berkurang. Meskipun disko tetap berlangsung hingga jam 3 pagi. Namun, sudah sepi pengunjung. Closing time.

salam,.

my>k

Permalink 1 Comment

Kings of Convenience Liputan Konser (2): Audience on Commentaire for KOC in concert of Bandung, ID

September 24, 2008 at 3:01 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , )

Komentar audiens

Rata-rata audiens berkomentar puas akan penampilan duo Norwegian ini. Karena bagi mereka, KOC memang sudah istimewa. Harga tiket Rp 250.000 terbilang tidak menguras kantong sia-sia. Meskipun bukan berarti harga itu terbilang murah. Seperti Angga (24). “Karena tidak ada kategori posisi penonton (kursi), rasanya tiket kemahalan,” tuturnya. “Sebaiknya ada kategori tempat duduk,” lanjutnya.

Sementara bagi Vina (23) dan Karin (20) yang mengaky nge-fans berat. Harga tiket itu memang sebanding dengan penampilan KOC.

Lain lagi dengan Beben (26), salah satu audiens yang memperoleh ID secara gratis dari kawannya. Ia mengaku harga tiket kemahalan. Meskipun ia juga nge-fans, namun ia tidak akan menyengajakan membeli tiket.

Secara umum, penampilan KOC sangat memuaskan. Hal ini memang tampak jelas dari respon audiens yang sangat antusias sepanjang penampilan hingga ke puncak ekstranya. Bisa dipastikan, mayoritas yang datang adalah fans berat KOC.

KOC memang duo pemain dan pencipta musik yang andal. Singkatnya, bagus dan keren bagi penggemarnya. Sound yang keluar sangat jernih. Namun sayangnya, untuk menggapai audiens yang lebih dari 1000 orang, kekuatannya kurang.

Saran panitia agar audiens tidak bicara keras-keras sangat menolong tertangkapnya volume. Obrolan yang dilontarkan Erlend di panggung pun timbul tenggelam. Kadang bersaing dengan musik. Kadang tenggelam entah di mana. Selain karena persoalan bahasa yakni Bahasa Inggris yang sangat british style (beraksen kuat Inggris), kekuatan volume menjadi kelemahannya.

Barangkali sudah saatnya, Bandung memilki gedung pertunjukan yang sesuai untuk musik akustik dan berkapasitas besar. Meskipun tidak perlu sebesar Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Harga sewa gedung yang mahal dan semangat aliran indie dirasa tidak akan sesuai di tempat yang sangat komersil.

Meskipun ada beberapa yang kemudian keluar dari lokasi justru pada saat KOC sedang main. Rupanya, mereka bahkan tidak tahu lagu-lagu KOC. Mereka hadir karena diberi ID gratis (free-pass/ undangan). Namun di tengah-tengah konser, mereka sadar bahwa KOC kurang menarik perhatian mereka untuk tetap tinggal.

Seperti Windy (26). Ia mengaku tidak terlalu menyukai musik KOC, maka ia keluar.

**

salam,.

my>k

Permalink Leave a Comment

Kings of Convenience Liputan Konser [Reportage for GATRA magz] Dua Hari bersama Eirik Boe & Erlend Oye, Dua Hari Berbagi Riang & Haru

September 24, 2008 at 2:51 pm (GATRA, Journal, Musique, Reportage) (, , , , , , , , , , , , , , , )

Dua Hari bersama Eirik Boe & Erlend Oye,

Dua Hari Berbagi Riang & Haru

Pertunjukannya di Bandung, begitu dikagumi. Kings of Convenience bertahta di hati para pengagum. Ialah Eirik,pengagum alam, dan Erlend, pengagum figur ibu.

Pesta bagi Fanatik Duo Raja: Kings of Convenience

Menjelang pukul 6 sore, antrian calon penonton begitu panjang. Akan tetapi, mereka tidak bisa mudah memasuki area. Para penjaga melakukan penjagaan ketat. Memeriksa barang bawaan termasuk peraturan yang meresahkan audiens. Tidak boleh membawa kamera.

Para calon penonton terlihat resah. Gusar. “Kok lama banget, sih?” Begitu kira-kira keluhan Anne (23) di tengah antrian.

Alhasil, Cherry Bombshell, band pembuka I, tampil satu jam setelah jadwal berlaku. Seharusnya jam 18.00 menjadi jam 19.00 WIB.

Tak kurang dari 7 lagu dibawakan band bervokalis mungil ini. Termasuk nomor andalan Langkah Peri yang mendapat sambutan meriah.

Sekitar 45 menit berlalu, layar kembali tertutup. Audiens kembali dibuat menunggu.

Di sela-sela itu, sebuah pengumuman terdengar. Meminta audiens untuk berdiri pada saat band selanjutnya tampil. Agar suasana lebih hidup. Namun audiens tidak menanggapi selain tak bergerak. Satu dua sahutan menolak terdengar.

Akhirnya, setelah 15 menit lamanya tidak ada perkembangan, layar kembali dibuka. Kali ini, giliran Pure Saturday, band pembuka II.

Setengah jam lamanya, band ini tak pernah berubah mengesankan penggemarnya karena permainan akustiknya yang kental. Nomor lawas seperti Kosong selalu menggairahkan penonton. Tak ketinggalan Silence yang muncul sebagai tembang penutup.

Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 20.30 WIB. Beberapa penonton tampak keluar sejenak untuk sekedar menghisap rokok atau ke kamar kecil. Maklum, di dalam gedung, panitia memberlakukan larangan merokok.

Meskipun harus menanti tak kurang dari setengah jam, penonton tidak rewel. Mereka tetap duduk tenang di tempat masing-masing.

Sementara malam itu, gedung memang sangat padat. Para penonton betul-betul berhimpitan satu sama lain. Tak satupun berdiri. Tentu saja. Kalau berdiri, pastilah akan mengganggu pemandangan yang di belakangnya.

Seperti inilah karakter penonton di Bandung. Paling tidak, dalam acara-acara musik indie seperti ini.

Sejak musik pembuka disuguhkan, audiens tetap tenang duduk. Tidak pada setiap nomor lagu usai dimainkan mereka bertepuktangan meriah. Seperti pada saat kedua band pembuka tersebut tampil. Tidak sedikit audiens terkadang tidak bertepuktangan sama sekali. Ada anggapan, audiens di Bandung adalah penikmat dan pemerhati sejati. Mereka bertepuktangan bila menginginkan. Bukan sekadar formalitas.

Tentu saja sangat berbeda dengan yang terjadi pada giliran Kings of Convenience (KOC). Setiap nomor lagu diberi sambutan hebat. Sebagian besar nomor lagu turut dinyanyikan bersama. Iring-iringan histeria audiens benar-benar mewakili sambutan mereka terhadap penampilan duo ini.

Penampilan Kings of Convenience

Demikianlah tatkala waktu mulai beranjak menuju 21.00 WIB. Layar kembali dibuka. KOC memasuki panggung. Eirik Glambek Bøe (30) disusul Erlend Øye (30). Disambut sangat meriah penonton. Senyum menghiasi kedua wajah mereka. Keduanya langsung meraih gitar akustik masing-masing.

Tanpa basa-basi, duo ini langsung memasuki persembahan pertama mereka. Serentak audiens mengatupkan mulut mereka rapat-rapat. Mulai menyimak penampilan yang sudah dinanti-nantikan.

Nomor pertama untuk malam itu adalah Until You Understand. Single dari single CD yang bertajuk Playing Live in a Room (2000). Audiens masih begitu kalem menyimak idolanya sungguh-sungguh tampil langsung di depan mata. Begitu seterusnya hingga nomor ke-2, Love Is No Big Truth. Yang sebelumnya diselingi tepukan tangan meriah.

Seusainya, terdengar sapaan yang tak terduga. “Kumaha damang?” sapa Eirik. Seraya tersenyum, ia sempat melempar arah pandangnya ke bawah. Teriakan, tepukan tangan, dan siulan muncul menjawabnya. Duo itupun saling melempar pandang. Kedua lesung pipit Eirik masih mengapit senyumannya.

How do you say ‘Yes’?” (Bagaimana untuk bilang ‘Yes’?), lanjut Eirik. Audiens kompak menjawab, “Ya!”

Dicoba ikuti Eirik. Tentu saja dengan aksen british (keinggrisan). Masih disambut meriah penonton.

Melengkapi Eirik, Erlend menanyakan antonimnya. And how do you say ‘No’?” (Dan bagaimana untuk bilang ‘No’?). Jawabannya sudah pasti ‘tidak’. Kali ini, suara audiens tidak terdengar serempak. Setelahnya, Eirik justru mengartikannya lain. Ne.., ujar Eirik.

Terdengar tidak menyerupai sama sekali. Tidak seperti antonimnya. Bahkan diulanginya beberapa kali. Barangkali karena pengucapan penonton tidak terdengar jelas. Terdengar tawa sedikit-sedikit. Barangkali keduanya sama-sama tidak mengerti.

Erlend justru mengucapkan kata lain. Kali ini agak aneh di telinga audiens. Mereka menunggu beberapa saat setelah Erlend mengulanginya. Ciaa.., ujar Erlend. Kurang lebih seperti itulah apabila dituliskan dalam ejaan Bahasa Indonesia.

Do you know what it means? (Tahu apa artinya?) tanya Erlend ke audiens. Ia bertanya sambil mengangkat-angkat kedua belah lengannya seraya memanjangkan bunyi pada suku kata kedua. Ciaa.. Terdengar sesekali gelak tawa di antara audiens. Sementara Eirik dan Erlend sudah senyam-senyum di atas panggung atas ulah jenakanya sendiri.

In our language, it means yes and no in the same time,” (Dalam bahasa kami, artinya ya dan tidak pada waktu bersamaan) tutur Erlend. Membolak-balikkan telapak tangannya. Berlawanan arah. Seakan berusaha menunjukkan kontradiksi (hal kontradiktif). Sementara audiens tengah tenggelam antara gelak tawa, siulan, dan sederet bentuk sorak sorai kecil lainnya. Mengexpresikan respon mereka atas polah jenaka Erlend.

Barangkali ada padanannya. Dalam Bahasa Prancis dikenal comme ci comme ca. Dalam Bahasa Inggris dikenal a kinda/ something like that. Dalam Bahasa Indonesia dikenal nggak juga/ ya, begitulah/ ya, gitu deh.

Di antara gelak tawa itu, Eirik dan Erlend kerap saling melempar pandang. Eirik kemudian mulai mendentingkan dawai-dawai gitarnya. Merangkaikan nada memasuki melodi intro nomor ke-3 malam itu. Penonton kontan menyambut luar biasa.

Sepertinya mereka sudah bisa menebak lagu apa yang akan dibawakan selanjutnya, Cayman Island. Andalan berikutnya dari album terakhir (Riot on An Empty Street) (2004).

Nomor ini tampak mulai menghangatkan suasana. Audiens yang ikut menyanyi lebih berani dan banyak. Agaknya liriknya juga lebih dikuasai audiens.

Setelah disambut meriah, duo ‘raja’ ini langsung membuat medley ke lagu I Don’t Know What I Can Save You From. Sebuah nomor yang muncul dalam album pertama (Kings of Convenience) (2000) dan album ke-2 (Quiet is The New Loud) (2001).

Audiens pun langsung turut menyanyikannya. Pada bridge, audiens tak tahan untuk bertepuktangan mengagumi melodi apik Eirik. Ketika memasuki bridge ke-2, audiens turut memberi ketukan lewat tepukan tangannya. Hingga menuju closing.

Thank you,” ujar Eirik dengan suara yang rendah seraya hanya tersenyum. Penampilannya yang cederung kalem dan hanya melempar senyum justru tampak mengundang kegemasan penonton. Terutama the ladies.. Gelak tawa dan siulan menyertai.

Selanjutnya, nomor yang muncul hampir semuanya datang dari album terakhir KOC. Seperti Winning A Battle, Losing The War dan Gold In The Air Of Summer.

Dalam Gold In The Air of Summer, dentingan tajam piano Erlend membuat penonton terpaku. Seluruh audiens seakan-akan kian tersihir pesona melankolik KOC. Musik yang rasanya muncul dari hati mereka berdua. Menyentuh hati hadirin pula.

Sementara di media area, fotografer yang masih belum boleh memotret hingga nomor ke-11 nanti, tampak turut tersihir.

Pada awalnya, tidak ada yang boleh berada terlalu dekat dengan bibir panggung. Namun, kian lama, semua orang seakan kian terserap ke arah panggung. Selain karena bersiap-siap memotret pula.

Dentingan piano pada nomor ke-7 mulai dimainkan. Kali ini duo juga melakukan medley. Dari album ke-2, KOC memainkan Singing Softly To Me dan The Girl From Back Then berturut-turut. Pada nomor ini penonton sangat riuh. Semakin tergila-gila menyambut.

Erlend mengajak penonton menari. Bergoyang di sana dan di sini. Erlend tampak lebih atraktif dibandingkan Eirik. Ia senang bergerak-gerak. Ia menari dengan gaya yang sangat smooth (lembut). Mengikuti irama dan ketukan lagu.

Seperti ketika kali lain, ketika ia sesekali meletakkan gitarnya pada dudukannya. Saat itu, ia pun menjentik-jentikkan jari-jemari kedua tangannya. Membentuk ketukan. Berjalan ke muka panggung, ke arah penonton. Tersenyum dan tetap memain-mainkan kedua lengan jenjangnya ke sana ke mari.

Ia juga sempat kembali ke piano dan mendentingkan nada-nada tajam nan membawa pendengar untuk semakin larut dan tersentuh.

Sementara Eirik tekun dengan dawaian gitarnya. Di bridge mendekati closing, lagi-lagi Erlend mengajak penonton ikut serta dalam kegilaannya. Ia meminta audiens untuk mengikuti bunyi ‘U’ yang dipanjangkan untuk mengiringi closing lagu ini. Audiens rupanya mengikuti anjurannya. Di sela-selanya, tawa geli audiens dan senyum puas Erlend dan Eirik menghiasi.

Stay Out Of Trouble pun sesuai untuk melanjutkan romantisme ini. Pada nomor ini, audiens serempak mengisi dengan siulan. Menggantikan detil nada yang menjadi ciri khas lagu ini. Yang dalam versi rekamannya secara variatif diisi oleh gesekan cello yang menyayat dan betotan (tarikan) bass yang naik turun. Siulan membuat lagu ini terdengar lebih ceria. Lebih ringan nuansanya.

Lucunya, pada saat interval nada dinaikkan setengah, sesiulan itu mulai simpang siur. Mulai agak sulit diikuti. Namun, toh, audiens tidak menyerah. Mereka yang masih bisa mengikuti nada dasarnya tetap mengiringi hingga usai. Sepanjang lagu ini, keduanya berduet gitar dengan apik. Harmoni penuh. Sinergis energi yang kuat satu sama lainnya.

Suasana melankolik kian menyelimuti manakala Homesick menyambungnya. Pada saat intro mulai dimainkan, audiens sudah histeria. Kemudian seakan dengan begitu khidmat, turut menyanyikannya. Menghayati. Larut dalam suasana. Mengharukan.

Dilanjutkan dengan Know How. Dalam nomor ini, beat (ketukan) terasa lebih kuat. Meskipun melodi yang muncul tetap lembut. Suara audiens pun terdengar sangat merdu melantunkan senandung bersambung lirik. “O..o..oh../ What is there to know?/ Ooh../ All this is what it is/ O..o..oh../ You and me alone/ Sheer simplicity.”


Toxic Girl. Sebuah nomor cantik dari album pertama justru dilanjutkan dengan The Boat Behind. Sebuah nomor single terhitung baru yang belum dirilis. Sementara itu, penonton dan pers mulai mengacungkan kamera. Mengabadikan KOC.

Sebelum melanjutkan ke lagu berikutnya, Erlend justru merasa lapar. Ia pun dengan santainya membuka sebungkus cokelat snickers. Ia kunyah-kunyah seraya duduk dan memangku gitarnya. Memandang Eirik yang di sisi kiri panggung. Sementara Eirik hanya diam berdiri menatap rekannya itu. Tetap dengan senyum yang terjaga di bibirnya. Tetap dengan gitar yang menggantung di bahunya. Gelak tawa penonton kerap terdengar.


Kadang-kadang, sebelum melanjutkan pada lagu selanjutnya, Erlend mendekati Eirik. Mereka berbincang. Tak terdengar. Gerak mulutnya pun nyaris tak terlihat.

Seperti saat mereka akan memasuki nomor ke-13 ini. Kali ini, duo berbincang cukup lama. Dengan expresi yang tak bisa ditebak. Namun cukup mengundang beberapa siulan jahil dari arah audiens. Namun keduanya tak terpengaruh. Mereka tetap berbincang. Hingga akhirnya, Eirik tampil tunggal menyanyikan Garota de Ipanema. Girl from Ipanema versi Bahasa Portugis. Mengundang sambutan meriah para penonton.

Erlend yang tak bisa tinggal diam. Kali ini ia kembali mengundang gelak tawa penonton. Dengan lagak bak pemain terompet piawai. Ia mengambangkan kedua lengannya di depan dadanya. Sebuah imajinasi seolah-olah ia sedang memainkan tuts-tuts terompet. Sementara seuntaian suara terompet mengiringi lagu ini. Suara itu hasil rekayasa olah suaranya. Bibir, lidah, seluruh rongga mulut dan perutnya mencipta bunyi terompet yang amat menyerupai aslinya. Kembali, Erlend yang gila lagi jenaka polahnya.


Dilanjutkan dengan
Misread. Satu lagi nomor terfavorit yang membuat audiens terdengar hapal luar kepala sepanjang syairnya. Dilanjutkan dengan Little Kids dari album ke-2.

Ia mengayun-ayunkan microfon lewat untaian kabelnya. Perlahan dan lembut mengikuti irama. Mengajak audiens menikmati musiknya. Membuat mereka juga histeris.

Akhirnya tibalah di nomor terakhir. Ketika Erlend berkata, Here we go. The last song from us.” (Baiklah,. Ini lagu terakhir dari kami.”) Segera disongsong nada kecewa dari penonton.

Di nomor bakal penutup ini, Erlend kembali meletakkan gitar akustiknya. Sebelumnya Erlend berkata, It’s so great to be here. To have everyone’s singing together. As it’s so great the time when we’re have a fun time and meet friends from school. And sing together. And dance together,..” (Sungguh menyenangkan berada di sini. Semua orang bernyanyi. Sebahagia saat kita dalam masa yang menyenangkan. Dan bertemu teman sekolah. Dan bernyanyi bersama. Menari bersama,..” tutur Erlend.

Seraya Eirik mulai mendentingkan intro lagu selanjutnya, Erlend melanjutkan. So, I’d rather dance with you than play music for you.” (Jadi, lebih baik saya berdansa denganmu daripada bermain musik untukmu). Serentak audiens menyadari lagu pamungkas yang akan dibawakan. I’d Rather Dance with You. Lagi, hits dari album terakhir KOC.

Ia berjalan ke arah penonton mengikuti ketukan irama lagu. Dengan gerakannya yang lembut seakan langkah demi langkahnya mengalun.

Pada kesempatan itu, hap! Seorang gadis mungil, gemuk nan manis diajaknya naik ke atas panggung. Menari bersama. Berhadapan begitu dekat. Sejenak audiens bersorak-sorai riuh. Antara terpukau dan cemburu. Erlend dan gadis yang tersenyum lebar dan menari-nari kecil itu tetap mengikuti irama.

Demikianlah dan keduanya kembali ke tampatnya semula. Erlend kemudian seraya masih menari-nari di tempat, kini turut pula menyanyi bersama Eirik. Memukau hadirin.

Saat seperti itu, Erlend kerap mengangkat-angkat lengannya. Menggerak-gerakkan tangannya ke arah dalam seraya memandang audiens. Barangkali berusaha mengajak penonton untuk turut serta menari.

Erlend dengan bahasa isyarat itu menghantarkan beberapa gadis belia yang duduk di depan untuk nekad berlarian ke atas panggung. Keamanan sejenak dibuat lebih siaga.

Mereka berdua membiarkan hal itu terjadi. Tetap tenang dan sempurna menuntaskan tembang pamungkas itu. Hingga satu-persatu dileraikan dan diantarkan turun kembali oleh para petugas keamanan.

Hingga usai dan keduanya berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada hadirin. Disambut riuh rendah tepukan, sorak sorai, dan sesiulan yang seperti tiada akan ada habisnya.

Audiens rupanya tidak tinggal diam. “We want more! We want more! .. Begitu terus mereka teriakkan. Meminta penampilan ekstra. Selang beberapa menit kemudian. Antara ragu dan harapan di sisi penonton, Erlend dan Eirik kembali muncul dari balik panggung. Saat yang begitu membahagiakan bagi audiens. Tidak disangka jua.


Brave New World. Lagu dari album pertama kemudian dipilih KOC. Kali ini, audiens semakin mendekati panggung.

Malam itu, di Bandung, seakan KOC betul-betul ingin memuaskan harapan segenap hadirin. KOC menambah satu penampilan lagi. Kali ini mereka tidak akan menyanyi maupun mendentingkan gitar ataupun pianonya. Melainkan, menari bersama diiringi I Don’t Know What I Can Save You From (Royksopp Remix). Sebuah nomor yang masuk ke dalam debut single-cd (Failure) serta dalam debut DJ-album KOC (Versus), album ke-3, yang ditelurkan pada tahun yang sama yakni, 2001.

Eirik dan Erlend lalu bergantian menari di tepian kanan-kiri panggung. Menjumpai lebih dekat penggemarnya. Bahkan mereka berdua dan audiens saling memotret. Erlend meminjam kamera seorang panitia di balik panggung. Balik memotret audiens.


Begitu lagu usai. Duo berpamitan dan meninggalkan area panggung. Tepukan dan tatapan mata penonton masih tersisa. Masih mematut pada panggung yang kini kosong. Tanpa sang duo raja: Kings Of Convenience.

salam,.

my>k

Permalink 1 Comment

Krisna Murti, Pencatat Sejarah yang Bersejarah

September 24, 2008 at 1:47 pm (Journal, VideoArt) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Tulisan III

Judul :

Krisna Murti,

Pencatat Sejarah yang Bersejarah

Peta seni video di tanah air tak lepas dari nama yang satu ini, Krisna Murti. Dikenal di manca negara, ia memulai debut karya video di Bandung pada awal dekade 90-an. Di tangannya, lahir karya-karya video yang mengutamakan riset, eksplorasi, dan kedekatan terhadap masyarakat beserta problematikanya.

***

Video adalah bahasa yang lebih cocok dan kemungkinan lebih kaya,” tutur Krisna saat ditanya alasan berkarya lewat video.

Seperti yang pernah dicatat VideoLAB, Krisna menyebutkan bahwa lewat video, waktu dan proses dialami atau dijalani, bukan dikonsepkan atau digambarkan. Pelaku dan penonton dilibatkan dalam waktu, ruang, peristiwa secara fisik dan non fisik. Video bukanlah end product tetapi aktivitas merekam, menayangkan dan menyunting secara simultan atau kombinasi dari aktivitas-aktivitas tersebut.

Krisna mengaku, ia sangat mementingkan tahap riset sebelum berkarya. Pada tulisan sama dalam blog VideoLAB, ia berkata, “Artinya, saya bukan termasuk seniman yang mengekspresikan emosi, tetapi lebih eksploratif dan cenderung rasional.”

Proses riset yang ia lakukan pernah berjalan dua tahun bahkan sebulan saja. Misalnya, Makanan Tidak Mengenal Ras. Riset untuk karya itu berlangsung selama setahun. Dengan pendekatan antropologi, visual culture, dan kuliner, ia melakukan riset lapangan, wawancara, observasi, juga literatur. Dalam tulisan di Republika, Krisna dicatat pernah mendatangi sekolah-sekolah seperti SMPN Cihaurgeulis di pinggiran Kabupaten Indramayu dalam rangka penyusunan karya ini.

Makanan Tidak Mengenal Ras yang dipamerkan di Rumah Cemeti Jogjakarta (1999) itu mempertanyakan 12 jenis makanan lokal sebagai makanan hibrida pada kesadaran masyarakat. Dalam kurasinya saat itu, ia menyebutkan, makanan dalam wacana kuliner adalah perkara menggoyang lidah dan ransum perut. Rasanya tidak ada yang lebih dari itu. Apakah benar itu? Asumsinya, ada dua hal penting dalam wacana ini: refleksi dari perilaku dan ransum hati dan otak. Krisna kemudian mengedepankan pertanyaan kepada publik tentang kebenarannya dalam realitas sosiologis di negeri ini.

Setelah melakukan observasi dan riset lapangannya, ia terkejut mendapati tak kurang dari 12 macam santapan sehari-hari yang berkemungkinan hasil adaptasi: makanan hibrida. Contohnya Bakmi Goreng Jawa yang telah menjadi hidangan lokal. Makanan ini disebut Krisna mengalami sinergi kebudayaan yang cerdas karena tidak memperlihatkan siapa mempengaruhi siapa. Semacam akulturasi.

Krisna menambahkan, “Ketika orang menyantap hidangan tersebut, yang ada dalam benaknya adalah enak atau tidak enak, bukanlah mencari-cari alasan sentimen ras atau diskriminasi etnik.”

Karya yang dalam judul versi bahasa Inggris disebut Foodstuffs are Ethnics, Never Rasist ini hanyalah satu di antara sekitar 40 karya video yang telah dilahirkannya. Karya yang telah melanglangbuana dari Osaka hingga Berlin ini digagas untuk menelaah serta menguji mitos dan sejarah. Dimana Krisna juga membenturkannya dengan rekayasa politik dan mencari relasinya dengan budaya TV dan dunia hiburan.

Dengan memasang instalasi 12 kloset berwarna pink dan warna mencolok lainnya dalam pemerannya, Krisna menempelkan deretan tulisan mitos suatu jenis makanan pada tutupnya. Sementara pada lubangnya, ia letakkan sejenis lapisan bergambar jenis makanannya. Ada bakmi goreng jawa, makaroni skotel, gule kambing, kue moci, nasi kebuli, ronde, lontong kari, bestik komplit, martabak asin, lumpia, resoles, pastel, kroket, dan bakso tahu.

Di kanan kirinya, pada dinding, ditembakkan video berisikan cuplikan siaran memasak di TV dan potongan film propaganda G30S/PKI. Terlepas hasil dubbing atau adegan sebenarnya, artikel dalam situs Kunci-Cultural Studies Centre mencatat, Krisna menayangkan cuplikan adegan Soeharto (diperankan Amaroso Katamsi) yang berkata, “Terlalu banyak makanan asimilasi dalam masyarakat kita, bahkan jenis makanan yang paling lazim kita makan: soto dan lotek. Makanan tidak mengenal diskriminasi, ras atau pembedaan antara yang asli dan tidak asli. Kita adalah bangsa yang kreatif yang selalu menciptakan makanan hibrida baru: tahu sumedang, bakpia pathuk, javanese steak. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan perut kita, makanan pada dasarnya adalah rasio dari otak dan pikiran. Ia membuat manusia cerdas dan bijaksana.”

Krisna merekam dan memaknai ulang peristiwa dan kondisi yang ia temukan dalam masyarakat lalu mengajak publiknya untuk turut memaknainya ulang. Sebuah ‘pengalaman bersama’ antara pencipta karya seni dan publiknya, demikian situs Kunci mencatat ungkapan Krisna. Dalam artikel yang sama, Krisna menyebutkan, ia sengaja memakai tema makanan supaya semua orang bisa berkomentar dan memberi respon. Supaya karya seninya dekat dengan semua orang. Yang paling penting kemudian bukan karyanya, tetapi proses interaksi dan wacana yang timbul di kepala orang-orang yang menyaksikan karyanya.

Seperti halnya ujaran Krisna yang terpetik dalam arsip VideoLAB, “Yang penting adalah gagasan, komitmen saya pada public interest dan meletakkan pelaku dan penonton sebagai subyek yang sentral dan hidup. Secara harfiah kelihatannya saya melakukan gerakan kreatif yang zig-zag karena saya selalu menghindari style yang bisa menjadi perangkap kontemporerisme.”

Berangkat dari konsep berkesenian seperti itulah, maka tidak mengherankan apabila karya-karyanya kerap mengajak penonton untuk terlibat menjadi partisipan. Seperti pada karya Boo it Yourself (2000). Sebagai plesetan dari slogan Do It Yourself (DIY) yang dekat dengan semangat generasi anti kemapanan, Krisna sesungguhnya memainkan boo dari kata bamboo, bahan dasar pembuatan angklung yang menjadi instalasi alat karyanya.

Saat itu, negeri ini sedang mengalami transisi di banyak hal. Tidak hanya pemerintahan namun juga media dan gejolak di masyarakat sendiri. Kondisi ini dinilai Krisna menimbulkan kegamangan dalam diri masyarakat negeri ini. Bercermin dari kondisi itu, Krisna mengajak penonton untuk melakukan upaya pengenalan diri sendiri dengan menjadi partisipan dalam karyanya itu.

”Ada kegamangan dalam diri bangsa kita sehingga kita menjadi tidak mawas diri dan tidak mengerti apa yang dimaui. Tentu saja begitu, karena kita memang belum mengenali siapa diri kita sendiri dan saya menggunakan kesempatan ini sebagai fasilitas untuk bermain dan belajar mengenali diri sendiri atau self,” tutur Krisna saat itu yang dicatat dalam harian Republika (19/09/00).

Dibagi ke dalam lima kelompok, penonton berinteraksi melalui tiga tahap. Pertama, penonton memasuki tahap berjarak dengan dihadapkannya mereka pada layar video yang memproyeksikan hewan khas transisi musim, tonggeret. Lengkap dengan rekaman suaranya. Tahap berikutnya, seorang pemain biola, Imam D. Kamus, merespon suara dan citraan secara spontan pada saat itu. Harapannya, penonton mulai memasuki tahap yang merangsang pengalaman emosional diri. Baru pada tahap terakhir, penonton berpartisipasi secara fisik dengan membunyikan angklung untuk merespon citraan dan suara pada layar video.

Selain di Galeri Nasional, Jakarta, karya ini pernah ia hadirkan pula di Centre National d’Art Contemporain de Marne la-Vallee–Fermee du Buisson, Paris, Prancis, pada tahun yang sama.

Sebelum memutuskan untuk berkarya di wilayah video, lelaki kelahiran Kupang (1957) ini aktif melukis sesuai studi yang diambilnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, pada paruh 70-an. Hingga kini, ia masih melukis dan semenjak debut karya videonya pun Krisna tetap mempertahankan perhatiannya dalam menggali dan membongkar wacana humaniora lewat beragam penelusuran, pengkajian, dan persilangan kaidah keilmuan.

Debutnya, 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai yang dipamerkan di Studio R-66, Bandung, mengangkat kehidupan sehari-hari seorang penari di balik panggung. Berbentuk video instalasi dengan konsep filmic time/ actual time yakni, merekam waktu dan tempat saat itu juga, karya ini mencoba menguak sisi perilaku manusia.

Seperti halnya kerangka antropologi yang terasa kental pula dalam karya Objek dari Kampung Nagrak yang sempat diboyongnya ke Bienniale Seni Rupa Jakarta (1993), menggunakan media lesung tua, monitor televisi, ranting pohon, sekam padi, biji-bijian, dan api. Tak ketinggalan pula My Ancestors are Sangiran Man (1997). Karya video instalasi yang menelaah teori ilmu sosial atas kasus spesies-spesies manusia di situs fosil Sangiran, Surakarta. Sebuah kajian hermeneutika dari riset paleo-bioantropologi. Karya ini telah menjadi koleksi publik di Fukuoka Asian Art Museum, Jepang serta tercatat sebagai karya video pertama dari Asia yang dikoleksi di sana, setelah diikutsertakan dalam pameran bersama tri-tahunan pertama di museum setempat (1999).

Baginya, pengkoleksian seperti itu lebih dari screening fee yang dinilainya juga perlu. “Fee itu perlu tapi ngga absolut. Jangan diterapkan tergesa-gesa demi dinamika kreatif,” tuturnya.

Pada tahun 2000, tulisan di Kompas menyebutkan, eksplorasinya dalam karya video instalasi Wayang Machine telah membuat dua jagat berbeda antara wayang kulit dan wayang teknik animasi digital tampak sangat bersahabat. Sebuah karya yang mengangkat relasi teori, konsep dan definisi realitas dan shadow dalam video dan wayang (shadow play).

Secara substansial, ayah dari dua orang putri ini juga pernah melakukan upaya pencarian relasi konsep surga dalam wacana agama dengan spa sebagai bagian gaya hidup masyarakat modern (urban). Pengujian itu menghasilkan suatu formula dimana video sebagai medium terapi menawarkan pemijatan mata untuk invigorating (penyegaran), indulge (pemanjaan diri), dan relaksasi. Formula ini hadir dalam karya Video Spa yang disuguhkannya di Galeri Nasional, Jakarta (2004) serta di Gaya Fusion of Senses Gallery, Ubud, Bali dan 51st Venice Biennial, Indonesian Pavillion, di Venezia, Italy (2005).

Kurasi dalam Biennal Jakarta 2006 menyebutkan, karya-karya video instalasinya menampakkan kecenderungan menyentuh persoalan, tidak hanya seni semata, tapi meluas ke ranah psikologis, sosiologis, antropologis, hingga politis. Karya terbarunya yang mengangkat soal TKW di negeri jiran, yang melukiskan tegangan: di satu sisi mereka ‘merayakan’ tubuhnya dalam kemodernan, sementara disisi lain – dalam pekerjaan domestik —tubuh itu di dalam kendali majikan.

Selain berkarya, Krisna bersama komunitas Jejaring yang diketuainya pada tahun 2002, juga melakukan kerja pengorganisasian seniman dan karya dengan menyelenggarakan The Bandung Film, Video and New Media Arts Festival (BAVF~NAF) pada tahun yang sama. Saat itu ia merasa perlu mulai bergerak sebagai responnya terhadap maraknya seni video di Indonesia yang mulai terjadi dengan mewacanakannya secara lebih luas. Meskipun ia sempat meretrospeksi dalam artikel yang ditulisnya dalam Kompas, saat itu anemo publik belumlah sebesar yang terjadi pada saat ini. Katanya, “Pada kurun waktu ketika diadakan festival seni media internasional pertama di Bandung (bavf~NAF # 1, 2002) denyut nadinya masih sulit terlacak.”

Festival itu mengetengahkan video baik dalam kanal tunggal, perrformance, maupun multimedia. Dalam tulisan di Kompas, tercatat puluhan karya video datang bukan hanya dari seniman lokal namun juga dari Belanda, Finlandia, Amerika serikat, Spanyol, Kuba, Inggris, dan Jepang. Saat itu, Krisna menyebutkan, “Forum itu tidak saja untuk mengukur sejauh mana seni media baru menjadi bahasa baru di Indonesia, tetapi lebih untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa teknologi di Indonesia tak hanya berarti barang konsumsi.”

Kepada saya ia pun menegaskan gagasannya, “Video harus dilihat dalam wacana media baru biar tidak terbatas seperti another film.”

Ayah dari dua orang putri ini sendiri lebih sering menyuguhkan karya-karyanya dalam perhelatan video di luar Indonesia. Tak kurang dari 25 forum internasional pernah ia sambangi. Seperti, Two Wonders (1999) saat ia menggarap pameran duet bersama Mikhail Abakumov di Embassy Hall, Moskow.

Pada tahun berikutnya, bersama karya Loosing Face, ia bertemu dengan festival yang baginya paling berkesan, 7th Bienalle of Havana, Kuba. “Saya memamerkan video di negeri sosialis yang miskin, tapi masyarakatnya dinamis dan kreatif,” tuturnya.

Karya video itu ia maksud itu dibuat di Jepang, saat ia mengikuti program residensi untuk artis (1999). Dengan mengenakan kostum penari Bali, ia berjalan-jalan di mall, gedung bioskop, dan lorong kereta api bawah tanah di kota Fukuoka. Menangkap dan merekam ragam reaksi orang yang melihatnya. Mulai dari ekspresi keterkejutan, ketakutan, kebingungan hingga tawa. Wajah Krisna sendiri tidak pernah ditampilkan pada layar, agar sumber rangsangan reaksi orang tersebut tetap tersembunyi. Lewat karya ini, ia mengangkat citra keterlepasan orientasi dan penempatan sebagai siratan makna krisis multidimensi di Indonesia saat itu. Strateginya, mengundang orang untuk terlibat dalam karyanya.

Saya percaya, video adalah sebuah mesin representasi yang sangat efektif dalam memfasilitasi perjalanan orang menuju realitas berbeda. Saya hanya ‘membantu’ mereka untuk mengalami perjalanan mereka, bergantung pada situasi yang mungkin terjadi. Demikian konsep video yang ia tuturkan dalam surat elektroniknya kepada Universes in Universe, 9 Desember 2000.

Selain Biennal Jakarta, baru-baru ini, ia juga ikut dalam festival Festival Oversteek bertajuk Going Digital, Utrech, Belanda. Ia juga diundang ke dalam program artis untuk residensi oleh Lasalle College og the Arts, Singapura.

Dalam berbagai forum diskusi dan seminar, Krisna kerap membagi pemikirannya dalam wilayah seni video. Ia beserta karyanya yang lebih dikenal di luar negeri ini, juga sempat melakukan artist talk dan presentasi karya dalam forum-forum internasional. Di antaranya, 3 Artists di Havana, Kuba (2001), 10 Works of Krisna Murti 1993-2002, di Caceres, Spanyol (2002) dan di beberapa universitas seperti di Institut of Modern Art IMA and Queensland Art College, Australia (2003), serta Art Forum and Visiting Lecture yang bertajuk New Media Art in Indonesia yang lagi-lagi berlangsung di beberapa universitas di Australia termasuk di 24 HR ART Northern Territory Centre for Contemporary Art di kota Darwin.

Dimas Jayasrana, periset di komunitas ruangrupa, Jakarta, dalam perbincangannya dengan saya pernah berkata, “Kalau dulu nggak ada Krisna Murti, mungkin sekarang seni video petanya akan beda. Ia menjadi salah satu ‘fosil’, jadi semuanya kebanyakan mengacu ke dia.”

Sementara itu, Agung Hujatnikajennong menyebut Krisna Murti gigih tampil dengan karya seni video. Sebuah terobosan yang cukup berani, terutama mengingat kemunculannya yang ‘menyimpang’ di tengah gemuruh boom seni lukis yang berlangsung (Kurasi OK Video, 2003).

Kini, Krisna yang berdarah Jawa Bali ini lebih banyak tinggal di Jakarta setelah sebelumnya berdomisili di Bandung. Meskipun demikian, ia masih tercatat sebagai dosen tamu di Program Paska Sarjana Kajian Media Baru di Institut Seni Indonesia (ISI), Jogjakarta.

Sebagai pemerhati seni media, ia menuliskan pula pemikirannya lewat artikel yang dimuat di media massa seperti Kompas, Visual Arts Magazine, dan Art Asia Pacific serta dalam buku Video Publik (1999), terbitan Kanisius, Jogjakarta. Karya tulisnya yang terakhir, Apresiasi Seni Media Baru, diterbitkan Direktorat Kesenian RI, Jakarta (2006).

Merangkum segenap pemikirannya yang pernah ia gulirkan dalam beragam pertemuan dan ruang wacana seni video dan media baru, Krisna dalam wawancara jarak jauhnya bersama saya sempat berkata, “Video merupakan bahasa audio visual yang memungkinkan publik memasuki dunia menonton, dunia interaktivitas dan merekonstruksi realitas yang diinginkan atau diperlukan.”

Ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya bersama seni video untuk selanjutnya, ia berkata, “Bekerja terus, saya sudah merintisnya.”

Generasi baru harus mempunyai capaian lain yang seharusnya lebih tinggi dari saya apalagi akses teknologi semakin besar,” tambahnya kemudian.

Jangan menunggu orang lain, sekarang juga mulai kreatif sekecil apa saja yang penting selalu digulirkan investasi itu,” ujarnya sebagai saran bagi generasi penerus.

***

salam,.

my>k

Permalink Leave a Comment

Demokrasi Hibrida, Potret Generasi Video Abad 21

September 24, 2008 at 1:20 pm (VideoArt) (, , , , , , , , , , , , , , , )

Demokrasi Hibrida,

Potret Generasi Video Abad 21

Hari ini, teknologi digital dan seperangkat software yang ada memungkinkan manipulasi waktu. Mendobrak batas-batas di antara masa lalu, saat ini, dan masa depan. Hibridisasi menjalar dalam karya video masa kini di mana artis mengkombinasikan film, seni komputer, grafis, animasi, dan bentuk aplikasi digital lainnya.

***

Micahel Rush dalam Video Arts mencatat, artis telah tertarik pada waktu sebagai medium. Video yang pada mulanya lahir untuk teknologi siaran televisi, ternyata ikut menjawabnya. Real time (realitas di sini-kini) menjadi kelebihan video yang merekam (capture) waktu sebagaimana yang dialami saat itu juga dan di tempat itu juga, baik luar maupun dalam ruangan, yang tanpa proses ulang dan editing.

Teknologi masa kini rupanya tidak lagi barang konsumsi namun juga produksi. Mendemokratisasikan siapapun untuk merekam waktu dan peristiwa bersamaan (real time). Hari ini, aktivitas membuat video tidak lagi terbatas hanya pada seniman ataupun jurnalis video, melainkan siapapun yang saling melintasi didiplin seni dan ilmu. Menurut Krisna, mendemokratisasikan siapapun artinya membebaskan semua orang.

Semua orang , tidak harus professional seperti sutradara, bisa bikin video. Tidak ada lagi hirarki dalam pembuatan video. Orang jurnalistik juga punya posisis sama menggunakan  media. Tidak ada konvensi yang membelenggu,” tutur Krisna Murti, praktisi dan pemerhari seni video. “Ini pembebasan atas konvensi organisasi sinema, profesi sinema, juga distribusinya,” lanjutnya.

Jika Anda membuat film harus laku, harus 2 jam durasi, harus diputar melalui bioskop, sinema 21, harus bercerita linear, menghibur, harus ada organisasi sutradara, kamerawan, script writer, hingga driver, harus balik modal, harus berselera pasar. Harus-harus itu kan takhayul,” katanya, “harus dibebaskan.”

Batas-batas pembebasan itu sangat jelas diciptakan oleh subyektifitas maupun karena konstruksi ekonomi dan sosiologis.

Persoalan yang diangkat seniman pun semakin kuat. Ketika pada mulanya seni video lahir sebagai kritik terhadap budaya televisi, kini, persoalan kritis yang diangkat berkembang sesuai dengan zamannya.

Selain meluas pada berbagai sektor dalam kebudayaan massa, Michael Rush juga mencatat, isu politik, gender, tubuh, ruang publik dan pribadi sebagai kecenderungan tema-tema yang secara garis besar diangkat seniman dari dekade ke dekade, hingga kini.

Penyelenggaraan festival OK Video yang telah berlangsung dua kali di Jakarta itu pun telah memetakan beberapa tema secara garis besar yang diangkat seniman video dalam beberapa tahun terakhir ini: Politik, kebudayaan massa, tubuh dan identitas, ruang pribadi dan ruang publik, serta subversi dari sistem imaji visual yang sudah mapan seperti televisi, sinema, dan periklanan. Termasuk tema subversi atas norma sosial, gagasan, realitas, dan sejarah yang ada dan berlaku dimana karya-karya tersebut hadir tak lepas dari teknik pembajakan, penggandaaan, sampling, pencampuran ulang, dan hacking sebagai strategi visualnya dalam memberikan gagasan kritisnya.

***

Andry Mochammad (29), pada suatu malam di sela-sela pekerjaannya mendesain katalog program CCF Bandung, kepada saya menceritakan awal mulanya berkarya lewat video.

Menurutnya, saat itu tahun 2001. Saat ia beserta beberapa kawannya yang masih menempuh studi mulai merasa jenuh berkarya lewat medium 2 dimensi (2D). Bentukan karya pada instalasi dan performance pun telah mereka coba garap. Hingga pada suatu ketika mereka menemukan software untuk penyuntingan video.

REM, demikian karya video perdana yang Andry buat. Sesuai singkatannya, Rapid Eye Movement, misinya adalah memvisualisasikan pengalaman mata merekam berbagai bentuk objek sehari-harinya. Konsepnya, setiap hari mata manusia merekam peristiwa dan pada beberapa saat menjelang tidur, otak manusia memutar ulangnya. Antara mimpi dan kenyataan berbaur lalu menciptakan mimpi saat tidur.

Dengan memakai pengalamannya sendiri sehari-hari, Andry menemukan, peristiwa terbanyak yang matanya alami dalam kurun waktu sehari adalah siaran TV. Dengan teknik shooting, ia mengambil visual yang tertayang pada layar kaca lalu menggabungkannya dengan sketsa manual yang ia scan dan proses lewat komputer. Hasilnya, citraan siaran TV khas dengan efek pantulan gelombang bila tertangkap lensa kamera bertumpuk dengan lapisan-lapisan sketsa.

Sejarah telah bergulir dan situs wiki secara garis besar memetakan seni video mencapai dua bentuk yakni, kanal tunggal dan instalasi. REM yang ia ikutsertakan dalam BAVF~NAF (The Bandung  Film, Video and New Media Arts Festival) perdana (2002) di Bandung menjadi salah satu karya seniman video muda berbentuk video instalasi dimana penonton menjadi partisipan. Dengan menyiapkan bantal dan alas tidur yang dibuat senyaman mungkin, Andry mengajak penonton terlibat dalam pengalaman rekaman mata menjelang tidur sambil tidur-tiduran.

Budaya televisi sejak awal kemunculan seni video telah menjadi isu utama yang diangkat para pelopornya terutama, Nam June Paik, Bapak Seni Video. Di abad ke-20, televisi mulai dikontrol iklan dan korporasi multinasional. Michael Rush mencatat, pada awalnya, seniman video banyak mengkritik televisi dan media dengan mengajukan pertanyaan besar: kawan atau lawan? Lewat Global Groove (1973) dan The Eternal Frame (1975), sebagai contoh, Paik mengemukakan konsep dan kritiknya.

Dalam kurasi untuk OK Video: Jakarta Video Art Festival (2003), Agung Hujatnikajennong menyebutkan, pemikiran Paik itu hingga kini masih relevan dalam konten dan konteks seni video dewasa ini. Seperti halnya ungkapan Paik yang terkenal: Television has been attacking us all our life, now we can attack it back (Televisi telah menyerang kita di sepanjang hidup, kini kita balik menyerang).

***

Isu-isu sosial yang ada di lingkungan luas dalam masyarakat seperti televisi dan segenap kritik dan persoalannya hanyalah salah satu tema yang kerap diangkat sineman. Isu-isu seperti itu memang selalu relevan dari hari ke hari dan sangat dekat dengan publik, namun tidak selamanya seniman harus mengangkat tema-tema besar dalam membuat karya. Terkadang hal yang sifatnya pribadi seperti hubungan antarpersonal manusia juga menarik untuk diangkat.

Itulah yang dilakukan Jaka Satiawan dalam salah satu karya videonya, 2 Media. “Kayaknya setiap orang punya sebuah cerita yang pengen dituangin. Entah itu dari pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah didengar, atau karena kepikiran aja akan sebuah cerita lucu,” tutur Jaka ketika ditanya tujuannya berkarya.

Berangkat dari filosofi yang mengatakan “love will find a way”, Jaka membuat karya animasi 3 dimensi (3D), dimana terdapat karakter seorang laki-laki di dalam layar komputer yang berusaha mendekati karakter seorang perempuan pada layar proyektor. Tentu saja kedua karakter tersebut tidak bisa saling bertemu dalam sebuah ruang yang sama. Dengan membuat adegan yang mengadaptasi kemampuan komputer dalam menggabungkan (dua media) objek dalam sebuah file yang sama, Jaka menutup cerita itu dengan bertemunya dua sejoli itu pada selembar kertas cetakan mesin printer.

Filosofi yang melandasi karya itu diakui Jaka muncul dari pengalaman pribadi yang ia utak-atik sedemikian rupa agar ceritanya bisa ditangkap penonton. Dalam tulisan di Kompas, Krisna Murti, seorang praktisi dan pemerhati seni video, menyebut karya itu genial (ramah/ hangat) di antara karya-karya yang menyajikan lapisan pengalaman baru mengasyikkan. Krisna Murti juga menyebutnya sebagai karya yang memenuhi seni konseptual: “Wow! Karya ini seakan menyampaikan pesan kepada kita bahwa video tidak hanya entitas tayangan, tetapi sekaligus juga sebuah seni konseptual.”

***

Dalam situs ensiklopedia wiki, animasi merupakan penggerakan serangkaian gambar atau posisi suatu wujud sehingga membuat ilusi gerakan dimana terjadi ilusi penglihatan terhadap gerakan sesuai dengan pengalaman citra yang terus-menerus. Animasi merupakan salah satu cara pokok dalam perfilman di samping film narasi, dokumenter, dan eksperimental.

Namun demikian, perlu disadari bahwa ada sekian perdebatan yang terjadi dalam penentuan suatu terminologi. Seni video sendiri merupakan suatu terminologi yang baru di masyarakat Indonesia secara umum. Hal ini tidak mengherankan mengingat sejarah kemunculannya memiliki akar yang berbeda dari yang terjadi di negeri-negeri Eropa dan Amerika.

Seni video mulai mendekati wilayah seni rupa di Indonesia pada akhir dekade 80-an. Namun saat itu, belum terjadi anemo dan respon besar-besaran seperti yang terjadi dalam dekade ini. Agung Hujatnikajennong menyebutkan, bahkan hingga awal dekade 90-an, lokakarya seni video yang melibatkan seniman-seniman luar negeri di Indonesia kurang mendapatkan perhatian. Pameran-pameran seni rupa yang berlangsung juga jarang membahas keberadaan medium video secara keseluruhan.

***

Kehadiran karya berbentuk animasi juga tak terlepas dari kehadiran software animasi yang kini telah semakin mudah diperoleh. Baik produk orisinil maupun bajakan. Sementara itu, berbicara soal produk bajakan, pada kenyataannya, kehadiran produk-produk seperti itulah yang membukakan kemungkinan lebih luas bagi para seniman video muda di negeri ini untuk produktif berkarya.

Seperti pengalaman Andry dan kawan-kawannya saat mereka masih mengambil studi. Saat itu tahun 2003, Andry memperoleh informasi rencana penyelenggaraan OK Video. Saat itu, video klip sedang marak wara-wiri di layar MTV. Bertepatan dengan itu, Andry baru saja memperoleh beberapa peranti lunak bajakan yang menawarkan berbagai kemudahan aplikasi visual. Terdorong oleh kedua hal itu, Andry merasa OK Video menjadi kesempatan dan motivasi bagus untuk kembali berkarya dengan media video.

Saat itu, sedang musim membuat video art. Aku ingin membuat video klip seperti yang ada di MTV, karena visualnya aneh-aneh. Software bajakan juga banyak. Ternyata teh, gampang gitu, membuat video teh,” tutur Andry mengenang seraya tersenyum, kentak dengan logat Sunda.

Berbekal seperangkat motivasi itu, Andry kembali merancang sebuah karya video. Isu yang diangkatnya masih bersinggungan dengan isu seputar budaya tontonan sebagai budaya massa. Kali ini ia mengkritik budaya kekerasan di masyarakat Indonesia yang menurutnya tak terlepas dari pengaruh adegan-adegan kekerasan yang ada dalam film-film Hollywood dan Bollywood.

Namun ia sempat pula mengakui, pada awalnya ia ingin membuat karya yang mengharmonisasikan potongan-potongan adegan kekerasan dengan rhythm dan lagu selayaknya video musik. Namun rupanya, ia masih terhambat persoalan teknis pada saat itu. Akhirnya ia memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada bahasa visual.

Apapun pematiknya, karya berjudul We Suck Action Video itu berhasil mengantarkan Andry ke ajang video se-internasional pertama di Indonesia, OK.Video: Jakarta Video Art Festival (2003), sebagai salah satu karya yang mewakili isu Kebudayaan Massa, di samping isu-isu besar lainnya yakni, Tubuh-Indentitas, Politik, dan Ruang Pribadi-Ruang Publik.

***

Dalam kesempatan yang sama, Dwi Suharmoko justru mengikutsertakan karya video musik hasil eksperimennya bersama beberapa kawannya. Lewat teknik shooting dan manipulasi visual terbalik, Moko menggunakan konsep visual slow motion untuk menghasilkan video musik dari lagu berjudul Batu Karas (2002).

Berbeda dengan Andry, pemuda yang akrab dipanggil Moko ini, justru memulai debutnya dengan karya video performance untuk band elektronik. Saat itu ia diminta membuat video berdurasi tujuh menit untuk live performance band Fuga (kini terpecah menjadi Rock n Roll Mafia). Sambil iseng belajar software video instan, karyanya itu ia buat dengan menggabungkan footage (cuplikan) dari vcd-vcd bajakan. Saat itu ia berlaku sebagai video jockey (VJ). Semenjak inilah, Moko kemudian tertarik untuk membuatkan video musik dari salah satu lagu mereka itu.

Mengutip wawancara Eduardo Kac dengan Nam June Paik dalam tulisan berjudul Satellite Art: An Intervew With Nam June Paik (1988; 2005) pada situs www.ekac.org, Paik mengatakan, video klip MTV telah menunjukkan adanya intimasi hebat antara suara dan gambar. MTV bukanlah satu-satunya pendekatan terhadap urusan suara dan gambar, namun inilah solusi menarik yang memberi kontribusi banyak pada perkembangan ‘musik visual’ dan seni video.

Moko barangkali salah satu seniman video yang lebih banyak berkarya di wilayah video musik. Karya yang ia ikusertakan dala kompilasi Bandung Time Line 2001-2006, juga berbentuk video musik berjudul Salt Water Sound. Strategi visualnya, mengadaptasi fenomena gelembung udara dalam air yang mengahsilkan fatamorgana tertentu bila bertemu dengan suatu subjek. Dalam video ini, diketengahkan seseorang sedang menyelam.

Moko juga melakukan eksperimen dalam warna yang sengaja ia naikkan kadar tone-nya sehingga tampak over do.

Dalam kesempatan itu, Krisna sempat mengajak publik untuk merenungkan karya-karya seperti itu lewat artikelnya di Kompas: Mari kita simak video “Teb2Five” (Ira Mutiara), “Tafel Musik” (Adi Darma), “Alone” (Dave Syauta), “Epson Song” (Wisnumurti), “I heart April Mop” (Yuriza), atau “Salt Water Sound” (Dwi Suharmoko). Video mereka terkesan menyerupai video musik MTV, genre musik iklan untuk TV yang sejatinya banyak mengadopsi terobosan bahasa gambar khas seni video generasi pertama (60-an hingga 70-an). Genre hiburan global ini justru dimamah biak, utamanya harmoni suara dan citra untuk sebuah komunikasi yang lebih gaul. Strategi ini bukan sepi dari risiko karena kerapian komposisi bisa menuai formalisme.

Meskipun begitu, Krisna saat ditanya tentang acuan seniman muda kepada seniman video di dekade 60 – 70-an, ia berpendapat, “Ambil style-nya untuk idea yang baru boleh juga. Tafsiran baru seperti remix musik, mengapa tidak?”

Perlawanan terhadap budaya TV maupun teknisnya sudah selesai, dalam sejarah seni. Jadi lebih baik fokus ke perkawinan semua genre, termasuk komersial. Misalnya, membuat video musik yang nyeni, nggak bikin bete, nggak membebek,” lanjutnya kemudian.

Sementara itu, sebuah situs yang khusus menayangkan karya-karya VJ menyebutkan, seorang VJ memanipulasi video dalam banyak cara seperti halnya seorang DJ memadukan rekaman musik. Teknik dan peralatannya berbeda namun prinsip dasarnya sama seperti selecting, cross fading, scratching, cutting, dan sampling a rhythm. Beberapa VJ berkonsentrasi hanya pada visual, pemaduan, dan manipulasi video atau film, untuk membuat proyeksi spektakuler.

Dari sekian perdebatan dalam seni visual, pengelola situs itu menyebutkan, perbedaan yang jelas antara pembuatan karya VJ dengan seni video atau film yakni, VJ mencampurkan gambar-gambar secara langsung untuk menggabungkan mengalirnya realita saat ini di sini (realtime) yang spontan. Tidak seperti seni video atau film yang menayangkan rekaman gambar bergerak dalam suatu alur waktu yang terproduksi sebelumnya.

Video Jockey sendiri bukan hal baru, namun seperti halnya seni video itu sendiri, karya visual yang dihasilkan VJ mulai marak hadir di tengah publik, meskipun berbeda situasi. Sebuah kelompok VJ yang menggabungkan dirinya dalam situs vjs.net bahkan mendengungkan slogan berbunyi, sebuah perayaan atas siaran langsung seni video di abad ke-21. Mereka berhasrat untuk mengusung segala bentuk seni video secara live, layaknya siaran langsung, secara bersama-sama. Membangkitkan kesadaran dan penghargaan atas aksi video jockey agar sejajar dengan aksi disc jockey serta mendefinisikannya sebagai bagian dari bentuk seni baru dari era digital.

Meskipun berbeda, melakukan kerja seorang video jockey bisa menjadi pilihan selanjutnya bagi mereka yang gemar berkarya lewat media audio visual. Moko salah satu dari deretan generasi muda saat ini yang tertarik untuk menggeluti spesifikasi itu. “Yups. Saya dan beberapa teman saya sedang berkarya video untuk performance DJ,” jawabnya saat ditanya apa rencana selanjutnya bersama seni video.

Meskipun aksi DJ dan VJ sangat dekat dengan aura pesta, tidak berarti substansi karya yang diusung sebatas itu. Ataris Teenage Riot misalnya, gemar menggelar konser lengkap dengan parade visual yang sarat akan pesan sebagai medium berkampanye, bahkan di tengah-tengah arus demonstrasi.

Hal seperti inilah yang kerap disarankan oleh praktisi senior sekaligus pemerhati seni video, Krisna Murti. Katanya, “Kita bukan hanya makhluk konsumtif tapi juga kreatif. Mestinya manusia memakai lingkungan media baru itu untuk menguji kembali nilai-nilai manusia dan kultural yang berlaku. Tentu bisa juga dengan cara yang lebih gaul, misalnya melalui dugem VJ yang lebih dari sekedar pleasure.”

***

Selain mengekspresikan hasrat terhadap keindahan, ada motivasi di atas itu yang ingin diraih oleh seniman video muda di negeri ini. Andry misalnya, lewat karya video yang ia buat, sesungguhnya ia ingin membuat catatan sejarah tersendiri. Harapannya, karya-karya video yang ia buat bisa menjadi saksi dan bukti sejarah atas realita apa yang pernah terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu. Terutama yang terjadi di negeri ini.

Suatu saat jadi kapsul. Kita bisa lihat peradaban di suatu saat dengan video, karena kita ­nge-shoot memang pada zamannya,” tutur Andry, “semacam membuat catatan sejarah.”

Untuk mewujudkannya, Andry juga sedang mengusahakan untuk membuat perpustakaan video lokal. Dari video masa lampau hingga video dengan visual seabsurd apapun untuk dijadikan database.

Baginya, setiap orang punya medium masing-masing, beragam. Orang lain misalnya menyampaikan ide lewat politik atau fisik, sementara ia ingin lewat medium dimana orang yang melihatnya nyaman dan bisa mengapresiasi serta menginspirasi untuk hal lain.

Just Do It misalnya, karya video animasi 2D ini lebih dari sekedar kritik terhadap pola pikir kebanyakan masyarakat dimana mereka berkerja tanpa rencana dan tujuan yang tegas melainkan pasrah terhadap apa yang nanti terjadi. Berangkat dari itu, seraya memboyong gagasan Mao Zedong, revolusi industri di Cina dan produk tiruan dan bajakannya, Andry mempertajam isu dengan membajak slogan kapitalis untuk menentang kapitalis itu sendiri.

Menurutnya, produk-produk bajakan lebih dari sekedar memenuhi fungsi konsumsi namun juga akulturasi, serta memberi keuntungan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. Jadi, “Just do it, for the piracy!” katanya.

Pesan-pesan moril, kritik, bahkan kampanye sosial sengaja dihadirkan dalam suatu karya. Seperti yang dilakukan Jaka. Lewat karya video animasi berjudul Borneo, ia ingin menyampaikan pesan lingkungan dan habitat orangutan yang kian hari kian terancam kepunahannya. Karyanya ini diikutsertakan dalam KMDGI di Surabaya (2005). Saat itu, Banjarmasin Post mencatat, Borneo menjadi salah satu karya yang paling mendapatkan respon pengunjung lewat diskusi yang berlangsung.

Hmm, gue memilih tema-tema konservasi dan lingkungan dengan harapan bisa ikut berpartisipasi dalam upaya kampanyenya. Ya tentunya, dengan gaya dan usaha gue sendiri,” jawab Jaka saat ditanya rencananya dengan seni video, “semoga saja bisa dilihat sebagai sesuatu yang tidak menggurui, tapi pesannya sampai,” ucapnya agak hati-hati sebelum akhirnya ia tegaskan kembali dengan berkata, “jadi video adalah senjata gue untuk menyampaikan sesuatu.”

Tema-tema yang diusung oleh setiap praktisi seni video memang beragam serta bergantung pada keperluan dan tujuan karya itu dibuat. Misalnya, Jaka dan Moko, yang berkerja sebagai tim kreatif visual di rumah produksi Feedback, mereka terbuka pada proyek-proyek visual dimana mereka perlu mempertimbangkan permintaan klien.

Kalau untuk pribadi, sekarang lagi suka sesuatu yang berhubungan dengan konservasi satwa dan lingkungan dan sepertinya ini akan jadi tema yang akan sering gue angkat,” tutur Jaka. Meskipun ia tidak menampikkan, inspirasi bersifat flexibel. Bergantung pada mood dan pengaruh sekitar. “Selain itu, tentunya untuk mencari nafkah,” sambungnya seraya tertawa.

Seperti halnya Moko yang berkata, “Untuk sekarang, video itu sudah menjadi nyawa saya,” tuturnya, “selain sebagai pengungkapan expresi pribadi dan alat komunikasi, video adalah alat pencari nafkah,” lanjutnya.

Mencari nafkah lewat karya video dan berkarya untuk kepuasan pribadi tampak mungkin untuk dijalani kedua-duanya. Seperti yang terjadi pada Jaka dan Moko.

***

Tiga praktisi seni video tersebut hanyalah untuk menyebutkan sekian nama yang kini malang melintang di ranah seni video di negeri ini. Pertimbangannya, perbedaan di antara mereka, baik karakter visual hingga kecenderungan tema yang mereka angkat. Namun, ketiganya sama-sama berawal dari wilayah seni rupa.

Seperti halnya Andry yang berawal dari medium karya 2D, Moko dan Jaka pun demikian. Sebelumnya, Moko menggunakan tembok sebagai medium karya grafiti sementara Jaka yang lebih suka membuat sketsa acak tanpa garis lurus dan rapih, telah akrab dengan dunia ilustrasi dan komik.

Sebelum mengenal video, gue banyak corat-coret di atas kertas, meja kelas, buku pelajaran, tembok atau apa sajalah yang bisa dicorat-coret,” tutur Jaka, “kayak bikin-bikin sketsa, illustrasi atau komik.”

Perkembangan teknologi termasuk peranti lunak aplikasi visual yang semakin hari kian efisien dan efektif ini. Video menawarkan waktu sebagai medium karya. Agung menyebutkan, “Dalam pengertiannya yang paling konseptual, basis video bukanlah pita rekam, perangkat keras ataupun proyeksi gambar, melainkan konsep waktu (durasi) dan kesadaran pemirsa untuk ‘mengalami’ dalamnya pikiran, dimana semua gambaran bergerak dan berinteraksi.”

Dengan kesadaran akan kelebihan seperti ini pulalah, ketiga praktisi ini meyakini, video merupakan media penyampai pesan yang paling dekat dan paling sederhana untuk dipahami masyarakat.

Mood yang diperlihatkan ke audiens juga bisa bervariasi. Misalnya, awalnya ceria tiba-tiba gelap. Jadi, bisa dinamis aja,” kata Jaka, “apabila digabungkan dengan audio, maka akan jadi media audio visual dimana kita akan memakai indera penglihatan dan pendengaran untuk menikmati karya itu,” lanjutnya.

***

Seperti halnya Krisna, bagi mereka, proses riset mutlak diperlukan sebelum memasuki tahap produksi. Riset ditempuh lewat beragam cara. Mulai dari menggali opini dari orang-orang di sekitar mereka hingga studi literatur dan referensi. Semua bergantung pada jenis dan tema yang akan diangkat dalam karya.

Bagi Jaka, proses riset berarti mengumpulkan data-data untuk konten karya yang kemudian disaring untuk dimasukkan dalam cerita dan storyline. Sesuai jenis animasi yang menjadi spesialisasinya, Jaka membutuhkan beberapa tahap riset tersendiri. Untuk membuat animasi karakter orangutan misalnya, ia melakukan riset visual dimana ia harus mencari tahu karakter yang sebenarnya sebelum ia kembangkan ke dalam karya animasi.

Untuk looks keseluruhan video, juga dibutuhkan riset, menentukan gaya visual dari karya tersebut seperti, warna dan bentuknya,” jelasnya. Selain itu, ia juga perlu melakukan riset gerakan agar gerakan suatu benda atau makhluk bisa sesuai dengan realita jika disimulasikan dalam animasi.

Kendala dalam melakukan riset adalah ketersediaan bahan-bahan riset. Namun kehadiran internet diakui baik Jaka maupun Andry, sangat membantu. Kata Jaka, “thank God for internet!

***

Krisna pernah menyatakan, karena video merupakan media baru yang bebasis teknologi menuntut pelakunya tidak menganut tradisi seni sebagai ekspresi emosional. Mesti terus dikaji filosofinya juga teknologinya dan yang lebih penting lagi mesti dilakoni meskipun konseptualisasi itu penting. Pelaku video sebagai pawang mesti bisa ‘menjinakkan’ mesin video itu sendiri serta relasinya dengan sistem otak dan perilaku manusia. Memang melakoni video mesti melakoni kerja kecerdasan karena video asal usul katanya saja dari ‘vidya’, artinya pengetahuan, bukan vi-doa (blog VideoLAB, 23/10/05).

Namun dalam wawancaranya bersama saya, ia sempat memaknainya dengan berujar, “Anak muda, generasi muda kini, di performance, film, video, musik, mereka gak sok berpikir yang besar-besar kayak babe atau embah-nya dulu.”

Mereka nggak GR bikin seni, mereka mengekspresikan narasi personal dan diri. Subyektif juga nggak haram yang penting jujur,” tegasnya kemudian.

Ketika dimintai prediksinya atas apa yang kira-kira akan menjadi penanda dalam catatan sejarah tanah air atas seni video di tengah seni kontemporer dewasa ini, ia menjawab, “Generasi baru akan bermain antara dunia hiburan dan ekspresi  budaya, enjoy, gaul. Tapi lama-lama akan sebih serius. Paling lama 10 tahun akan lahir seniman baru yang tidak saja gaul tapi juga andal kayak anak muda Jepang.”

Sementara prospek seni video di masa depan menurutnya, akan terus berkembang secara tak teduga sejalan dengan penemuan teknologi media.

Agar lebih spesifik, pertanyaan selanjutnya: Baik secara global maupun di Indonesia? Ia menjawab dengan antusias, “Precisely!”

Seni media baru, seni video salah satunya, akan menjadi sentral. Saya tidak menyebut mainstream. Dengan penganutnya yang tergabung dalam komunitas kecil, tapi banyak dan spesifik,” tuturnya kemudian.

Paradox. Penyebaran bisa global tetapi di saat yang sama mereka berkomunikasi dalam komunitas elektronik. Dengan kata lain, virtual,” sambungnya sekaligus menutup wawancara kami.

***

salam,.

my>k

Permalink 1 Comment

Depth Reporting | Feature I | Seni Video dalam Pemetaan: Kaleidoskop Kecil Event, Bandung, 2001-2006

January 27, 2007 at 5:47 pm (Journal, VideoArt)

Seni Video dalam Pemetaan,

Kaleidoskop Kecil 2001-2006

Ragam video art merebak lewat beragam perhelatan kesenian. Baik dalam acara sekali semalam hingga festival berhari-hari. Dalam skala lokal hingga internasional. Komunitas dan senimannya bertunasan. Negeri ini pun masih subur menumbuhkan benih-benih baru. 

***  

Sebuah layar putih telah terbentangkan di panggung Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Menembakkan gambar-gambar bergerak. Dua lelaki berpakaian serba putih muncul dari arah berlawanan: kiri dan kanan panggung. Mereka saling bertatapan nanar. Berdiri di sisinya masing-masing. 

Beberapa puluh menit sebelumnya, mereka melakukan performance art yang selaras dengan citraan pada layar. Menggambarkan aktivitas dan visual yang ditemukan dalam suatu perjalanan seorang pemain akoredeon dari Jakarta menuju Bandung. Di tengah-tengah panggung, seseorang yang diceritakan itu memainkan akordeon. Memusikalisasi citraan bergerak. 

Ketiga media berbeda itu menyatu menjadi sebuah pertunjukan. Sebuah kolaborasi permainan akordeon oleh Pascal Contet asal Prancis dengan interactive video art karya seniman video muda asal Bandung, Prilla Tania dan Ariani Darmawan dari VideoBabes, pada pertunjukan bertajuk Meet Mister Greet (17/11), digagas oleh CCF Bandung. Program ini juga digelar di Galeri Cemara, Jakarta (19/11). 

Pemandangan seperti itu sudah tidak jarang ditemui dalam perhelatan kesenian terkini. Di mana seni visual terinstalasikan dengan bentuk seni lain. Selain itu, masih ada ragam perhelatan yang mengetengahkan video art (seni video) sebagai karya yang dipamerkan di negeri ini, terutama di kota-kota yang menjadi barometer kesenian dalam negeri. Sebut saja, Jakarta, Jogjakarta, dan Bandung. 

Komunitas yang merawat kerja senimannya pun bertumbuhan. Di Bandung, pada tahun 2004 berdirilah dua komunitas video yakni, VideoLAB dan Videobabes. Selain itu, ada juga Bandung Centre for New Media Arts (BCfNMA) yang berdiri setahun sebelumnya. Selain komunitas, institusi kebudayaan asing seperti Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) dan Goethe Institut juga turut menyemarakkan wacana seni video. Mulai dari penyelenggaraan program reguler semacam video screening (penayangan video) beserta diskusinya, festival, workshop, hingga kompilasi karya.  

Dalam tahun 2006 saja, tercatat belasan aktivitas pameran seni video diselenggarakan di Bandung, dan puluhan lainnya tersebar di kota-kota lain. Di awal tahun, telah terselenggara Video After School Project oleh Cerahati Artworks bersama BCfNMA dan Universitas Widyatama 

Sementara itu, VideoLab secara rutin menggelar program bulanannya, Cinematic Lab, Program penayangan karya video di ruang terbuka dimana mereka mengambil tempat proyeksi di tembok kreativitas pada outlet distro 347, Jalan Trunojoyo, Bandung. Strategi ini memang diniatkan untuk menjaring publik yang sedang terjebak macet saat melintasi jalan yang kerap dipadati lalu lalang kendaraan tersebut. Meskipun pada praktiknya, jalan yang dimaksud sudah tidak sepadat itu lagi. 

Pada hari selanjutnya, karya-karya tersebut disuguhkan dalam forum diskusi Bedah Video dan Kopi Sore. Momen ini mengambil tempat di kafe-kafe, seperti di beberapa kali pelaksanaannya di Potluck Cafe. Meskipun ketiadaannya lokasi tetap, semacam basecamp setelah ruang inisiatif If Venue terpaksa harus tutup, alasan lain pengambilan lokasi ini, untuk mendekatkan akses terhadap publik.  

Semua didasarkan atas keinginan mengekspresikan diri, memberi ruang bertemu bagi sesama penyuka video dan yang berkarya dengan video, serta memberi kesempatan bagi publik untuk mengapresiasi (Pikiran Rakyat, 3/8). 

VideoLAB mencoba konsisten dengan niatnya dengan menggelar program-program tersebut hampir setiap bulan di sepanjang tahun ini. Seperti pada bulan April, saat mereka mempertemukan karya-karya dua mahasiswi dari dua kota. Mereka adalah Andi Bini Fitriani (Bini) dari ITB dan Siska Rahadiyanti (Cyka) dari ISI, Jogjakarta. 

Pada bulan selanjutnya, giliran dua seniman video dari dua kota dan komunitas. Mereka adalah Paul Agusta (Komunitas Utan Kayu, Jakarta) dan Ariani Darmawan (VideoBabes, Bandung). 

Di bulan Juni, VideoLAB melakukan kerjasama dengan komunitas ruangrupa, Jakarta, dengan menayangkan kompilasi karya video berjudul Lupita’s Collection yang dikurasi oleh Rene Hayashi, Eder Castillo, dan Mike Rodriguez dari Mexico. Di waktu yang sama, juga ditayangkan kompilasi FemLink yang berisi karya-karya perempuan dari berbagai negara termasuk Prilla Tania, seniman video dan performance art asal Bandung yang sempat ikut mendirikan VideoLAB sebelum akhirnya membentuk Videobabes bersama Ariani Darmawan. 

Program Cinematic Lab yang diniatkan sebagai program gabungan (kejasama) bulanan itu, pada bulan Juli lalu, mempertemukan karya-karya dari Dodi Mustafa (Domus) dari ITB dan Muhammad Yudi Suhairi (Gorky) dari UNIKOM. Kali ini dengan kesamaan tambahan. Keduanya merangkap kerja sebagai desainer grafis. 

Sebelum akhirnya berhasil memboyong Tintin Wulia, seniman video asal Bali yang kini berdomisili di Australia ke dalam Bedah Video dan Kopi Sore (17/11) di lokasi baru Potluck Cafe, Videolab membuat sebuah kompilasi video berjudul Bandung Time Line 2001-2006.  

Kompilasi 24 karya seni video yang lahir di Kota Bandung dari tahun 2001 hingga 2006 ini uniknya memilih 9 perempuan dan 15 laki-laki yang karya videonya belum pernah dipamerkan dalam program-program mereka sebelumnya.

Menurut Andry Mochammad (Andry Moch), salah satu pendirinya, pilihan ini untuk memberikan kesempatan bagi seniman video yang belum pernah ditampilkan oleh VideoLAB untuk memperkenalkan karyanya kepada publik. Selain ditayangkan di Embargo Cafe, Bandung (23/9), kompilasi itu juga ditayangkan di Aksara Bookstore, Jakarta Selatan (30/9). 

Kerja seperti ini merupakan bagian penting dari denyut nadi kehidupan komunitas. Selain sebagai ajang pertemuan dan perkenalan antarartis, juga membukakan akses penyebaran karya atau distribusi.

Seperti pendapat Jaka Satiawan yang karyanya, 2 Media, turut serta dalam kompilasi ini. “Sebuah kehormatan gue bisa diajak ikutan kompilasi ini dan tentunya membantu distribusi, sehingga karya gue dilihat lebih banyak orang,” tutur Jaka. “Gue pengen bilang, komunitas dan event seperti itu sebenarnya merangsang dan menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan belajar, terutama gue,” lanjutnya.  Selain Jaka, kompilasi ini juga diikuti oleh Adi Dharma ,Steve A. Gottlieb, A. Wisnumurti, Dave Syauta, Frino Bariarcianur, Firman Maulana, Yuriza Kenobhi, Riva Ramandha, Giovanni Pramudito, Achmad Krisgatha, Osman Laurs, Suharmoko, dan Toan Sindhu. Sementara generasi perempuan diwakili oleh Pujisiswanti, Mizuho Matsunaga, Victoria Catón, Rani Ravenina, Febi Beby Rose, Martina Dila Abulia, Diah Hapsari, Ira Mutiara Rahmadini, Tisa Granicia, dan Irine Stephanie. Herra Pahlasari, penggagas kompilasi ini mengatakan, ini adalah kompilasi perwakilan pekerja video dari generasi ke generasi dan karyanya yang hadir di Bandung pada tahun 2001-2006. Menurutnya, kompilasi ini akan membantu penelitian atas video itu sendiri serta pembedaan antarpekerja video berdasarkan tipe, teknik editing, gagasan, konsep, dan lain-lain. Mengutip artikel di Kompas (5/11), Krisnamurti menuliskan, proyek yang diinisiatifkan VideoLAB sebagai pendataan ini patut diacungi jempol, sebagaimana juga sejawatnya di Yogyakarta, Video Battle. Ini berguna tidak saja untuk memetakan, tetapi juga membaca lebih kritis budaya visual kita hari ini. Peta budaya visual di mana seni video termasuk di dalamnya dapat diukur dan dideteksi dari ragam acara semacam ini. Tentu saja aktivitas semacam ini membuka peluang berkomunikasi, berinteraksi antar sesama penggiat. Video Battle juga membuat kompilasi yang ditayangkan di Screen Box, Jakarta. Dandelion Song dan Beautifall, karya Muhammad Akbar, turur serta dalam kompilasi ini. Tak ketinggalan karya video musik Superhebred dari band A Stone A asal Bandung. Geliat seni video lewat perhelatannya semakin terasa di penghujung tahun 2006, baik yang berlangsung di Bandung maupun tempat-tempat lainnya. Setelah kompilasi rilisan VideoLAB itu, di Semarang berlangsung pula kegiatan serupa yakni, acara VIDIOT: Festival Video Art Belanda – Indonesia (17-19/11), digagas Lembaga Kebudayaan Belanda Widya Mitra, komunitas Kronik Filmedia, dan Rumah Seni Yaitu di kota setempat. Selain VideoLAB, dari Bandung terlibat pula Never Seen Vision dan Cerahati dalam acara pameran dan diskusi video termasuk instalasi dan musik ini. Turut pula berpartisipasi ruangrupa (Jakarta), Video Battle (Jogjakarta), dan Montevideo (Belanda).  Seni video sebenarnya mulai mendekati wilayah seni rupa di Indonesia pada akhir dekade 80-an. Namun saat itu, belum terjadi anemo dan respon besar-besaran seperti yang terjadi dalam dekade ini. Dalam kurasinya untuk OK Video (2003), Agung Hujatnikajennong menyebutkan, bahkan hingga awal dekade 90-an, lokakarya seni video yang melibatkan seniman-seniman luar negeri di Indonesia kurang mendapatkan perhatian. Pameran-pameran seni rupa yang berlangsung juga jarang membahas keberadaan medium video secara keseluruhan. Mari kita kembali ke lima tahun sebelum saat ini. Ketika tahun 2001, tercatat sebuah pameran bertajuk Wayang Machine karya Krisna Murti di Galeri Barak, Bandung. Tentunya pameran ini sebuah kelanjutan dari yang telah dirintisnya sejak tahun 1993 saat ia pertama kali menggelar pameran karya videonya yang berjudul 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai. Penyelenggaraan acara dalam wacana seni video di Indonesia yang melibatkan seniman mancanegara pun telah dirintis semenjak tahun 2002. Saat itu, lahirlah sebuah festival bernama The Bandung Film, Video and New Media Arts Festival (BAVF~NAF). Digagas oleh Krisna Murti yang kemudian dicatat sebagai pelopor seni video di negeri ini, festival itu diupayakannya sebagai respon terhadap seni video yang akhirnya mulai marak pada tahun itu. Krisna sempat meretrospeksi dalam artikel yang ditulisnya dalam Kompas, saat itu anemo publik belumlah sebesar yang terjadi pada saat ini. Katanya, “Pada kurun waktu ketika diadakan festival seni media internasional pertama di Bandung (bavf~NAF # 1, 2002) denyut nadinya masih sulit terlacak.” Tercatat puluhan karya video datang bukan hanya dari seniman lokal namun juga dari Belanda, Finlandia, Amerika serikat, Spanyol, Kuba, Inggris, dan Jepang. Saat itu, Krisna menyebutkan, “Forum itu tidak saja untuk mengukur sejauh mana seni media baru menjadi bahasa baru di Indonesia, tetapi lebih untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa teknologi di Indonesia tak hanya berarti barang konsumsi,” (Kompas, 21/8/02). Krisna mengatakan, festival itu mengetengahkan video baik dalam kanal tunggal, performance, maupun multimedia. “Video harus dilihat dalam wacana media baru biar tidak terbatas seperti another film,” lanjutnya kepada saya. Di Jakarta, sebenarnya ada festival bertajuk Animation and Special FX (AFX) di tahun tersebut. Meskipun tidak disebut sebagai festival seni video. Dimana Jaka bersama karya 2 Media itu meraih juara pertama. Festival yang baginya paling berkesan sampai saat kini itu, dikatakannya mampu membuat ia lebih terdorong untuk berkarya.  Selang beberapa bulan, tepatnya jatuh pada tahun 2003, lahirlah sebuah festival seni video bertaraf internasional yang digagas ruangrupa (Jakarta), sebuah organisasi nirlaba seniman di Jakarta. Festival ini mengikutsertakan tak kurang dari 60 karya dari berbagai negara seperti, Cina, India, Jerman, Australia, Denmark, Amerika Serikat, Finlandia, dan lain-lain.  Tema yang diangkat dalam festival dwi-tahunan itu mencakup tema-tema yang kerap diangkat seniman videonya, sesuai hasil riset yang dua tahun sebelumnya mereka jalani. Ruangrupa menemukan, selain tubuh-identitas, seniman video saat itu kerap mengangkat isu yang berkaitan dengan kebudayaan massa, ruang pribadi-ruang publik, dan politik. Pilihan bersikap mereka yang terjadi di antara perdebatan yang tetap ada tentang klasifikasi karya seni video membuat ruangrupa dinilai berani membuat terobosan langkah dan sikap yang jelas. Agung menyebutkan, di tengah perdebatan yang kompleks tentang kategorisasi dan perbedaan sifat-sifat seni media baru, pameran OK Video mengambil sikap yang jelas dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan dan konteks sosial-historis yang melingkupi wacana video art di Indonesia (Kurasi OK Video, 2003). Perkembangan seni visual di Indonesia tak lepas mempengaruhi keberadaan seni video. Selama ini, Krisna melihat, ruangrupa sangat percaya diri akan peradaban yang berkembang di dunia. Adalah kebanggaan tersendiri apabila seniman, mulai dari Afrika Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, kini dapat berpameran di Jakarta (Sinar Harapan, 2/7/03). Ade Darmawan, perancang festival, dalam pengantar kurasi menyebutkan, karya-karya yang ditampilkan akan memperlihatkan keberagaman pencapaian gagasan serta teknis dari medium video, terutama yang berhubungan dengan persoalan kebudayaan kontemporer. Selain itu, menjadi telaah praksis dan teoritis dalam melihat kolaborasinya antara seni dan teknologi.  Kegiatan ini juga diniatkan sebagai forum yang menstimulus dan memediasi interaksi antara seniman dan karyanya antarkota dan negara lewat pertemuan, kerja kolaborasi, workshop, dan presentasi karya. Wilayah ini dibukakan secara luas kepada publik manapun sekaligus memperkenalkan video sebagai medium ekspresi seni. Sebuah upaya mengajak publik melihat ulang budaya tontonan setelah sebelumnya terbangun oleh media televisi. Ade juga menegaskan, ruangrupa percaya akan pentingnya penyelenggaraan event ini, mengingat seni rupa adalah sebuah praktek budaya dan lebih jauh lagi, sebuah strategi kebudayaan. Festival dan ragam aktivitas sejenisnya tak pernah terlepas dari artists iniative groups (untuk menyebut komunitas dan kantung-kantung budayanya).  Seperti terurai di atas, jelas aktivitas seperti itu lahir dari mereka, kelompok yang sebenarnya tidak terikat secara struktural dengan lembaga-lembaga suprastruktur itu. Ini menjadi pembeda sekaligus penanda kecenderungan generasi muda saat ini dalam berkarya dan menggulirkan karya dan pemikirannya di tengah publik. Krisna pernah menyebutkan, secara sosiologis, artists initiative group merupakan fenomena infrastruktur seni setelah periode pasca-booming seni tahun 90-an yang diikuti krisis ekonomi berkepanjangan. Para pekerja generasi ini tidak pernah menikmati gelembung kemakmuran seperti generasi seniman sebelumnya yang kenyataannya berhasil membangun galeri atau museum pribadi yang mewah di berbagai kota, seperti Bandung, Yogyakarta, Magelang, hingga Klungkung di Bali. Ia menambahkan, dengan segala keterbatasannya, generasi mereka adalah para pekerja yang penuh percaya diri untuk meng-kurasi dan menyelenggarakan pamerannya sendiri, membangun ruang seni (art space) secara swadaya, membuat dan mendistribusikan informasi dan buletin (newsletter) dalam cetak low budget maupun situs web secara gotong royong hingga menjalin jaringan antarkomunitas dan institusi penyandang dana di mancanegara. Barangkali OK Video adalah sebuah contoh geliat generasi ini yang mampu membalik mitos kebanggaan go internasional bagi seniman Indonesia yang diundang dalam sebuah bienale di luar negeri. Mereka justru sebaliknya: mengundang seniman mancanegara ke festival video internasional di Tanah Air(Kompas, 1/3/05).  Penyelenggaraan aktivitas dalam ranah video juga diupayakan oleh beberapa pusat kebudayaan asing. Seperti yang pernah dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung maupun Jakarta pada tahun 2004, lewat pameran video mode bertajuk Au de la du mode (Lebih dari Sekadar Busana). Konsepnya, memamerkan karya seni busana lewat medium video. Tidak seperti halnya pada peragaan busana konvesional yang menggunakan medium pertunjukan di atas catwalk. Desainer busana kali ini berkolaborasi dengan seniman video untuk menghadirkan karya di manapun tanpa kendala jarak dan waktu lagi lewat kepingan DVD, merekam busana, ruang, peristiwa, dan melibatkan sudut pandang seniman video dalam bahasa citraan bergerak. Tidak lama berselang, pada bulan April, para cikal bakal VideoLAB saat itu mengadakan Beyond Panopticon di BEC, sebuah pusat pertokoan barang elektronik yang baru saja dibuka. Dari situ tercatat, tak kurang dari 60 kaum muda di Bandung berkerja dengan video. “Dari sisa kepanitiaan inilah, VideoLAB terbentuk,” tutur Andry.  Masih dalam tahun yang sama, menyusullah pameran Mediabaru@egroups di Galeri Lontar, Jakarta. Acara ini hasil kolaborasi komunitas dari Bandung (Jejaring, VideoLAB, Wayang Cyber), Jakarta (ruangrupa, Kasatmata, Komunitas Sinematografi IKJ), Jogjakarta (Ruang Mes 56), dan Bali (Minikino).  Agung sempat menilai, kegiatan ini seolah semakin menegaskan keberadaan genre ‘seni media baru’ (new media art) di Indonesia, menyusul maraknya beberapa event serupa yang berlangsung silih berganti sepanjang tahun 2002-2004 di beberapa kota di pelosok Jawa dan Bali (Kompas, 16/5/04). Kembali ke kota Bandung, Goethe Video Art 2004 digelar BCfNMA dimana ini merupakan program pemutaran nominasi karya video asal Jerman untuk Penghargaan Video Art Marl 2000-2002. Dalam acara tamu ini, BCfNMA menayangkan pula karya-karya video dari senimannya di Bandung, Jakarta, dan Bali. Di akhir tahun, BCfNMA mengadakan kegiatan bertajuk Video Mbeling. Konsepnya, memindahkan makna dalam bahasa puisi mbeling ke dalam narasi visual. Acara ini diikuti di antaranya oleh Andry Moch, Prilla Tania, dan Dodi Mustafa.  Pada pertengahan tahun 2005, di ITB digelar pameran Video Sculpture di Jerman Sejak 1963. Acara ini seakan berusaha memetakan seni video dari sejak dekade kelahirannya di 60-an hingga ragam generasi beserta kecenderungan karya  yang ditemui.  Pada tahun 2005, kegiatan komunitas inisiatif artis semakin kencang bergulir. Di Bandung, sebelum akhirnya tahun ditutup dengan acara video ASEF’s The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang digelar atas kerjasama ASEF’s, Common Room dan CCF, di Jakarta, ruangrupa baru saja merampungkan festival OK Video yang kedua: OK. Video SUB/VERSION Jakarta Video Festival 2005, di Galeri Nasional Jakarta. Dalam usia perjalanan yang masih relatif muda, seni video telah memperlihatkan gairah dan gejolaknya dari segelintir contoh yang disebutkan. Kini kembali ke tahun 2006, di kala penghujung. OK Video di bulan November yang lalu melakukan lawatan internasional ke negeri jiran. Dengan tajuk OK Video: Kuala Lumpur, Jakarta Video Festival in Kuala Lumpur, Malaysia, festival kali ini membuat seleksi karya dari dua periode yang telah dilaluinya. Bertempat di Galleriiizu Kuala Lumpur, terpilihlah 25 artis asal Indonesia dari 29 terpilih yang berarti terseleksi dari 90 peserta dalam kedua periode itu. 

Sementara itu, di Bandung, baru saja diselenggarakan Bandung Video Music Festival (26/12). Diikuti oleh 26 peserta dan menyeleksi 9 di antaranya sebagai yang terbaik. Rencananya, kesembilan karya itu akan dimasukkan ke dalam kompilasi. Namun, persoalan distribusi dan kelanjutannya itu, diakui Adi saat ditanyai tempo hari, belum mencapai kata sepakat. “Perlu dibicarakan lagi dengan pembuat videonya,” tutur Adi, Ketua Panitia.

Gorky, yang sempat ikut dalam program Cinematic Lab menunjukkan konsistensinya pada video dengan mengikutsertakan karya video The Milo feat. Love and Affair untuk lagu Sianida. Mendapatkan Juara III, ia merasa acara seperti ini dapat mendorong orang untuk lebih produktif berkarya. Lagi-lagi, anemo terhadap perkembangan suatu wacana datang dari publik di Bandung, termasuk seni video. Yang terlihat, gerakan video dan media baru pun dirintis di Bandung, seperti halnya pada performance art maupun puisi mbeling. Krisna pernah memberikan pandangan, perkembangan wacana seni video di indonesia umumnya masih belum marak. Barangkali karena faktor alat dan ekonomi. Tapi lucunya penggunaan kamera digital, telepon seluler, internet dan games untuk keperluan hiburan dan praktis setiap tahun meningkat. Di bandung banyak seniman muda bekerja dengan video, banyak institusi dan komunitasnya bahkan festival. Tapi sepertinya kontinuitasnya belum terjaga. Seniman muda yang mestinya menjadi penopang pervideoan seperti terjadi di korea, jepang bahkan thailand, realitasnya masih mengerjakannya sebagai pekerjaan sambilan di samping sebagai perupa. Ada institusi yang keren keren tetapi kurang menelurkan pikiran-pikiran yang mencerahkan di tengah meriahnya praktek media baru sebagai gaya hidup. Semestinya ini kesempatan bagi mereka untuk mempunyai posisi budaya yang menentukan di tengah konsumerisme budaya di saat ini (blog VideoLAB, 23/10/05). Persoalannya, kerap ada stigma bahwa kontinuitasnya takkan bertahan. Contoh paling dekat, perfilman indie (Aksara, 2000). Konteksnya, komunitas dan ruang-ruang alternatifnya. Isu ini juga pernah diangkat dalam sebuah pertemuan santai di antara penggiat komunitas seni video di Bandung tempo hari, Juli, di Selasar Sunaryo, Bandung. Dimas Jayasrana, penggiat di ruangrupa (Jakarta) pernah menyebutkan, yang terpenting adalah penguatan jejaring, komunikasi terbuka antarjejaring. Misalnya, dengan bertukar pengalaman atas persoalan dan kendala yang dihadapi. Bisa jadi, menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Dengan komunikasi terbuka, memungkinkan mencari pemecahan secara bersama-sama. Dimas menambahkan, yang tak kalah penting untuk disadari adalah niat yang dibangun saat membangun suatu komunitas. Artinya, perlu dipertanyakan dan dikaji ide, tujuan, dan kesiapan mental yang ada saat bermaksud mewujudkannya. Persoalan yang seringkali ia temukan, habisnya energi di tengah perjalanan. Menurutnya, sesuatu tidak bisa harus dicapai dalam waktu dekat kecuali sudah siap mental dan energi. Ada keinginan kuat untuk eksperimen dalam komunitas. Mereka datang dari berbagai disiplin seni dan ilmu. Suatu waktu akan terjadi bentuk seni baru minimal bahasa artistik baru,” tutur Krisna saat ditanya pandangannya tentang komunitas seni video yang bermunculan, terutama yang ada di Bandung. “Teruslah eksperimen, membuka diri , jangan cepet letoy, buktikan mereka adalah generasi produk jaman yang jelas (identitas) bukan korban jaman,” lanjutnya memberi saran dan dorongan motivasi. Sementara itu di Jakarta, ruangrupa saat ini sudah mulai berkerja untuk penyelenggaraan OK Video periode III di tahun 2007 mendatang. Dalam forum elektroniknya, ruangrupa mengabarkan rencana konsepnya. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali mendatang, mereka akan fokus pada kemungkinan intervensi karya video di tempat publik. Baik yang sudah memiliki perlengkapan penayangan maupun yang belum. Seperti, jalan, gedung, halte busway, stasiun kereta, ruang tunggu apotik, rumah sakit, mal, kafe, restoran, toko elektronik, website, tv station, tv wall, dan lain-lain. Ide ini agaknya selaras dengan apa yang Krisna ingin sampaikan kepada ruangrupa. “Seharusnya ada lagi 200 festival serupa, jadi lebih beragam dan bersaing. Ukuran seninya juga akan lebih bervariasi. Saya pernah sarankan lewat Kompas, seharusnya di OK Video mendatang jangan lagi di gedung galeri tapi di ruang publik : mall, café, jalanan, taman, di tempat dugem, disco, WC umum, di warnet-warnet,” katanya, “di mana saja orang banyak kumpul. Jangan menjaring orang (peminat) seni aja. Aksi langsung ke publik,” sarannya kemudian saat ditanya pandangannya tentang festival tersebut. Yang pasti, ruangrupa menyatakan, mereka tidak akan melibatkan kurator dengan kurasi tertentu, tetapi mereka akan melibatkan seniman, komunitas, individual dan organisasi seni dan non seni dalam berkolaborasi menyusun program bersama. Masih di kota yang sama, sebuah komunitas bernama Hello Motion juga akan menggelar kembali festival videonya, Hello;Fest IV, di tahun 2007. Festival ini berbeda dengan yang lainnya karena menggunakan fasilitas dan media internet (web) sebagai medium pameran dan interaksi karya. Lewat blog mereka, Hello Motion mengatakan, mereka menggunakan konsep festival sepanjang masa. Seakan-akan festival ini dilaksanakan setiap waktu dan setiap saat. Salah satu cara untuk merealisasikan konsep ini adalah dengan mempertontonkan melalui internet. Jika karya tersebut dapat mencapai syarat-syarat tertentu, maka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Hello;Fest Awards, Hello;Fest Roadshow, Hello;Fest Screen dan program lainnya. Tagline-nya: Festival Motion Picture Arts sepanjang masa, setiap hari terasa di Hello;Fest!   Kembali ke Bandung, VideoLAB tetap mencoba menjaga kontinutasnya dalam menjalankan program-program mereka. Muhammad Akbar yang juga penggiat VideoLAB mengatakan, komunitasnya sedang kembali menggodok program bulanan Cinematic Lab untuk tahun 2007. Rencananya, mereka akan menayangkan karya-karya video musik untuk edisi awal tahun, Januari. Sebuah saran sempat datang untuk VideoLAB. Dwi Suharmoko yang karyanya ikut dalam kompilasi Bandung Time Line 2001-2006 dan OK Video 2003 dan 2006, berharap agar VideoLAB mencoba menyelenggarakan festival bertaraf internasional. 

Sementara Krisna Murti punya pandangannya sendiri terhadap kegiatan seperti itu.

“Bagus. Komunikasi dan sosialisasi ini akan produktif dan mencerahkan. Tapi jangan cuman duduk, mengkonsumsi tontonan, begitu sampe rumah, ya, bikin karya yang dahsyat, begitu seterusnya, ditayangkan, dibahas,” tuturnya. “Itulah kebudayaan yang hidup, seniman kreatif, masyarakat jadi sehat!” lanjutnya optimis. ***

my>k

Permalink Leave a Comment

Next page »